Tadi pagi, setelah antar adik cari bis, saya sempatkan untuk joging. Memang waktu sudah menunjukan setengah enam, cuma langit masih gelap, dan jalan-jalan masih sepi. Lagi pula saya sudah lama gak joging. Kenapa sudah lama, karena niatnya mau fitness aja. Kenapa milih fitness, biar keren. Kenapa biar keren, karena memangnya situ ok kalo saya tidak keren? Udah deh, gak usah nanya-nanya lagi!
Cuma gak kesampean terus untuk fitness, karena masalah tempat gak cocok lah, gak ada instrukturnya lah, gak ada teman lah, pokoknya banyak lah-nya. Kalo dipikir-pikir kita biasanya menjalani sesuatu itu dengan alasan, namun tidak jarang juga dihambat karena alasan.
Hari ini joging tidak terlalu jauh, hanya satu kali putar komplek. Walaupun singkat, cuma banyak yang dilihat. Memang masih sepi, cuma sudah ramai (sepi tapi rame tuh kek apa sih??) dengan kedai makan yang siap-siap buka, tukang sayur yang hilir mudik, dan sesama joger (orang yang joging.mod) -- iya tau, emang maksa.
Dari belasan joger yang melintas, ketertarikan saya terusik oleh sepasang suami-istri muda. Mereka memang cuma jalan pagi, jadi gak bisa di sebut joger murni (bahas yang gak penting deh). Yang buat saya terusik karena si istri lagi mengandung. Dari bakat menebak saya, si istri hamil tua, sekitar tujuh bulan, tapi tidak kurang dari lima bulan. Dan ini anak pertama.
Loh, kok tahu anak pertama?
Iya, karena walaupun suaminya masih ngantuk, tapi dengan setia temani si istri jalan pagi.
Sama seperti waktu ibu saya mengandung anak pertamanya, saya. Ayah saya dengan setia dan rajin, menemani ibu saya untuk kontrol ke dokter.Bahkan lebih banyak ayah saya yang bertanya ke dokter di banding ibu saya yang mengandung.
Setelah mengandung adik saya yang ke dua, begini percakapan antara dokter dan ibu saya:
dokter: mana suaminya bu? Gak ikut antar?
ibu saya: ada dok. Nunggu diluar.
dokter: ow, memang biasa gitu kok bu. Kalo anak pertama, suami rajin tanya. Kalo sudah anak ketiga, suami nunggu diluar.
... Adik saya yang terakhir, lahir sewaktu ayah saya di Jepang...
Jadi untuk para istri, dan calon ibu, dihimbau jangan punya anak lebih dari dua, kecuali kalo mau pergi ke dokter sendiri, atau melahirkan tanpa ditemani suami.
Btw, sekalian saya update blog saya yang baru tapi lama (loh??). Kemarin saya mulai nulis kembali di My Story, blog pertama saya di friendster. Tulisan di buka kembali dengan judul yg sama, my story.
Alasan di aktifkan kembali blog tsb juga saya tulis disana. Yah, kita lihat sejauh mana saya bisa mengasuh tiga blog sekaligus. Ok, bagi teman-teman yang suka baca blog saya, monggo mampir ya ke My Story. Cuma ini agak berbau pribadi :)
Kamukah Kawan Ku?
Beberapa hari lalu, saya sempat ngobrol dengan teman saya. Dia bercerita pengalamannya dianggap suka sama sso hanya karena dia sering telpon dan sms. Padahal maksudnya baik, dan lagi sso itu memang butuh teman ngbrol.
Bukan hanya dia, saya pun mengalami, dimana hubungan inter-persona, dewasa ini digerakan atas kepentingan pribadi -- digantung diawan, karena dianggap hanya sebuah paradoks. Ketulusan di tanggapi dengan prasangka. Makanya tidak heran kalo ada yang mengatakan, jika ada seoarang teman lama (entah dari sd/smp/smu) menghubungi kamu, mengumbar ramah-temeh, maka kalo bukan mengajak asuransi, pasti mau ngajak forex.
Salah-satu pengalaman saya, sewaktu seorang sahabat lama saya tiba-tiba, entah bagaimana, mendapatkan no telpon saya. Saya sangat excited sekali menerima kabar dari dia, karena sudah lama tidak bertemu dan dulu kami cukup dekat. Namun diujung telpon saya harus kecewa. 'Yud, bisa ketemu gak, gw mau jelasin nih tentang sebuah investasi berjangka. Gw rasa cocok bangat nih buat loe. Loe kapan ada waktu?'.
Hari dimana saya menolak ajakannya, adalah hari terakhir saya mendengarkan kabarnya. Tidak ada sms dan maupun sekedar membalas email.
Jika sso yang tidak dikenal datang pada kamu. Sering sms, telpon atau sekedar 'say hi' by YM!. Stigma yang muncul, pasti deh ini orang mau nawarin forex, atau kalau lawan jenis, pasti deh nih cewe suka gw? (sayangnya yg terakhir ini gak mungkin buat saya, karena saya bukan cogan -- cowo ganteng).
Huh, kemana sih orang-orang? Apakah di dunia ini yang tersisa hanya boneka pencari uang saja?
Begitu juga sebaliknya, jika saya mencoba membangun persahabatan dengan sso, stigma tsb pun hinggapi pada orang tsb. Apa saya terlihat seperti sales sebuah produk? Apa saya terlihat seperti cowo hidung belang yang mencari-cari perempuan? Hei, what the hell world is?!
Where'r we really stand on? The earth? Hesitateful! I didn't saw man as i can talk with him/his. I didn't felt how soft humane dew. Just a bundle of prejudices, day over day, only prejudices.
Hubungan dilandasi atas asas kebutuhan materi, bukan lagi dengan kasih. Haruskah memang kita mengeluarkan uang agar kita di dengar? Haruskah kita membayar agar memiliki teman? Memang tidak ada yang gratis sih di Jakarta, kencing aja bayar, apa lagi teman?
Mengapa semakin bertambahnya jumlah penduduk di Jakarta, justru semakin sedikit yang bisa diajak berbicara?
Mengapa justru seiring kita dewasa, kita malah kehilangan teman?
Memang bukan hal yang mengherankan di kota metropolitan ini. Segala ketulusan dianggap sebagai siasat, dan di tanggapi dengan parasangka. Prasangka sendiri hasil dari limbah-limbah kecewa, dan kecewa adalah produk dari harapan yang patah.
Jadi mungkin karena terlalu banyak ranting harapan yang patah, sehinggah dewasa ini orang lebih suka memeliahar bonsai. Lebih praktis. Tidak repot, dan tidak sakit.
Padahal makna kawan (friend) sangan indah. Berasal dari inggris lama freond1, dari bentuk kata freon1 dalam inggris kuno, yang artinya mencintai.
Sunggukah di kota yang majemuk ini kita tidak bisa menemukan cinta? Atau masih bisakan aku harapkan itu dari kamu? Paling tidak aku berharap masih ada kata friend dalam kamus anak-anakku, generasi dibawa ku. Sehingga mereka tahu, di dunia yang semakin rusak, masih ada seberkas harapan dari seorang sahabat.
Jika persahabatan dicurigai, apa lagi lagi yg tersisa di dunia ini?
1 dikutip dari Novel Disgrace (1999) karya J.M Coetzee, halaman 149 terjemahanIndonesia (Aib-2005)
Bukan hanya dia, saya pun mengalami, dimana hubungan inter-persona, dewasa ini digerakan atas kepentingan pribadi -- digantung diawan, karena dianggap hanya sebuah paradoks. Ketulusan di tanggapi dengan prasangka. Makanya tidak heran kalo ada yang mengatakan, jika ada seoarang teman lama (entah dari sd/smp/smu) menghubungi kamu, mengumbar ramah-temeh, maka kalo bukan mengajak asuransi, pasti mau ngajak forex.
Salah-satu pengalaman saya, sewaktu seorang sahabat lama saya tiba-tiba, entah bagaimana, mendapatkan no telpon saya. Saya sangat excited sekali menerima kabar dari dia, karena sudah lama tidak bertemu dan dulu kami cukup dekat. Namun diujung telpon saya harus kecewa. 'Yud, bisa ketemu gak, gw mau jelasin nih tentang sebuah investasi berjangka. Gw rasa cocok bangat nih buat loe. Loe kapan ada waktu?'.
Hari dimana saya menolak ajakannya, adalah hari terakhir saya mendengarkan kabarnya. Tidak ada sms dan maupun sekedar membalas email.
Jika sso yang tidak dikenal datang pada kamu. Sering sms, telpon atau sekedar 'say hi' by YM!. Stigma yang muncul, pasti deh ini orang mau nawarin forex, atau kalau lawan jenis, pasti deh nih cewe suka gw? (sayangnya yg terakhir ini gak mungkin buat saya, karena saya bukan cogan -- cowo ganteng).
Huh, kemana sih orang-orang? Apakah di dunia ini yang tersisa hanya boneka pencari uang saja?
Begitu juga sebaliknya, jika saya mencoba membangun persahabatan dengan sso, stigma tsb pun hinggapi pada orang tsb. Apa saya terlihat seperti sales sebuah produk? Apa saya terlihat seperti cowo hidung belang yang mencari-cari perempuan? Hei, what the hell world is?!
Where'r we really stand on? The earth? Hesitateful! I didn't saw man as i can talk with him/his. I didn't felt how soft humane dew. Just a bundle of prejudices, day over day, only prejudices.
Hubungan dilandasi atas asas kebutuhan materi, bukan lagi dengan kasih. Haruskah memang kita mengeluarkan uang agar kita di dengar? Haruskah kita membayar agar memiliki teman? Memang tidak ada yang gratis sih di Jakarta, kencing aja bayar, apa lagi teman?
Mengapa semakin bertambahnya jumlah penduduk di Jakarta, justru semakin sedikit yang bisa diajak berbicara?
Mengapa justru seiring kita dewasa, kita malah kehilangan teman?
Memang bukan hal yang mengherankan di kota metropolitan ini. Segala ketulusan dianggap sebagai siasat, dan di tanggapi dengan parasangka. Prasangka sendiri hasil dari limbah-limbah kecewa, dan kecewa adalah produk dari harapan yang patah.
Jadi mungkin karena terlalu banyak ranting harapan yang patah, sehinggah dewasa ini orang lebih suka memeliahar bonsai. Lebih praktis. Tidak repot, dan tidak sakit.
Padahal makna kawan (friend) sangan indah. Berasal dari inggris lama freond1, dari bentuk kata freon1 dalam inggris kuno, yang artinya mencintai.
Sunggukah di kota yang majemuk ini kita tidak bisa menemukan cinta? Atau masih bisakan aku harapkan itu dari kamu? Paling tidak aku berharap masih ada kata friend dalam kamus anak-anakku, generasi dibawa ku. Sehingga mereka tahu, di dunia yang semakin rusak, masih ada seberkas harapan dari seorang sahabat.
Jika persahabatan dicurigai, apa lagi lagi yg tersisa di dunia ini?
1 dikutip dari Novel Disgrace (1999) karya J.M Coetzee, halaman 149 terjemahan
Labels:
life
Cerita Dari Teman
Gw lupa dengan pasti bagaimana awalnya, dan tentunya saat itu gw gak punya feeling akan sesuatu yang salah... yg akan menimpa gw sekarang...
Gw berada disini, setelah melewati screen gw yg pertama. IYA, GW HABIS SHOOTING. MAAAAAAAAAKKKKKK....... KENAPA GW BISA ADA DISINI???
Aduh, gw bingung bangat! Cuma bisa bengong aja mikir, gw ngapain sih disini??
Gw kerja di perusahaan penyedia layanan multimedia. Kami merupakan perwakilan dari sebuah perusahaan asing. Salah-satu content pekerjaan kami adalah membuat acara infotement (informasi dan enterteinment). Bukan gosip-gosip murahan kek Bibir Plus dan Cek&Ricek ya. Ini acara yang menghibur malah lebih berbobot dari pada gosip-gosip murahan ala tv-tv nasional. Gw emamng cewe, tapi bukan berarti semua cewe suka gosip murahan kek gitu. Apa lagi sinetron-sinetron kampring. Gw kok jadi curhat sich??
Nah, awalnya tuh temen gw dari divisi lain (gw dibagian HRD. Kalo dipikir-pikir gak masuk akal deh mintanya ke gw?!), minta tolong gw. Soalnya gak ada orang lagi dan mendesak bangat. Saat itu gw cuma berpikir, ok gpp. Ini salah-satu pengabdian gw pada perusahaan gw.
Bodohnya, seperti sudah menjadi kebiasaan gw, gw gak tanya buat apaan.
Ternyata gw diminta gantiin salah-satu artis mereka buat beberapa screen. Peran gw disitu sebagai istri yang ditinggal selingkuh suaminya, dan mencoba membalas dendam dengan ikutan selingkuh, plus acara nangis dan triak-triak ala sinetron Cahaya.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaa...................................
KEBAYANG GAK SIH LOE???!!
Gw yang sehari-hari ngurusin aplikasi dan lamaran orang dibelakang meja, denga cemilan biskuit atau coklat, dan secangkir teh manis, sambil nyanyi-nyanyi kecil, dan itu sudah bikin gw puas dengan hari-hari gw. Sekarang disuruh adegan seperti itu. Adegan pertama gw yg seperti sinetron paling gw caci-maki dan sumpah serapahin. Gw harus lakuin itu??!!!!!!! Oh Gusti Allah, kuatkan anakmu ini!!!
Gw bukan cewe yg langsing dan cantik ala sinetron ntuh. Beneran. Gw tuh masih joging tiap sore, karena berat badan gw masih kurang ideal (bukan gendut! Awas loe kalo bilang gendut??!), dan wajah gw juga biasa-biasa aja, bukan yg gimanaaaaa gitu. Semata-mata gw diminta karena gak ada orang lagi. Eh gw baru mikir, sialaan juga tuh temen gw! Gw dijadiin komoditi gak bermoral demi screens-nya, ternyata sebagai ban serep!
Ada sebuah adegan yg mengharuskan gw nangis gitu sambil berpangku tangan di atas meja makan. Terus nangisnya harus netes air matanya dan jatuh ke atas meja. Gak boleh mengalir dipipi. Aje gile nih sutradara, terobsesi sinetron sih terobsesi, tapi jangan libatin gw doong?! Kebayang gak tuh, dramatisnya? Bukan cuma adegannya aja, tapi juga sutradaranya.
Akhirnya ya gw gak bisa nangis lah! Gw udah sampe mikir kalo anjing gw mati di rumah. Cuma bukannya nangis, malah gw jadi emosi. Siapa yg berani bunuh anjing gw?? Gw pasti benci bangat sama tuh orang!!
Karena gak berhasil membuat gw menangis ala sinetron, akhirnya sutradaranya sendiri yang nangis, plus beberapa tetes air mata diatas meja. Huh, dia pikir gampang kale nangis sambil netes-netes gitu??
Selain adegan yang paling membuat gw malu itu, gw baru tahu kalo slingkuhan suami gw, bukan suami beneren tapi yg dalam film, itu PSK!! Ajegile nih sutradara?! Masa gw disamaain ma PSK?? Aaaaa.... gw harus dibayar mahal nih untuk nih screen!
Jadi kalo malam, disekitar kantor gw itu banyak perempuan-perempuan yg menjajahkan dirinya. Nah kalo siang kan mereka nganggur, jadinya di ajak lah ma sutradaranya.
Cuma ya kira-kira dong kalo ambil lawan main. Masa gw disuruh ribut ma PSK?? Harga gw sebagai perempuan kan turun.
Udah gitu tuh perempuan sok dekat lagi. Ya bukannya gimana-gimana sih, cuma gw agak risih aja kalo sama orang yang baru gw kenal dauh langsung dekat, bukan karena dia PSK loh! Selain itu kalo ngomong tuh nyebelin, ngomongnya gede gitu.
Pernah saat kita lagi istirahat makan siang, itu orang datang ke arah kita. Ngbrol sok dekat gitu. Temen yang lain sih ada yang nimpal-nimpalin, berusaha ramah, cuma gw diem aja. Setelah puas ngeliatin hape kami masing-masing, dia ngajak ngbrol lagi. Kira-kira gini percakapan antara kami dan salah-satu dari kami (SSDK)
PSK: mas2 dan mba2 suka clubbing gak?
SSDK: wah gak mba, jarang. Memang mba sering?
PSK: iya, sering. Sama teman-teman, buat ngilangin stress (gw masih bingu, dia stress apa ya?? Kok rasanya hepi gitu?). Biasanya sih saya kalo clubbing tuh minum wiski sama cipas.
Wait, wait, gw memang gak pernah clubbing, tapi gw belum pernah denger minuma yg namanya cipas?? Kami masih clingak clinguk bingung. Beberapa menit kemudian baru kami ngeh, yang dia maksud tuh chivas!
Ya olo, kenapa bisa jadi CHIVAS jadi CIPAS?!!
Setelah perempuan itu berlalu, yang lain pada ngkak dan gw cuma bisa geleng-geleng kepala. Itu yang bikin gw jengkel, ndeso aja bergaya minum chivas. Gusti, Gisti... ampuni gw.
Eh udah dulu ya, sutradara sudah triak-triak nih.
-----------------------
Ini pengalaman dari teman saya. Waktu dengar, saya sampai terpingkal-pingkal dengar kata 'cipas', what the hell is??
Btw, have a great day guys, gals....
Gw berada disini, setelah melewati screen gw yg pertama. IYA, GW HABIS SHOOTING. MAAAAAAAAAKKKKKK....... KENAPA GW BISA ADA DISINI???
Aduh, gw bingung bangat! Cuma bisa bengong aja mikir, gw ngapain sih disini??
Gw kerja di perusahaan penyedia layanan multimedia. Kami merupakan perwakilan dari sebuah perusahaan asing. Salah-satu content pekerjaan kami adalah membuat acara infotement (informasi dan enterteinment). Bukan gosip-gosip murahan kek Bibir Plus dan Cek&Ricek ya. Ini acara yang menghibur malah lebih berbobot dari pada gosip-gosip murahan ala tv-tv nasional. Gw emamng cewe, tapi bukan berarti semua cewe suka gosip murahan kek gitu. Apa lagi sinetron-sinetron kampring. Gw kok jadi curhat sich??
Nah, awalnya tuh temen gw dari divisi lain (gw dibagian HRD. Kalo dipikir-pikir gak masuk akal deh mintanya ke gw?!), minta tolong gw. Soalnya gak ada orang lagi dan mendesak bangat. Saat itu gw cuma berpikir, ok gpp. Ini salah-satu pengabdian gw pada perusahaan gw.
Bodohnya, seperti sudah menjadi kebiasaan gw, gw gak tanya buat apaan.
Ternyata gw diminta gantiin salah-satu artis mereka buat beberapa screen. Peran gw disitu sebagai istri yang ditinggal selingkuh suaminya, dan mencoba membalas dendam dengan ikutan selingkuh, plus acara nangis dan triak-triak ala sinetron Cahaya.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaa...................................
KEBAYANG GAK SIH LOE???!!
Gw yang sehari-hari ngurusin aplikasi dan lamaran orang dibelakang meja, denga cemilan biskuit atau coklat, dan secangkir teh manis, sambil nyanyi-nyanyi kecil, dan itu sudah bikin gw puas dengan hari-hari gw. Sekarang disuruh adegan seperti itu. Adegan pertama gw yg seperti sinetron paling gw caci-maki dan sumpah serapahin. Gw harus lakuin itu??!!!!!!! Oh Gusti Allah, kuatkan anakmu ini!!!
Gw bukan cewe yg langsing dan cantik ala sinetron ntuh. Beneran. Gw tuh masih joging tiap sore, karena berat badan gw masih kurang ideal (bukan gendut! Awas loe kalo bilang gendut??!), dan wajah gw juga biasa-biasa aja, bukan yg gimanaaaaa gitu. Semata-mata gw diminta karena gak ada orang lagi. Eh gw baru mikir, sialaan juga tuh temen gw! Gw dijadiin komoditi gak bermoral demi screens-nya, ternyata sebagai ban serep!
Ada sebuah adegan yg mengharuskan gw nangis gitu sambil berpangku tangan di atas meja makan. Terus nangisnya harus netes air matanya dan jatuh ke atas meja. Gak boleh mengalir dipipi. Aje gile nih sutradara, terobsesi sinetron sih terobsesi, tapi jangan libatin gw doong?! Kebayang gak tuh, dramatisnya? Bukan cuma adegannya aja, tapi juga sutradaranya.
Akhirnya ya gw gak bisa nangis lah! Gw udah sampe mikir kalo anjing gw mati di rumah. Cuma bukannya nangis, malah gw jadi emosi. Siapa yg berani bunuh anjing gw?? Gw pasti benci bangat sama tuh orang!!
Karena gak berhasil membuat gw menangis ala sinetron, akhirnya sutradaranya sendiri yang nangis, plus beberapa tetes air mata diatas meja. Huh, dia pikir gampang kale nangis sambil netes-netes gitu??
Selain adegan yang paling membuat gw malu itu, gw baru tahu kalo slingkuhan suami gw, bukan suami beneren tapi yg dalam film, itu PSK!! Ajegile nih sutradara?! Masa gw disamaain ma PSK?? Aaaaa.... gw harus dibayar mahal nih untuk nih screen!
Jadi kalo malam, disekitar kantor gw itu banyak perempuan-perempuan yg menjajahkan dirinya. Nah kalo siang kan mereka nganggur, jadinya di ajak lah ma sutradaranya.
Cuma ya kira-kira dong kalo ambil lawan main. Masa gw disuruh ribut ma PSK?? Harga gw sebagai perempuan kan turun.
Udah gitu tuh perempuan sok dekat lagi. Ya bukannya gimana-gimana sih, cuma gw agak risih aja kalo sama orang yang baru gw kenal dauh langsung dekat, bukan karena dia PSK loh! Selain itu kalo ngomong tuh nyebelin, ngomongnya gede gitu.
Pernah saat kita lagi istirahat makan siang, itu orang datang ke arah kita. Ngbrol sok dekat gitu. Temen yang lain sih ada yang nimpal-nimpalin, berusaha ramah, cuma gw diem aja. Setelah puas ngeliatin hape kami masing-masing, dia ngajak ngbrol lagi. Kira-kira gini percakapan antara kami dan salah-satu dari kami (SSDK)
PSK: mas2 dan mba2 suka clubbing gak?
SSDK: wah gak mba, jarang. Memang mba sering?
PSK: iya, sering. Sama teman-teman, buat ngilangin stress (gw masih bingu, dia stress apa ya?? Kok rasanya hepi gitu?). Biasanya sih saya kalo clubbing tuh minum wiski sama cipas.
Wait, wait, gw memang gak pernah clubbing, tapi gw belum pernah denger minuma yg namanya cipas?? Kami masih clingak clinguk bingung. Beberapa menit kemudian baru kami ngeh, yang dia maksud tuh chivas!
Ya olo, kenapa bisa jadi CHIVAS jadi CIPAS?!!
Setelah perempuan itu berlalu, yang lain pada ngkak dan gw cuma bisa geleng-geleng kepala. Itu yang bikin gw jengkel, ndeso aja bergaya minum chivas. Gusti, Gisti... ampuni gw.
Eh udah dulu ya, sutradara sudah triak-triak nih.
-----------------------
Ini pengalaman dari teman saya. Waktu dengar, saya sampai terpingkal-pingkal dengar kata 'cipas', what the hell is??
Btw, have a great day guys, gals....
'Aib' (Disgrace) by J.M Coetzee
Judul asli: Disgrace (1999)
Penulis: J. M. Coetzee
Penerjemah: Indah Lestari
Penerbit: Jalasutra, 2005
Tebal: 317 hlm (97hlm lebih banyak dari edisi asli)
Format: 15 cm x 21 cm
vintage cover
Saya baru selesaikan mambaca buku ini -- yang seharusnya sudah selesai Kamis kemarin. Kesan pertama, wuih... tanpa tedeng aling-aling, gamblang. Sebuah buku yang berisi tentang hasrat yang ditelanjangi tanpa ampun, bahkan hampir tanpa simpati. Dan bagaimana seksualitas menjadi motor, tanpa terkesan murahan.
Apa yang dilakukan David Lurie memang tidak sejalan dengan moralitas yang saya pegang. Sayangnya saya bersimpatih kepada tokoh utama buku ini, karena bagaimana pun dia jujur terhadap dirinya sendiri. Bukan orang yang mengemis dari kemurahan hati publik. Selain itu, bukannya orang harus diberi kesempatan saat mereka memetik pelajaran dari hidup, sekalipun itu sebuah aib?
Sama seperti haru, dan tawa, sebuah aib pun merupakan bagian dari hidup. Aib bukan anak tiri dari kehidupan.
Sebelum semakin bingung dengan yang sedang saya bicarakan, akan saya ceritakan apa isi buku yang berjudul AIB ini.
Berkisan tentang seorang profesor kulit putih di Universitas Teknik Cape, Afrika Selatan didakwah melakukan pelecehan seksual dan memperkosa mahasiswanya (Melanie Isaacs). Dia menerima dakwaan itu (dengan keras kepala), tapi menolak tuntutan minta maaf. Dia mengaggap hubungannya dengan mahasiswa itu sebagai bentuk cinta. Akibatnya dia dipecat secara tidak hormat.
Kehilangan jabtan dan pekerjaan, David Lurie bermaksud tinggal sebentar dengan putrinya untuk menyelesaikan karya opera. Kejadian yang lebih tragis menimpa dia dan putrinya, Lucy. Mereka dirampok orang kulit hitam (afro-american), dan memperkosa putrinya sampai hamil. Sayangnya, polemik ini menjadi lebih rumit dengan adanya masalah sosial di Afrika Selatan (Apertheid) dan tentunya nama baik Prof. Lurie yang tercoreng.
Buku ini sudah lama terbit (edisi Indonesianya 2005), sehingga banyak (beberapa) juga yang review edisi Indonesia-nya. Bisa di cek disin. Saya sendiri lebih suka reviewnya bung Anwar yang bisa di lihat disini.
Karena sudah ada ulasan lengkapnya, jadi saya tidak akan mencoba menyinggung lagi isi ceritanya. Yang ingin saya angkat disini, adalah pandangan saya terhadap buku ini.
Gaya penulisan yang, hm... lepas dari rel, membuat buku ini susah untuk disukai -- tidak swinging. Mungkin ungkapan Andersen, nuansa kelam dan arus yang tidak nyaman, adalah yang paling tapat menggambarkan alur buku ini. Ironinya, J.M Coetzee, satu-satunya (sampai saat ini) penerima dua kali penghargaan Booker Prize, membuat saya penasaran terhadapt buku ini.
Ada suatu hal yang susah diungkapkan dari penulis-penulis yang mendapat pengakuan publik secara internasional. Mereka sangat pandai menangani plot. Alur cerita tidak ada yang ganjil, dan walaupun kalimat demi kalimat susah untuk di cerna, namun tidak ada yang janggal, not a single note is false; every sentence is perfectly calibrated and essential (Publishers Weekly).
Selain itu watak setiap tokoh begitu kuat. Seolah tokoh-tokoh tersebut menari dimata saya. Ya, kamu boleh bilang saya hiperbola, tapi itu kesan yang muncul dibenak saya.
Setiap orang memiliki harsarat dalam dirinya, dan tidak berdosa memilik hasrat -- seliar apapun hasrat tsb. Tapi melemparkan kontrol sosial kita pada sebuah hasrat adalah hal yang tidak bertanggung jawab. Kita memang tidak bisa dikebiri karena hasrat yang kita punya, namun saat ego, bahkan id, menganggu hak orang lain, sudah sewajarnya superego berdiri sebagai tembok, melindungi kepentingan orang lain.
Berita baiknya, tokoh utama diakhir cerita dapat menerima aib tsb sebagai bagian dari hidupnya. Bagian yang paling saya suka, saat Lurie meminta maaf kepada keluarga Isaacs. Memang dia tidak minta maaf karena perasaannya, karena cintanya (tentu saja, cinta tidak membuat orang berdosa). Namun karena cintanya sudah menyebabkan keluarga Isaacs menderita.
- Setiap orang di takdirkan baik adanya. Jadilah orang baik, walaupun dunia menjadi tidak baik.
- Setiap orang memilik aib, yang membedakan sampai sejauh mana hal itu bisa disebut aib.
- Aib tidak membuat oran menjadi hina, hanya membuat orang belajar lebih banyak tentang hidup.
SE M600i wFreak!
Dewasa ini hand phone (yang lebih populer dengan istilah 'hape') bukan lagi menjadi barang mewah. Tidak seperti empat tahun lalu, yang punya hanya orang gedongan, saat ini hape sudah menjadi sebuah kebutuhan penduduk metropolitan. Sudah tidak heran lagi jika saat ini kita menemukan tukang becak maupun pemulung menggenggam sebuah hape. Ya, pemulung. Mungkin mereka mubutuhkan hape untuk menghubung iteman-teman mereka jika ada spot yang bagus untuk mulung. Sayangny beacukai tidak melihatnya sebagai barang yang mendatangkan nilai tambah, namun sebaliknya sebuah barang mewah (Buseet!! Kalo hape barang mewah, lantas notebook apa doong??).
Terlepas dari perdebatan bahwa hape barang mewah atau tidak (lagi pula bukan itu tujuan gw nulis nih blog), saya akan memperkenalkan hape saya. Sebuah hape, yang cantik (istilahnya mas Ridho, cewe cantik yang bikin semua cowo menengok) :D
Histori saya menjatuhkan pilihan pada hape ini, karena saya iFreak dan White Freak. iFreak, karena saya gandrung dengan produk-produk Mac, yang berwarna putih (wFreak). Sebelumnya saya menggunakan SE P990i, yang notabene lebih canggih secara kemampuan. Sayangnya P990i ini tidak ada yang warna putih. Selain itu, iPhone yang tercatat 'menang gaya' aja, tidak membuat iFreak dan wFreak terpenuhi dalam batin (tsah.. bahasa gw udah kek kuda lumping gini).
Sampai akhirnya saya menemukan M600i warnah putih, yang begitu mempesona. M600i begitu bersinar, dan cemerlang dianatara yang lain. Seolah semua hal disekeliling gw mulai pudar, dan berganti dengan gerakan slow-motion ala Matrix (ck ck ck...)
Ya akhirnya diputuskan untuk menukar P990i saya dengan M600i. Memang harus ditebus dengan:
- tidak ada kamera (that's all right, i didn't really think phone camera can change digicam)
- tidak ada kamera sekunder (I rare to use it. Voices is good enough.)
- dan tidak ada wifi (Huaa... i start to cry for this one. Very regrettable.) Ok, ini masih bisa ditolerir karena ada laptop yang bisa wifi (but not really wipe my regret).
Namun hal yang saya dapat adalah hape cantik berwarna putih (pretty white! Pretty slim!):
- daya tahan batre yang lama -- bisa lebih dari dua hari(Of course! Without camera, battery will be safe)
- kerja office yang setabil, terima email (more than just a little, i can post my blog/posting with 'whity', wherever!)
- koneksi internet yang stabil
- keypad qwerty yang sangat-sangat membantu saat ngetik email dan blog yang panjang-panjang (yeah i know, on P990i we get it too). Bentuknya qwerty-nya satu tombol untuk dua huruf, dan ini bisa digunakan bagi orang-orang yang memiliki jari-jari besar (this one i really mean)
- dan M600 rasa iPhone! (GREAAT!)
Yang terakhir ini yang ok bangat! Selain mendapatkan wFreak, saya juga bisa terhibur dengan M600 ala iPhone ini. Ok, memang masih jauh berbeda, tapi bisa dilihat bahwa M600i pun tidak akan beda jauh dengan iPhone. Cek disini.
Walaupun belum dapat software TWUIK, namun dengan perubahan icon-icon M600i saya seperti iPhone, itu sudah cukup melipur lara :D
Kelebihan M600i (saya) dibanding yang lain:
- warna putih! Hehehe soalnya banyak yang lebih suka warna hitam kan. Dengan icon ala iPhone.
- acc gmail dan yahoo terintegrasi dalam messaging.
- push mail
- posting dan reposting blog dimanapun juga
- Feed berita
- Messenger: eBuddy (YM!, MSN). Mau coba pakai agille messenger, cuma belum dapat crack-nya^^
Btw sori fotonya agak blur dan kurang jelas. Maklum, motonya buru-buru menggunakan kamera W700.
Labels:
review
24 Hour Analog Watch
Pertama kali, sewaktu menambahkan elemen jam di blog, saya sempat bingung dengan jam yang di tampilkan. Setelah mengamati dengan seksama, baru saya mengerti.
Ini jam 24jam, bukan seperti jam analog 12jam lainnya. Ok, bagi yang sudah tahu, tidak usah meneruskan membaca posting ini, lanjutkan dengan posting saya yang lain ;)
Analog 24jam tidak sama seperti 12jam yang memiliki interval 10strip setiap jamnya. Pada analog 12jam, dimulai dengan angka 12, dan diikuti angka 1, 2, 3, ... begitu seterusnya sampai kembali lagi pada angka 12 di atas. Jaran antara, 12 ke 1, ke 2, ke 3, ... adalah 10 strip/ 10 detik/ 10 menit.
Sedangkan pada analog 24jam, biasanya dimuali dari angka 24 (diatas), diikuti 1, 2, 3, ... begitu seterusnya. Yang berbeda adalah pada intervalnya. Dalam analog 24jam, interval setiap jamnya adalah lima strip/ lima detik/ lima menit -- setengah dari analog 12jam.
Sehingga saat jarum jam berada di setengah lingkaran sebelah kanan, menunjukan waktu 00 s/d 12 siang (AM). Sedangkan setengah lingkaran sebelah kiri, menunjukan pukul 12 s/d 24 (PM).
Jarum yang menunjukan menit maupun detik dalam analog 24jam tidak ada perbedaan dengan analog 12jam. Satu putaran penuh jarum menit menunjukan satu jam, dan satu putaran penuh jarum detik menunjukan satu menit.
Contoh, pada gambar jam di atas, menunjukan pk 09:48:10 AM. Sedangkan jika sekilas (paradigma analog 12jam), gambar tsb menunjukan pk 04.48.10 (AM/PM??)
Apakah sistem analog 24jam dapati diterapkan pada analog 12jam?
Awalnya saya pun berpikir demikian. Namun sayangnya tidak bisa. Dalam analog 12jam, saat jarum menit menyelesaikan satu putarannya, jarum jam pun bergeser 10 strip, yang itu berarti dua jam dalam analog 24jam.
Hm sebenarnya saya juga lagi nyari jam tangan analog 24jam. Ada yang bisa kasih informasi?
Labels:
ngeblog
Dari Kata-kata Tabuh, sampai Cerita Dante
Hm sudah sepuluh menit di depan lembaran putih blog, dan gak tahu mau nulis apa.
Pernah gak para bloggers merasa bingung mau ngeblog apa? Rasa-rasanya pengen nulis, tapi gak tahu nulis tentang apa. Seperti blog fivestroke -- yang notabene berisikan hal-hal mengenai drum, juga belum ada kelanjutannya.
Kalo untuk blog yang satu itu, memang lebih berat dari pada personal-blog ini. Dikarenakan bahan-bahan tulisan yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Di blog tsb, gak bisa asal ngomong aja, karena entah kenapa praktisi musik itu, bisa lebih bawel dari pada musik yang mereka mainkan. Oops sori, gak bermaksud menyinggung apa lagi kurang ajar sama rekan-rekan senior , cuma sekedar mengeluarkan uneg-uneg :)
Sebenarnya bahan tulisan blog bisa muncul dari dan di-mana saja. Obrolan di kantor, kopi tubruk yang kita nikmati, sampai pada kejadian-kejadian aktual lainnya. Sayangnya tidak serta-merta setiap saat kita bisa menuangkan ide-ide atau gagasan tsb dalam kerangka jurnal maya ini. Butuh sebuah greget, dan mood yang baik.
Aah, jadi sekarang mood yang disalahkan?
Padahal kata ini sama haramnya seperti kata 'sibuk' dalam kosa-kata saya. Kenapa?
Menurut saya, kata 'sibuk' seharusnya tidak pernah ada dalam perbendaharaan kata manusia. Sederhananya, Tuhan, yang begitu padat rutinitasnya (mengurus dunia beserta isinya, belum lagi hal-hal di luar dunia ini), masih bisa mendengar dan menjawab doa kita yang mengusik telinga-Nya setiap hari, dan tidak pernah terlontar kata, 'Maaf hamba-Ku, tidak lihatkah kau, Aku ini sibuk?". Eh ini manusia, dapat dari mana kata 'sibuk'??! Sampai-sampai sering menjadi dalih untuk mengorbankan hal-hal yang lebih luhur.
Nah mungkin itu alasan kenapa manusia memetik kata 'sibuk' dari ladang individualisme: untuk menjadi dalih bagi sesama.
Begitu juga dengan 'mood'. Sering kali banyak penulis, atau sebutlah segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan rasa, menjadikan 'mood' sebagai acuan maupun kambing hitam dari (baik/buruk) rasa mereka. Padahal menurut beberapa pakar di bidang masing-masing (dan saya sependapat dengan mereka semua yang sependapat dengan saya), alasan ini hanya (kembali lagi) dalih bagi mereka yang tidak mampu mendisiplinkan diri mereka atas apa yang mereka kerjakan.
Ahh, seperti tertemplak rasanya. Ini mungkin menjawab kenapa saya tidak menemukan ide untuk menulis blog -- karena saya tidak disiplin terhadap diri sendiri untuk menulis blog. Maafkan aku wahai para leluhur blog, dan para dewa-dewa yang menaungi blogers.
Ok, kita mulai. Pagi ini hujan *bassi!*
Iya, hujannya sudah dari tadi subuh *itu juga orang lain tau! Gak usah di masukan di blog!!*
Ugh... jadi nulis apa doong?? *udah, mending gak usah nulis aja* Ok deh.

On a different note, saya baru beli dua buku baru -- damn! Padahal masih ada dua buku (berbahasa) asing dan satu buku jurnalistik (baca:buku orang tua) yang belum selesai dibaca. Eh ini beli buku lagi?! Huff... Terkadang suka stress sendiri dengan prilaku yang konsumtif terhadap buku (bahkan gw pernah lewatin angka 1juta dalam sebulan untuk beli buku doang! Buku doaang!!). Some one please help me...!!!!
Anyway salah-satu dari buku-buku yang saya beli adalah Cerita Dante-Stefani Hid,penerbit Grasindo. Btw saya penasaran, apa memang nama 'Hid' di belakang Stefani memang nama asli (kalo iya, artinya apa?), atau itu nama pena dari Stefani? Soalnya kalo itu nama pena, saya juga kepikiran untuk mengganti nama saya kalo (kalo??) sudah menjadi penulis. Seperti Johanes Pitt, atau mungkin Brad Juda. Cool!! *obsesi menjadi Brad Pitt*
Anyway, saya memang baru baca sampai pertengahan. Cuma sampai sini, pendapat saya kok, ini buku.... jenuh bangat bacanya! Seolah ini buku narasi, dan kita hanya menonton konflik bisu. Ok mungkin sayanya yang terlalu cetek wawasannya. Tapi mana ekspresinya?! Ekspresinyaa??!!!! Masa kita cuma dengerin orang bernarasi?? Jadi ingat cerpen-cerpen yang biasa kita temui di tabloid Ananda (??) -- sori.
Cuma kalo dilihat dari karya-karyanya, Stefani ini memang orang hebat. Dengan usia se-dini dia, yang dia kerjakan lebih banyak dari kebanyakan orang yang sudah hidup lebih dini dari dia. Good work Stef!
Pernah gak para bloggers merasa bingung mau ngeblog apa? Rasa-rasanya pengen nulis, tapi gak tahu nulis tentang apa. Seperti blog fivestroke -- yang notabene berisikan hal-hal mengenai drum, juga belum ada kelanjutannya.
Kalo untuk blog yang satu itu, memang lebih berat dari pada personal-blog ini. Dikarenakan bahan-bahan tulisan yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Di blog tsb, gak bisa asal ngomong aja, karena entah kenapa praktisi musik itu, bisa lebih bawel dari pada musik yang mereka mainkan. Oops sori, gak bermaksud menyinggung apa lagi kurang ajar sama rekan-rekan senior , cuma sekedar mengeluarkan uneg-uneg :)
Sebenarnya bahan tulisan blog bisa muncul dari dan di-mana saja. Obrolan di kantor, kopi tubruk yang kita nikmati, sampai pada kejadian-kejadian aktual lainnya. Sayangnya tidak serta-merta setiap saat kita bisa menuangkan ide-ide atau gagasan tsb dalam kerangka jurnal maya ini. Butuh sebuah greget, dan mood yang baik.
Aah, jadi sekarang mood yang disalahkan?
Padahal kata ini sama haramnya seperti kata 'sibuk' dalam kosa-kata saya. Kenapa?
Menurut saya, kata 'sibuk' seharusnya tidak pernah ada dalam perbendaharaan kata manusia. Sederhananya, Tuhan, yang begitu padat rutinitasnya (mengurus dunia beserta isinya, belum lagi hal-hal di luar dunia ini), masih bisa mendengar dan menjawab doa kita yang mengusik telinga-Nya setiap hari, dan tidak pernah terlontar kata, 'Maaf hamba-Ku, tidak lihatkah kau, Aku ini sibuk?". Eh ini manusia, dapat dari mana kata 'sibuk'??! Sampai-sampai sering menjadi dalih untuk mengorbankan hal-hal yang lebih luhur.
Nah mungkin itu alasan kenapa manusia memetik kata 'sibuk' dari ladang individualisme: untuk menjadi dalih bagi sesama.
Begitu juga dengan 'mood'. Sering kali banyak penulis, atau sebutlah segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan rasa, menjadikan 'mood' sebagai acuan maupun kambing hitam dari (baik/buruk) rasa mereka. Padahal menurut beberapa pakar di bidang masing-masing (dan saya sependapat dengan mereka semua yang sependapat dengan saya), alasan ini hanya (kembali lagi) dalih bagi mereka yang tidak mampu mendisiplinkan diri mereka atas apa yang mereka kerjakan.
Ahh, seperti tertemplak rasanya. Ini mungkin menjawab kenapa saya tidak menemukan ide untuk menulis blog -- karena saya tidak disiplin terhadap diri sendiri untuk menulis blog. Maafkan aku wahai para leluhur blog, dan para dewa-dewa yang menaungi blogers.
Ok, kita mulai. Pagi ini hujan *bassi!*
Iya, hujannya sudah dari tadi subuh *itu juga orang lain tau! Gak usah di masukan di blog!!*
Ugh... jadi nulis apa doong?? *udah, mending gak usah nulis aja* Ok deh.
On a different note, saya baru beli dua buku baru -- damn! Padahal masih ada dua buku (berbahasa) asing dan satu buku jurnalistik (baca:buku orang tua) yang belum selesai dibaca. Eh ini beli buku lagi?! Huff... Terkadang suka stress sendiri dengan prilaku yang konsumtif terhadap buku (bahkan gw pernah lewatin angka 1juta dalam sebulan untuk beli buku doang! Buku doaang!!). Some one please help me...!!!!
Anyway salah-satu dari buku-buku yang saya beli adalah Cerita Dante-Stefani Hid,penerbit Grasindo. Btw saya penasaran, apa memang nama 'Hid' di belakang Stefani memang nama asli (kalo iya, artinya apa?), atau itu nama pena dari Stefani? Soalnya kalo itu nama pena, saya juga kepikiran untuk mengganti nama saya kalo (kalo??) sudah menjadi penulis. Seperti Johanes Pitt, atau mungkin Brad Juda. Cool!! *obsesi menjadi Brad Pitt*
Anyway, saya memang baru baca sampai pertengahan. Cuma sampai sini, pendapat saya kok, ini buku.... jenuh bangat bacanya! Seolah ini buku narasi, dan kita hanya menonton konflik bisu. Ok mungkin sayanya yang terlalu cetek wawasannya. Tapi mana ekspresinya?! Ekspresinyaa??!!!! Masa kita cuma dengerin orang bernarasi?? Jadi ingat cerpen-cerpen yang biasa kita temui di tabloid Ananda (??) -- sori.
Cuma kalo dilihat dari karya-karyanya, Stefani ini memang orang hebat. Dengan usia se-dini dia, yang dia kerjakan lebih banyak dari kebanyakan orang yang sudah hidup lebih dini dari dia. Good work Stef!
Langganan:
Postingan (Atom)