Tekad dan Kesungguhan Hati
Inti obrolannya adalah, selagi masih muda, kerjakan apa yg kamu suka, dan pelajari apa yang kamu suka. Jangankan pikirkan untung-ruginya, termasuk gaji atau uang yang didapatkan. Pikirkan saja, bagaimana melakukan yang terbaik dari apa yang kita lakukan saat ini.
Tujuannya apa? Gak beda jauh dengan yang pernah saya singgung juga di beberapa posting saya di blog ini, agar kita menjadi sempurna di dalam penciptaan. Kalo mengambil kalimat om tsb, agar kita bisa tersenyum puas dengan apa yg kita kerjakan saat kita meninggal nanti.
Sebenarnya juga bukan hasilnya yang membuat kita bangga, namun tekad, dan kesungguhan hati saat menjalaninya. Hasil dari proses tsb adalah reward-nya, dan uang yang (mungkin) kita trima adalah bonusnya. Sedangkan prosesnya, ada kepuasan.
Jika uang yang kita cari dalam pengembaraan kita di dunia, saat kita menutup mata, dan mengingat seberapa banyak uang kita, toh akhirnya uang tsb kita tinggalkan. Dan berani bertaruh, uang tidak akan membuat kita menutup mata dengan senyum.
Jika keberhasilan demi keberhasilan yang sudah kita pegang untuk membuat pengembaraan kita berakhir dengan lega, itu pun saya rasa bukan. Kenapa? Karena sebanyak keberhasilan yang sudah kita tuai, di belakanganya lebih banyak lagi kegagalan yang mengiringinya.
Saya sendiri merupakan orang yang jarang gagal, atau paling tidak itulah yang saya yakini, sampai tibalah tahun lalu. Buat saya, tahun lalu adalah lembah kegagalan saya; lembah terjauh yang pernah saya lampaui.
Tapi saya belajar banyak; bahkan kegagalan pun merupakan guru bagi orang yang berlapang dada. Justru dengan kegagalan, membuat saya menyadari bahawa saya manusia, dan bahwa saya membutuhkan Tuhan atas hidup saya.
Kesungguhan hati.
Menurut saya, ini lah yang membuat kita tersenyum akhirnya saat menutup mata. Saat kita sadar setiap hari kita lalui dengan kesungguhan hati, tidak ada kesia-siaan dalam hidup kita. Bahkan saat kesia-siaan tsb mengajarkan sesuatu untuk kita, kesia-siaan kembali menjadi kepingan yang berharga dalam hidup kita.
Bahkan sekalipun kamu hanya memungut gelas plastik, atau menyapu jalanan yang esok kembali kotor, itu pun akan jauh bernilai saat kita melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Ok, saya memang tidak bisa menjamin dengan kesungguhan kamu tidak kelaparan, atau kamu tidak kekurangan uang. Hal tsb pasti (kemarin, sekarang, atau besok) akan kamu rasakan. Tapi, mati dengan perut kenyang tanpa hasrat, bukan impian dari kita bukan?
Tanamkan tekad, dan lakukan dengan sungguh hati, maka hari ini -- bukan besok -- kamu akan sudahi dengan perasaan puas.
Ow iya, sampai sekarang saya belum sempat menanyakan nama om tsb.
Membaca dan Menulis
Soalnya banyak yang komplain. Ok deh, sebenarnya cuma dua orang yg komplain. Apa sehabis nulis blog, gak di cek?
Sudah saya cek kok (yang maksudnya cuma sekali lihat dengan cepat), cuma entah mengapa terkadang masih saja terlewatkan. Akhirnya, saya sendiri mencoba menganalisa kesalahan saya, dengan tingkat ke-sotoy-an ala psikolog -- soalnya ada yang bilang kalo psikolog itu sotoy semua.
Akhirnya ada satu teori yang mendekati kebenaran dari masalah ini (atau setidaknya begitu yang saya pikir).
Saya ingat-ingat kembali, ternyata sewaktu SD dulu saya tidak suka mengeja. Alih-alih malah membacanya langsung. Waktu itu, menurut saya, bodoh sekali jika harus membaca dengan mengeja. Saya pikir saya cukup pintar, tapi nyatanya justru menuai kekeliruan yang cukup mengganggu saat ini.
Karena mambaca dalam konteks saya, bukan untaian huruf yang membentuk kata, namun sekilas huruf yang membentuk kata. Memang dalam membaca, hal ini membuat saya lebih cepat menyelesaikan sebuah buku. Namun saat saya menuliskannya, malah salah-salah.
Gak hanya kamu kok yang komplain, editor saya mungkin sebenarnya juga sudah nangis disana, mengoreksi kesalahan-kesalahan saya hahahaha.
Sebenarnya tidak hanya dalam membaca dan menulis, kita pun sering malas melewati tahap demi tahap dalam belajar. Keinginan hati langsung bisa, tanpa adanya proses; melihat hasil dari pada prosesnya. Sayangnya proses -- walaupun sepele -- itu yang membedakan hasilnya.
Jadi, tolong koreksinya ya kalo ada kesalahan penulisan :D
Ow iya, gimana nih penempatan di yang benar? ^_^
Puisi vs Prosa
Beberapa waktu lalu saya sempat lihat di sebuah forum yg memiliki thread tentang kumpulan puisi anggotanya. Ada juga beberapa blog yg mengatasnamakan puisi. Namun setelah di baca, isinya tidak jauh berbeda dari narasi, atau -- dalam bentuk seni tertulis lainnya -- disebut prosa.
Ya sah-sah saja sih untuk mengatakan karya mereka puisi, hanya sebijaknya, sebelum kita memakai sebuah atribut, kita perlu mengetahui dengan pasti atribut tsb.
Puisi dan prosa, merupakan bentuk seni tertulis, yg memiliki perbedaan sekaligus persamaan.
Ciri-ciri puisi,
- menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya tambahan, atau selain arti semantiknya
- wujud estetika bahasanya dengan pengulangan yg disengaja
- memiliki meter dan rima
- dapat memiliki satu kata/satu suku kata
ciri-ciri prosa,
- memiliki ritme yg lebih besar dari puisi
- bahasanya lebih sesuai dengan arti leksikalnya
- memiliki bentuk yg bebas
- lebih berterus-terang (prosa=terustrrang, latin)
Coba kita cek sepenggal puisi dibawa ini (paling tidak itulah yg dikatakan pemiliknya). Di ambil ini dari sebuah forum.
karna cinta itu sungguh tak egois
karna cinta itu sungguh memahami
karna cinta itu sungguh tak menyakiti
ia hanya memberikan warna indah dalam hitam putih hidupmu
ia hanya memberikan nada-nada dalam film bisumu
ia hanya memberikan sinar dalam kegelapanmu
Apakah ada pengulangan? Ok, ada. Apakah ada bahasa estetikanya? Tarohlah, ada -- karena nilai sebuah estetika itu relatif. Tapi adakah makna tersembunyi dari puisi ini? Sori, saya tidak lihat. Menurutku ini hanya majas Antropomorfisme. Selain itu saya tidak lihat hal lainnya, mungkin kamu lihat? Apakah jg ada meter dan rima? Itu jg tidak saya temukan, yg ada hanya rima.
Lantas puisi itu yg bagaimana?
Saya coba interpretasikan puisi diatas dalam bingkai puisi,
cinta,
melepas aku, membelah ingin
melepas bingung, bercampur heran
melepas benci, membalut hati
cinta mu,
bermandi cahya dalam warna
nada dalam simfoni jiwa
sulur temeram tergeletak jejak
hanya ada mu dalam cinta
Perhatikan rima dalam kedua bait puisi tsb yg A-A-B (soalnya hanya tiga baris dalam masing-masing bait). Mungkin saya kurang pandai untuk mengolah kata, tapi perhatikan jg makna semantik dari setiap kalimatnya. tentunya semuanya tidak bermakna lugas. Permainan kata adalah yg terbaik dalam menyamarkan makna.
Bukan bermaksud menggurui, tapi setidaknya kita mengerti apa yg kita tempelkan dalam seni personal. Saya sendiri, penikmat puisi, mau dan masih belajar tentang puisi.
Puisi itu seperti cinta pada pandangan pertama; saat kamu baca puisi tsb, kamu langsung suka dengan puisi tsb (walopun mungkin gak tau maknanya).
Puisi itu menyisahkan makna tanpa kata dalam nurani, saat selesai membacanya. Puisi tidak perlu kamu mengerti (karena untuk mengerti, perlu interpretasi; interpretasi yg baik perlu pengetahuan sastra yg baik). Puisi hanya perlu di baca dan dicintai.
Namun jika kamu selesai membaca sebuah puisi, dan yg tertinggal hanya kata-kata, berarti puisi tsb bukan utk pintu hatimu.
Vienna Blood
Penulis: Frank Tallis
Penerbit: Qanita
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Tebal: 581 halaman
Ini buku kedua Frank Tallis dari serial The Liebermann Papers. Bergenre mystery & thrillers. Masih dengan latar Vienna 1902, dokter muda Max Libermann dan inspektur Oskar Rheinhardt. Frank Tallis sendiri adalah seorang Psikologi Klinis, dan pengajar di Institute of Psychiatry dan King's College London dalam bidang psikologi klinis dan neurosains.
Vienna Blood bercerita mengenai pembunuhan (lagi) yang terjadi di Wina. Kali ini Frank mengisahkan tentang pembunuhan berantai yang korbannya didasarkan pada penokohan The Magic Flute, karya Wolfgang Amadeus Mozart.
Korban pertama adalah seekor anakonda yang terpotong menjadi tiga bagian, serupa dengan tiga bagian naga yang terpotong dalam pembukaan The Magic Flute. Setelah itu Madam Borek beserta tigak pembantunya mati dengan cara yang mengenaskan. Belum sampai disana, seorang negro mati, dan seorang Ceko penjual burung. Vienna di banjiri darah pembunuhan berantai.
The Magic Flute sendiri merupakan opra dengan tokoh-tokoh Ratu Malam bersama tiga dayang, Papageno si penangkap burung yang dihukum karena berbohong, Monostatos yang berkulit gelap, ada pula Pangeran Tamino, Pamina, Sarastro yang bijak, Juru Bicara Kuil... dan ada juga anak-anak. Dengan begitu ini baru awal dari pristiwa berdarah tsb...
Detektif kita, Oskar, dibuat kebingungan. Max dengan deduksinya berusaha mengungkap kejahatan yang berutal ini. Namun disaat pembunuhan ini menyita pikirannya, justru pertunangannya dengan Clara Weiss terancam.
Jika London memiliki Jack the Ripper, Wina memiliki Salieri.
plus
- + bagi orang-orang yang suka cerita detektif ala Hercule Poirot, ini bisa jadi novel berikut yang akan menjadi favoritmu.
- + buat saya pribadi, yang menarik justru munculnya tokoh Psikoanalisa, Sigmund Freud dan Albert Adler dalam The Liebermann Papers. Bahkan dikisahkan herr Freud merupakan idola Max Liebermann.
- + Frank Tallis bahkan mengumpulkan risetnya dari seluruh penjuru dunia, untuk membuat novelnya sedetil mungkin. Bahkan berkorespondensi dengan Tram Museum untuk 'sekedar' mengetahui sistem trem di Winna kala itu.
- - saya pribadi kurang begitu suka ending dari novel-novel Frank Tallis (a Death in Vienna dan Vienna Blood). Akhir dari novelnya kurang klimas, dan terkesan datar. Mengingatkan saya pada JR Tolkien, penulis LOTR. Walaupun jenius, dan pandai mengolak ditel, namun jelek dalam membuat ending (walaupun Frank Tallis masih lebih baik sih).
- - kalo yang ini mungkin bocoran dikit bagi yang belum baca. Saya pribadi sangat menyesal saat Max membatalkan pertunangannya dengan Clara. Ah, pria tolol! Yang namanya perasaan, mungkin benar tidak bisa dibohongi, tapi komitmen tidak bisa di nodai hanya dengan alasan perasaan kan? Itu ini juga, yang mau tidak mau, membuat saya menyukai tokoh Max. Dia hanya seoarng pria yang tolol, yang tentunya jauh dari sempurna. Bukan seperti tokoh novel lokal kan, yang selalu digambarkan, sempurna *sinetron kali?!*
paskah
Johanes P
+62 817 10 1316
johanesjuda.blogspot.com
fivestroke.blogsopt.com
_____________
This mail sent by Sony Ericsson M600i
World Silent Day 2008
Nah, kalo kamu salah-satu yang jawab begitu, berarti kamu masuk diantara ribuan penghuni bumi yang belum pernah mendengarkan planetnya berbicara.
Kenapa tidak bisa mendengarkan? Karena kita tidak pernah berdiam diri. Hakikat dari berkomunikasi, adalah berbicara, dan mendengarkan. Masalahnya banyak dari kita lebih suka berbicara dari pada mendengarkan.
Mendengarkan bukan hanya diam, dan menunggu giliran untuk berbicara (kebanyakan ini definisi kita dari mendengarkan). Mendengarkan adalah menyimak percakapan orang lain. Tahu apa pesan sso pada kamu.
Masalahnya, kita terlalu sibuk bekerja, belajar, bermain, beraktifitas, sehingga tidak mendengarkan bumi berbicara. Yah, tanpa kamu dengar, bumi tetap berbicara, bahkan merintih. Kamu bisa lihat, panas bumi semakin hari semakin meningkat, menyebabkan perubahan iklim. Belum lagi kerusakan-demi kerusakan bumi yang terjadi secara global. Toh nanti akhirnya kita, sebagai penghuni bumi yang susah.
Beberapa orang menyimak suara bumi, dan menanggapinya dalam KTT di Bali Desember 2007 kemarin. Salah-satu langkah kongkrit yang dibuat oleh LSM Bali yang tergabung dalam Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim, mengkampanyekan World Silent Day!
Dimana satu hari, selama empat jam, berhenti beraktifitas, berhenti menggunakan peralatan listrik, untuk membiarkan bumi bernafas. Membiarkan keheningan disekitar kita, agar kita bisa mendengar bumi ini berbicara. Agar kita bisa merenung betapa baiknya Tuhan memberikan dunia ini. Betapa pentingnya pemberian ini, bukan untuk diri kita, tapi untuk anak cucu kita. Dan betapa kita harus menjaganya.
BERI SATU HARI UNTUK BUMI BERNAFAS
HARI HENING SEDUNIA – 21 MARET
Tanggal 21 Maret adalah juga Hari Air dan hari pertama musim semi di utara – simbolisasi dari kehidupan.
Kenapa harus kita? Karena hanya kita, mahluk bumi yang paling banyak merusak bumi ini, yang dapat bertanggung jawab. Bukan karena semata-semata tuntutan nurani, tapi karena kita mahluk bumi yang paling tinggi tingkatnya. Tentunya kamu malu dong, kalo harus penghuni bumi lain, selain manusia yang konsern dengan bumi.
Bagi teman-teman yang konsern dengan bumi ini, dengan Global Warming, dan mau berpartisipasi dalam kampanye ini, dihimbau untuk mematikan alat-alat listrik, atau kendaraan pada esok hari, tanggal 21 Maret. Selama empat jam, terhitung dari pk10.00 - 14.00.
Untuk teman-teman yang ingin keterangan lebih lanjut mengenai World Silent Day dapat menghubungi:
- info@worldsilentday.org
- www.worldsilentday.org
Salam Hening
Kolaborasi Bali untuk Perubahan iklim
Alamat:
Jl. Pengubengan Kauh 94
Kerobokan, Kuta, Bali
+62 361 735321
Insiden Suara Gadis Cantik
Cuma sewaktu saya mencermati pembicaraan mereka, si 'gadis' manggil abang ketemen kos saya ini. Waahhh, besok gw bawain breadtalk deh buat tetangga gw, minta dikenali sama adenya!
Kalo analisa (sotoy) saya, dari suaranya sih, sepertinya nih 'gadis' imut, agak judes dikit, agak tmboy dikit, tapi manja. Suaranya itu enak bangat ditelinga. Ahh saya semakin sulit tidur.
Keesokan paginya, saya sengaja mondar-mandir didepan kamarnya. Entah mau ke wc lah, entah mau pesan sarapa, pokoknya ada aja alasan biar bisa ngintip 'gadis' gerangan, siapakah dirimu, ini. Hasilnya, nihil. Saya harus berangkat kerja, dan mengganjal rasa penasaran saya dengan tugas-tugas kuliah.
Malamnya, saya masih belum bisa bertemu 'gadis' tsb. Argh, semakin penasaran aja nih! Memang benar tuh yang bilang, secrets make woman woman.
Perjumpaan saya dengan 'gadis' ini ternyata tidak diduga-duga. Sewaktu saya keluar dari kamar mandi, saya dengar suaranya dari balik dinding. Aih, dia lagi sama mamanya, kesimpulan saya. Karena takut kesempatan ini lewat begitu saja, saya cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Of course, i used my wear dude!
Ternyata yang saya kira gadis itu rupanya cowo..... Adiknya teman saya itu cowo..... Cowo tulen.
Saya sudah gak sabar masuk kamar, buat mukul bantal dengan segenap jiwa-raga, melampiaskan kekekian saya. Ternyata bukan cuma saya aja korban suara merdu cowo ini, tapi beberapa teman kos, bahkan ade saya pun jadi korbannya. Memang benar, suara bisa menipu (malah ini terlalu menipu).