Taksi, Transportasi Aman & Nyaman part 1


Taksi vs ojeq


Satu kata yang ada disetiap benak orang Indonesia jika sudah mendengar 'Jakarta', yaitu macet. Hanya ada sekali dalam setahun kota Jakarta menjadi lenggang di jalan, yaitu saat Idul Fitri, dimana sebagian besar warganya mudik ke kota asal mereka.

Sayangnya kemacetan ini bertolak belakang dengan aktifitas warga kota besar yang serba cepat. Jika mendengar waktu adalah uang, maka kamu bisa benar-benar lihat itu di Jakarta. Keterlambatan 10 menit, bisa berarti kamu harus merogoh kantong lebih dalam untuk menggunakan kendaraan umum eksklusif.

Mungkin bagi anda yang memiliki kendaraan pribadi, ini tidak jadi soal (walaupun tetap saja terlambat brangkat 10menit bisa jadi terlambat tiba 1jam di kantor).

Definisi kendaraan umum eksklusif yang saya maksud adalah, jenis kendaraan umum yang bersifat personal, nyaman, dan mengantar 'Door to Door'. Umumnya hanya ada taxi atau taksi, namun di Jakarta, anda bisa menemukan ojeq dan bajaj.

Kendaraan Umum Eksklusif memiliki beberapa keuntungan sendiri jika dibanding dengan kendaraan pribadi, dan apa lagi kendaraan umum bersifat masal. Keuntungannya, kamu tidak perlu repot mikir jalanan yang sudah macet mumet tsb, karena ada yang menyetir buat kamu. Kamu juga gak perlu pusing mikirin bensin. Selain itu biaya yang kamu keluarkan bisa di estimasi dari awal.

Kekurangannya sih, senyaman-nyamannya kendaraan umum, yah tetap lebih nyaman kendaraan sendiri lah coy.

Kendaraan Umum Eksklusif seperti yang sudah diutarakan di atas; taksi dan ojeq. Sebenarnya ada juga bajaj, namun jika dilihat dari ketepatan waktu sampai, jarak tempuh, juga getaran bajaj yang diluar batas toleransi kenyamanan orang pada umumnya, jadinya bajaj masuk dalam Kendaraan Umum Darurat, sama seperti grobak sampah (dipakai saat banjir).

Nah, setelah saya lima menit ngomong yang gak penting, sebenarnya saya cuma mau membagikan pengalaman pribadi saya menggunakan salah-satu kendaraan umum eksklusif (tapi sama sekali gak eksklusif) tsb, yaitu taksi.

Taksi. Kalo gak salah taksi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1960-an. Saya tahu ini dari veteran supir taksi yang pernah saya ajak ngobrol. Cuma karena saya punya masalah dengan menghafalkan nama, sehingga saya lupa armada taksi yang pertama di Indonesia itu apa. Yang saya tahu pasti taksi pertama menggunakan mobil nissan, yang waktu itu namanya Datsun.

Blue Bird (BB) sendiri mulai beroprasi pada tahun 1972 dengan jumlah armada 25 unit (sekarang mah ini jumlah yang sama dengan taksi BB yang ngetem di sebuah mall). Sewaktu dulu juga namanya bukan BB, melainkan Chandra Taksi.

Nah dibanding dengan Kendaraan Umum Eksklusif yang lain, dalam hal ini ojeq, taksi memiliki keuntungan-keuntungan sendiri, yaitu:
  • Nyaman! Yoi, ini sudah pasti. Gak perlu berpanas-panasan karena ada AC, gak perlu ikut hirup asal kenalpot di luar, dan beberapa taksi bahkan ada tape/radio di dalam kendaraannya. Selain itu kamu juga bisa tidur selama diperjalanan.
  • Daya tampung banyak. Kalo kamu hang out bareng teman-teman kamu, tentunya lebih murah dan asik menggunakan taksi, dari pada ojeq. Kebayang gak gimana tuh susahnya ngbrol sama teman kalo naik ojeq.
Walaupun demikian, taksi pun memiliki kekurangan dibanding ojeq. Kekurangannya apa saja?
  • Di Jakarta yang macet ini, merupakan kesalahan besar memilih taksi jika sedang terburu-buru. Yang ada, kamu hanya menjadi bagian dari kemacetan, ditambah harus membayar setiap menit dari kemacetan tsb. Itu menjengkelkan!
  • Dalam kondisi yang kurang bersahabat tsb (baca macet.blo), bisa jadi kamu membayar taksi lebih mahal. Karena argo taksi menggunakan dua jenis penghitungan, berdasar jarak dan berdasar waktu. Airtime argo, itu jauh lebih mahal.
  • Untuk beberapa kasus, menggunakan taksi lebih berbahaya dibanding ojeq. Mengingat beberapa modus kejahatan menggunakan taksi sebagai media untuk menjaring korbanya.

Trip: Jakarta - Bogor PP

Perjalanan saya, Kamis kemarin menuju Bogor, di warnai dengan beberapa kejadian kecil dijalan. Pagi itu, hujan lebat menguyur Jakarta. Hm sepertinya hampir setiap pagi Jakarta rajin di guyur hujan. Sungguh Tuhan amat baik. Dia memberikan hujan di pagi hari dan bukan di siang hari, kala ciptaannya yang mulia ini beraktivitas.

Saya berangkat bersama sahabt saya, Yosua. Seharusnya kami berangkat sebelum jam 6 pagi. Sayangnya dikarenakan hujan, dan salah komunikasi, maka kami baru meninggalkan Bogor pukul delapan kurang. Masih dengan mendung dan gimcik hujan.

Sebelum memasuki tol Jagorawi dari arah UKI, laju kendaraan agak tersendat. Tepat sebelum persimpangan antara masuk jalan tol dan jalan umum, terbaring sebujur mayat berterpal kuning di pinggir jalan. Tidak tahu sebab-musababnya, karena disana tidak ada atribut yang bisa menunjukan pristiwa sebelumnya. Cuma hal tsb cukup membuat ngeri -- melihat mayat di pagi yang mendung. Cocok bangat buat opening cerita misteri.

Perjalanan menuju rumah sahabat saya cukup jauh. Di karenakan setelah sampai di Bogor, masih harus di lanjutkan ke arah Parung, menuju, perum.Harco. Kami tiba disana jam sepuluh kurang sedikit. Langsung bertemu sahabat saya yang berduka ini. Hm...

Setengah sebelas, jenasa dipindahkan menuju greja. Terlambat setengah jam dari jadwal. Di banding pemakan yang pernah saya hadiri, ini untuk pertama kali saya melihat reaksi yang menolak kematian...

Tangisan, dan air mata seolah tanpa henti mengalir di pipi sahabat saya. Saya tidak tahu sudah berapa lama dia menangis, cuma pasti terlalu lama hingga akhirnya tidak sadarkan diri.

Terkdang kematian membuat hati pilu, melihat mereka yang ditinggalkan....

Entah apa yang harus dibuat. Hanya bisa membisu dalam gaungan tangis.



Tepat pukul 12 siang, saya meninggalkan prosesi. Di karnakan sahabat saya, Yosua, harus tepat berada di Ritz Carlton Sudirman pukul13.30, untuk kerja. Akhirnya mobil saya pacu dengan cepat untuk bisa kembai ke Jakarta dalam satu jam 30 menit. Saya memilih rute selatan, masuk dari Depok, menuju Kebayoran Lama, dan akhirnya Sudirman.

Setelah menurunkan Yosua, tinggallah saya sendiri di mobil, menuju Cempaka Mas. Wuih, ini perjuangan anatara hidup dan mati! Di tambah dengan kemarin, genap sudah dua malam saya tidak tidur. Dan sekarang saya ngantuk berat!

Sudah saya coba dari nyanyi-nyanyi, teriak-teriak (mulai frustasi), sampai menampar pipi sendiri (akhirnya stress). Tidak ada satupun yang berhasil mengusir kantuk.

Puncaknya di perempatan Senen. Saya dari arah Tugu Tani, berniat menyebrang menuju Cempaka Mas. Dalam kondisi menunggu lampu lalin berwarna hijau, saya ketiduran. Yak, tidur dengan nikmatnya. Tanpa merasa bersalah. Dan tentunya lama sehingga,

Saya bangun setelah kaca mobil diketuk (mungkin sebenarnya digedor), dan mendapati mobil sudah di krumuni orang -- baik pejalan kaki, pengendara mobil di belakang saya, dan polisi. Yup polisi, dan saya kira yang terakhir ini bakalan jadi masalah. (Sumpah gw gak boong! Kalo itu orang-orang gak emosi, sudah gw foto tuh).

Saya membuka kaca jendela, masih dengan mata se'pet, sambil meminta maaf karena sudah menyebabkan kericuhan. Mobil-mobil dibelakang saya -- masih dengan klakson panjang, melambung disisi kiri mobil saya sambil mengomel. Apes!

"Mas tahu gak, kalo menyetir sambil tidur itu berbahaya", tukas bapak polisi berkumis garang.

Ugh, gw kan gak sambil nyetir, itu mobil kan diem?! Cuma saya jawab, "Tahu pak".

"lalu kenapa bisa tidur di mobil, di tengah jalan ramai begini?! Kamu bikin macet mobil dibelakangmu!! (kebayang gak sih, gw tidur enak-enak, itu orang-orang dibelakang gw nungguin gw tidur??)". Belum puas sampai disitu, pak polisi berkumis garang melanjutkan, "Semua mobil di belakangmu klakson, kamu gak dengar??!".

"Maaf pak. Sebebarnya ini karena saya tidak tidur dua hari, dikarnakan orangtua teman saya meninggal. Jadi bla, bla bla...", gw mengiba dengan 'menjual' kematian orangtua sahabat saya. Hiks, sori ya Tin (tapi gw gak bo'ong loh!).

Akhirnya bapak polisi berkumis garang, melepaskan saya, dengan meperingati untuk tidak tidur di mobil. Malah di sarankan saya tidur dulu di pos polisi. Huh, mana bisa tidur disana. Apa lagi sudah shock membuat antrian panjang di lampu lalin, jadinya kantuk saya hilang -- untuk sementara waktu.

Takut di suruh tidur di pos polisi, saya memacu mobil, ngbrit dengan kenceng ke kos adik saya, di Cempaka Mas. Tiba disana saya langsung tidur dengan biadabnya, hingga keesokan harinya, hari Jumat. Udah kek orang mati aja.

Pesan moralnya: gak hanya Sikomo lewat aja yang bikin macet. Tidur di mobil kala berhenti dilampu lalin pun mengakibatkan kemacetan.

Saat Kematian sama Wajarnya dengan Apel Newton


Jam di toolbar sudah menunjukan pukul 3.15, dan bukan berarti saya tidak cape sehingga masih m'lototin notebook sampai sekarang. Sebenarnya masalahnya (bukan masalah sih) saya takut jika tidur bakalan bablas tidak bangun jam lima. Besok pagi -- saya ralat, beberapa jam lagi, saya jalan ke Bogor.

Walopun sudah ditemani kopi dan semangkok indomi, tetap gak bisa menipu cape dan kantuk. Di lain pihak, waktu terasa merayap lama. Padahal sudah coba mengisi waktu dengan membaca beberapa artikelnya mas Priyadi, dan menulis beberapa summary untuk buku dan e-artikeli.

Selain takut kebabalasan tidur, juga karena hal-hal yang terjadi hari ini. Deadline kerja, kirim barang dan cari barang hilang, ini... itu..., sampai pada hal kematian.... Ya kematian.

Kematian menjadi kenyataan yang seolah terlupakan, sampai kita terjaga dari rutinitas hidup. Sampai kematian itu benar-benar datang pada orang-orang disekeliling kita. Mungkin jika kita sendiri yang menjadi tujuan kematian, kita tidak akan pusing memikirkannya. Ya, tentu saja karena kita sudah mati. Jadi tidak perlu mikir kematian itu sendiri. Cuma akan berbeda jika kematian itu menimpa orang-orang disekililing kita, apa lagi itu orangtua kita.

Pagi dini hari kemarin, orangtua dari salah-seorang sahabat saya, berpulang ke Pangkuan Halik. Sewaktu mendaptkan sms tsb, mungkin seharusnya saya tidak perlu terlalu kaget, karena ibu sahabat saya memang sudah lama sakit. Namun, bagaimana pun wajarnya kematian datang, tetap saja mengagetkan.

Ini memang bukan yang pertama kali orangtua dari sahabat-sahabat terdekat saya meninggal. Yang pertama kali dialami kakak kelas saya di SMU. Ayahnya meninggal setelah beberapa bulan lamanya berjuang di RS. Saya sempat beberapa kali menjenguk di RS, samapi tiba watunya Tuhan memanggil. Kali kedua ayah dari sahabat terdekat saya sendiri, harus mendahului istri dan anak-anaknya untuk kembali ke Sang Pencipta. Berikutnya, masih ayah dari sahabat saya. Cuma yang ini -- dengan penyesalan sampai sekarang, saya tidak bisa datang.

Walaupun seperti yang saya bilang, ini bukan yang pertama (tentunya), cuma sampai detik ini saya masih canggung setiap menghadapi situasi seperti ini. Seribu-satu sikapku, rasanya tidak ada yang tepat untuk (bisa) mengungkapkan turut berdukaku, kepada mereka yang ditinggal. Mengucapkan kata-kata belasungkawa, sekaligus penghiburan, merupakan masalah tersendiri buat saya. Biasanya saya cuma bisa diam.

'Apakah mereka yang ditinggal siap menghadapi perubahan besar ini?', Kembali lagi sebenarnya kita sudah tahu, semua orang pasti akan mengalami situasi ini. Cuma apakah siap?

Pastinya saya turut sedih sahabat saya kehilangan orangtua. Sekalipun ada dari orangtua mereka yang tidak begitu akrab dengan saya, namun kesedihan sahabat itu sudah cukup untuk membuatku menangis. Sayangnya saya tidak mungkin memahami perasaan mereka sepenuhnya -- dan omong kosong jika saya mengatakan hal tsb, karena saya belum mengalami hal tsb -- orangtua saya belum meninggal.

Dalam situasi seperti ini, sangat wajar kalo kita sendiri jadi berpikir bagaimana seandainya salah-satu orangtua saya, atau keduanya, meninggalkan saya. . . . .


SUMPAH GAK BISA BAYANGIN!!! Membayangkannya aja sudah bikin gw merinding ngeri!!


Mungkin sama dengan mereka juga. Walaupun kematian merupakan sebuah fakta -- dan sama wajarnya dengan apel yang jatuh kembali ke tanah. Namun tidak ada yang siap menghadapi kematian sampai kematian itu datang.

Sahabatku,
sungguh aku tidak tahu bagaimana pedihnya hatimu
bagaimana rasanya ditinggal orangtua

Sungguh,
aku berduka atas apa yang menimpamu
atas apa yang kamu rasa

Sabdakan di hati
orangtuamu tidak meninggalkanmu
mereka hanya berjalan lebih dulu

Dendamku Padamu iTunes








Damn!!!


Ketikan novel gw hilang!!!! Sekali lagi, HILANG!!!!! Ketikan yang berjumlah 30 lembar ukuran kertas A4, yang berarti sekitar 60 lembar ukuran novel raib!!!!

Yang bikin saya keki setengah mati, saya sendiri yang hapus! Dan baru sadar sekarang!!! Benar-benar terlambat untuk menyesal, tapi terlalu sayang untuk gak kesal!!

Ini semua dikarenakan file iTunes pemberian temen saya, Raymond dari Bali. Dia kasih file update iTunes ke flashdisk saya yang entah dia sadari atau tidak -- gw sih curiga dia sadar-sesadar - sadarnyanya. Karena dia sirik aja gw lebih ganteng dari dia -- mengandung virus yang sangat berbahya *jeng jeng jeng...*

Karena tidak ingin menambah korban komputer-komputer lain yang sudah terlebih dahulu terkena virus ini, saya reformat tuh flash disk. Format punya format, eh lupa kalo semua dokumen novel saya ada disitu.

Sebenarnya naskah novel itu sudah hampir terlupakan, kalo bukan karena novel yang saya baca, A Death in Vienna -- yang sekarang entah harus bersyukur atau sedih sehabis baca novel ini. Seusai baca karya Frank Tallis ini, saya bergegas untuk melanjutkan kembali menulis novel saya yang setengah jalan.

Cari punya cari, saya tidak berhasil menemukan dokumen tsb. Mulai gelisah (geli-geli basah), saya coba search all .doc di flashdisk. Dan tentu saja tidak ketemu!

'Ok, jangan cemas Yud', imbuh saya menenangkan hati.

Tiba-tiba sebuah gagasan yang berlian muncul, 'Kan masih ada backup-nya di laptop'.

Ahhaa...! saya menarik nafas dengan lega. 'Betul juga'. Akhirnya saya search di My Office. Eh gak ada. Coba search di My Documments. Eh gak ada! Search di My Computer. Gak ada juga!!

'Sekarang boleh cemas Yud'.

"de...', panggil saya ke adik saya, "kok ini folder word kakak kosong?"

"Kan sudah kakak pindahin ke flashdisk semua?"

"Gak ah! Kan cuma kakak copy aja ke flashdisk. File aslinya ya tetap di laptop kan?!"

"Wew...! Kan kemarin laptopnya di format ulang. Memang kakak lupa laptop kita baru kena virus?". Iya, laptop gw baru di format ulang gara-gara terinfeksi virus dari flasdisk gw sendiri.....

DAAAMN...!!!! iTunes pembawa petaka! Keparat kau!!!

Gw dendam bangat ma iTunes!

Alhasil untuk sementara gw pakai foobar2000 di laptop, untuk mendengarkan musik. Dan gak pakai iPod. Novelnya juga harus ditulis dari awal. Cuma gw sudah setengah hati untuk memulainya dari awal. Biarkan anganku saja yang mengerjakan novelnya.

Mungkin ada baiknya juga, jadi saya bisa konsen nulis yang sekarang. Tapi tetap aja, kekinya gak ilang. Huff, udah ah, makin diingat makin keki!

tRAGEDI (sebuah tRILOGI)

tRAGEDI ULAT DI PIRING

Hari ini saya dibangunkan dengan mimpi yg tidak beretika. Itu mimpi benar-benar keterlaluan, bukannya jadi kembang tidur, ini malah bikin buang air! Saya mimpi banyak ulet di piring makan saya! Sumpah banyak bangat!!! Sangkin banyaknya, mau muntah tiap ingat!

Sebenarnya sih bukan hal yg mengherankan, karena memang saya alami hal ini beberapa hari yg lalu. Tepatnya hari Rabu. Rabu yg naas....

Seusai mengurus pembayaran kuliah adik saya yg cewe, saya beranjak menuju mall Citra Land(CL). Selain untuk membeli kebutuhan sandang-pangan buat anak-anaknya (baca: hamster please) Richard, adik saya, kami berencana untuk makan siang, dan menunggu adik saya yg cewe di CL. Sebenarnya adik-adikmu ada berapa sih?!

Banyak. Adik-adik saya ada empat, cewenya satu. Kalo kamu adiknya ada berapa? Btw gak penting deh buat bahas adik-adik disini.

Ya sudah kalo gitu, lanjut lagi. Akhirnya saya dan Rido memutuskan untuk makan di Tenda Biru. Tempat makan yg menyediakan masakan B2 -- dan ternyata gak hanya B2 aja. Sampai disana, saya memesan nasi, sayur kylan, dan kuping. Makna dengan lahap tanpa ada feeling jelek.

Eh lagi enak-enak makan (sebenarnya gak enak-enak bangat), sekelebat bayangan yg tidak diinginkan ada di sendok saya. Awalnya saya sudah gak ambil pusing. Pikir saya, 'ah pasti ini potongan jagung muda (yg biasa dibikin sayur tuh)'.

Cuma pikiran yg lain nimpalin, 'loe kan mesen kylan, mana ada sayur jagung muda??!'.

'Iya juga ya'.

Akhirnya percakapan dalam pikiran yg hanya terjadi se per ratus detik, membuat saya menghentikan sendok yg tinggal beberapa inci dari mulut, untuk memeriksa isi sendok tsb. Eh ternyata benar loh! Isi sendoknya ada ulet (atau yg diduga ulet) yg gak tau diri ngumpet di balik sayur!

'Masa sih itu ulet? Kok gak bergerak gitu??'

'Ya sudah mati dodol!!'

'Kalo gitu gak ada salahnya kan dimakan, kan sudah dimasak?'. Bener jg sih, kan sudah masak ya.

Dodol....

Akhirnya saya singkirkan tuh ulet dari sendok. Nah disini ada nih fotonya tuh ulet (habis juga nasinya??! Ck ck ck.....) Saya sengaja nyimpan nih foto buat meras Tenda Biru (apa bisa kalo dengan piring kosong gitu?? Nanti dikira doyan lagi?!) huehuehue. Jadi bagi rekan-rekan yg makan di Tenda Biru Tanjung Duren IV, waspadalah! Waspadalah!! Wasalam!!! Peringatan bagi temanku. Apa lagi dia yg suka makan disini kan ^^












tRAGEDI IMLEK

Selain tragedi ulet tsb, ada juga kejadian tragis lainnya. Kali ini terjadi pas Imlek kemarin. Ow iya, bagi yg ngerayain imlek, saya ucapka, selamat tahun baru ya. Semoga tahun ini membawakan rejeki bagi kita semua. Amin.

Ok, saya memang ikut senang kalo imlek -- bukan, bukan karena gw cina. Buta yg bilang gw cina -- tapi ada jg yg buta. Kenapa senang? Soalnya kalo imlek itu pasti hujan hehehe. Cuma jeleknya, mall tuh jadi rameeeee bangat!

Ngomong-ngomong soal buta, ternyata ada juga yg buta (bilang gw cina.red). Ini awal mula tragedi Imlek kemarin.

Sewaktu saya di ambil duit di atm CL. Rencananya, saya dan adik-adik saya mau makan malam di CL sambil ngerayain imlek (biar ngerayain, tapi gw bukan cina yak). Ada anak-anak cewe, masih kecil, yg berdiri disamping saya sambil ikutan liat ke layar atm. Dengan sok akrab.

Buseet!! Anak siapa nih?? Rasanya gw gak hamilin siapa-siapa deh?! Ok gw memang hamilin. Tapi hamster, bukan orang.

Udah gitu tuh anak-anak jadi sok akrab gitu ma gw,

"Om ambil berapa?"

"Hehehe...." sambil nyengir kuda.

"ambil 500 ribu aja om!", timpal temannya yg satu lagi. "buat bagi-bagi ke kita juga".

"Hehehehehehe......" kali ini nyengirnya makin lebar, udah gitu makin panjang ketawanya.

Gw berusaha menyelesaikan transaksi secepat yg gw bisa. Takut kalo gw salting, bisa-bisa ayan gw kambuh nih -- btw kok asbun gini?! Jadi gw-loe??!

Setelah menyelesaikan transaksi, saya buru-buru pergi. Takut kalo duit yg baru saya ambil diminta semua -- dia pikir angpo??! Dan lagi gw bukan cina!

Eh itu anak-anak masih ikutin saya -- tepatnya kami (saya dan ade-ade.red)!

"Om orang kaya ya?"

Ugh, pertanyaan yg gini-ini bikin dilema. Bukan karena saya tergoda untuk jawab 'ya'. Bukan jg karena saya benar-benar kaya. Dengan jelas terlihat bahwa mereka adalah anak-anak jalanan yg biasa mangkal di halaman CL. Dan ini bikin suasana gak enak.

Jurang kesenjangan tiba-tiba terbayang jelas dimata saya saat itu. Saya jadi terdiam pilu. Hiruk-pikuk disekitar saya mengabur, bergerak lambat. Saya sudah berniat, memutar balik untuk mengajak mereka ikut makan. Walopun mereka bukan cina, dan saya juga bukan cina tentunya, tapi kan tidak ada salahnya kalo mereka ikut menyicipi kemeriahan Imlek tahun ini. Namun hal tsb batal karena sejurus kemudian,

"Om..."

Gile, masih aja ngikutin gw!!

"Om, orang cina ya?"

??? HUAGAGAGGAGAGAGGAA.....HAHAHHAHAHAHA............
Sumapah! Gw ngakak keras bangat!!! Ade-ade gw jg ngakak keras bangat. Gile tuh anak-anak!! Buta kali, bilang gw cina?! Udah belo', kriting, item gini dibilang cina?? Gimana kalo gw putih sipit?!

Kami yg berada di hall utama CL sontak menjadi perhatian orang-orang yg ada disitu -- belum lagi ada acara di situ. Udah gitu, adik saya, Richard -- yg masih terbawa eforia -- menirukan pertanyaan anak tadi ke saya dengan suara keras. Ya, dengan suara keras. Sehingga orang-orang bisa dengar dia dengan jelas....

Sambl ngakak-ngakak, berusaha menirukan suara anak cewe tsb, "OM, OM.. OM ORANG CINA YA?". Sejurus kemudian cuma dia yg ketawa. Lebar bangat. Tanpa ada suara.

Semua mata mengarah ke dia....

Loe tau kan ini lagi imlek? It's mean banyak orang merayakannya di mall. It's mean termasuk di CL. It's mean cuma kita sendiri yg berwarna kulit gelap dikrumunan orang-orang ini. It's mean.... nightmare.

Suasana langsung senyap gitu (atau cuma perasaan gw aja). Kita langsung cepat-cepat jalan, sambil berharap, kami tidak di bacok sepulang dari sini.

(tRAGEDI BAGI YG SINGEL)

Lucunya, hari ini kakak kelas saya di SMU, akan menikah. Kenapa lucu? Soalnya saya masih ingat, dulu sewaktu masa smu, kita suka bercanda rasis gitu (ini benar-benar bercanda ya, gak ada maksud apa-apa). Yah, u knowlah, bercandaan SMU itu kan kadang suka gak meaning.

Jadi kalo saya nyapa dia, 'oi, cina!', biasanya dia nyahut, 'apa loe jawa?!'. Soalnya waktu itu latah sinetronnya Sandy Nayoan(Lupa judulnya). Itu sudah bertahun-tahun yg lalu. Ok, itu cuma 9tahun yg lalu.

Lucunya ini blog kira-kira buat dia.

Lucunya lagi, dia menikah sama orang jawa. Tapi bukan gw orangnya lah.

Dengan ini juga saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru ya Serlie -- waduh aku lupa nama pasanganmu loh?? Sori dikarnakan satu dan lain hal saya gak bisa datang hiks.



Memang aku bukan orang cina, tapi aku juga bukan jawa
Mereka memang sipit, tapi mereka bukan orang cina
Siapapun yg merayakan Imlek
Kami semua orang Indonesia
Kami mungkin tidak sama, namun ibu kami satu
Ibu Pertiwi, Indonesia Raya

Bunga Spiring telah mekar... selamat tahun baru sahabat

for Update Today

Ugh gw gak tau kenapa nih post jadi blank kek gini. Jadi kalo ada yg bisa baca tulisan ini hebat bangat hehehehe. Maksudnya ini sudah saya repost, jadi normal kok orang yang bisa baca :)

Jadi sehabis postin ini post, saya tidak langsung ngecek posting-nya. Beberapa hari kemudia baru sadar, 'kok kosong?!'.

Dengan berat hati, saya tulis kembali.

Hari ini seperti biasanya saya minta dibikinkan nescafe sachet original dan roti isi coklat kacang. Sayangnya orang yg biasa bikin lagi pulang kampung, dan yg menggantikan temannya.

Setelah lama menunggu akhirnya se-mug nescafe datang bersama sepiring roti. Iya, satu mug! Kebayang gak tuh kopi yg biasa di bikin di cangkir atau gelas belimbing, dibikin di mug?! Saya spontan nyeletuk, "kalo airnya segini, gimana rasanya mas?".

Eh dia malah nyeletuk tanpa dosa, "kalo kurang manis, nanti saya tambahin gula mas".

Bagus!

Pas saya minum, beugh. BENEREN DI KASIH GULA!! Sinting tuh orang! Roti jg jadi hal kedua yg bikin semakin jengkel. Saya minta roti isi coklat-kacang, eh dia malah kasih roti tabur coklat-kacarang. Benar-benar ditabur gitu aja loh di atas roti!

Alhasil sarapan pagi dengan cairan manis berwarna coklat dengan roti tabur yg gak jelas.

Yg melengkapi kejengkelan hari ini, YM! saya relog terus. Padahal baru habis update ke versi yg baru. Akhirnya saya reinstal menggunakan versi sebelumnya.

Ok deh, walopun jari ini, eh hari ini kesel, tapi ada beberapa hal menari yg perlu di catat. Saya habis berkunjung ke beberapa blog rekan. Beberapa dari mereka juga ada yg sedang bikin buku, malah sudah terbit awal Febuari ini. Salah-satunya Tyo. Great Job I'o!

Selain itu ada beberapa blogger baru (ada juga yg gwnya baru nemu). Salah-satunya blognya mas Emka, penulis Jakarta Undecover. Dian Sastro juga baru bikin blog. Bisa di cek disini.

Intinya saya senang berkunjung ke blog-blog orang. Bisa bikin kita juga termotivasi buat lebih giat nulis.

Ow iya, sepanjang minggu ini buku baru yg saya baca A Death in Vienna karya Frank Tallis. Latar belakang singkat, Mr Frank ini seorang psikolog klinis. Doi ini seorang penulis dan novelis. Karyanya dibuku ini bergenre misteri -- atau tepatnya cerita dektektif. Gaya berceritanya unik, detil walopun flamboyan, dan mempesona. Sangkin fanatiknya dengan Psikoanalisa, doi memasukan Sigmund Freud dalam bukunya. Malah gak tanggung-tanggung, ada dua bab dimana tokoh utamanya minta nasehat sama Freud herr.

Nanti review singkat mengenai buku ini ta' posting disini.

Ok, segini dulu ya guys. Have a great day!

Saat Kehilanganmu

Ugh,tempat sampah gw penuh dengan tisu bekas -- maaf, ingus gw. Belum batuk yg seperti orang bengek. Lengkap sudah pilek gw. Gw belum tidur dari kemarin malam (tepatnya gw lupa kapan terakhir tidur). Ya, masih digelayuti dengan ketikan di depan kompi yg udah kek cacing aja bentuknya. Secangkir kopi dan roti isi gak membantu pikiran gw tetap fokus. Pilek bikin gw jadi lemah, seperti Superman yg kena efek batu kryptone. Sampe beresin kamar aja gak bisa (yee itu mah males atuh).

Hari ini kita bahasa mp.3 aja kali ya. Soalnya ini yg nemanin gw sepanjang malam ini. Hm gw lagi denger laggu-lagunya Dygta, di album Bukan Kekasih Setia. Sebenarnya sih banyak album yg gw denger, selain albumnya Dygta ini. Cuma lagu-lagunya dia nih, yg entah gimana kok rasanya berkesan bangat di gw. Kata-katanya tuh gw bangat. Dalam artian mungkin kalo gw bikin lirik lagu bakalan kek gini. Dengan catatatn kalo bikin ya. Soalnya sampe sekarnag gw gak pernah kepikiran bikin lirik lagu, apa lagi menyanyikannya. Ya you knowlah kenapa hehe.

Dulu kalo gw lagi jatuh cinta, pasti gw akan putar lagu 'Lelaki Sempurna' buat si dia. Karena ini mirip kek puisi gw, apa lagi reff-nya. Wuih. I'm nothing without you.

Dan kek lagu 'Dua Hati', gw juga ngalami ini. Dan gw tahu kalo kita tidak bisa menerimanya dengan iklas, maka kenyataan yg akan menyeretmu dengan paksa. Dan kalo loe marah pada kenyataan, loe gak akan bisa jalani hidup yg seutuhnya.

'Saat Kehilanganmu' menjadi lagu yg buat gw merenung. Khususnya pada salah-satu kalimat di reff, '... dan kini ku terbuka mataku saat kehilanganmu...' Saat sso kehilangan sesuatu (gak hanya pacar aja loh), baru mereka sadar -- jika boleh menggunakan istilah Dygta -- baru mata mereka terbuka, bahwa apa yg mereka miliki selama ini begitu berharga. Termasuk waktu.

Saat loe jalani hidup yg gak lengkap, gak utuh, maka waktu loe akan meninggalkan loe tanpa loe sadari. Sampe tiba saatnya loe sadar, loe sudah kehilangan waktu yg berharga.

Jangan sampe saat loe belajar betapa berharganya keluargamu, teman-temanmu, pasanganmu bahkan waktumu, itu saat dimana loe kehilangan mereka.