Tumbang Samba

Kamis 11 Februari 2010
Setelah selesai sosialisasi tender dengan pihak Indosat di Samptit, gw langsung menuju arah Palangkaraya. Waktu itu jam menunjukan pukul 14.00 wib. Sebenarnya tujuan gw bukan ke Palangkaraya, tapi salah-satu site Indosat di Tumbang Samba. Tumbang Samba itu 90 km dari Palakaraya ke arah Sampit.

Selama kerja di maintenance BTS Indosat gw, belajar untuk tidak mencari tahu lokasi suati site. Kamu hanya bisa percaya GPSmu saja dan bukan akses jalan. Sering kali BTS tidak terletak di pinggir jalan, atau malah tidak bisa diakses menggunakan kendaraan darat. Ada yang harus menggunakan akses sungai, malah ada yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan khusus roda dua, alias tidak ada akses jalan sama sekali ke sana.

Di satu sisi gw salut dengan Indosat yang punya BTS di daerah terpencil (sering malah BTS Indosat berdiri sendiri tanpa ada 'teman-teman' BTS dari provider lain. Minusnya, teknisinya meregang nyawa setiap ke lokasi, seperti kejadian yang gw alami ini...

Pukul 15.44 gw tiba di mulut jalan menuju Tumbang Samba. Dari jalan umum, Tumbang Samba masih masuk lagi 30km lagi ke dalam. Jalan ini sebenarnya aman saja, asal dilalui pada saat terang. Jalan ini juga digunakan para penambang untuk mengakses sampai ke lokasi tambang. Selain tambang emas, teradapat juga tambang peyu. Peyu adalah bahan dasar untuk membuat intan atau berlian imitasi. Biasanya untuk diekspor ke Cina maupun Hongkong.

Daerah ini bisa dibilang berbahaya karena yang berlaku hukum rimba. Orang bisa saja selesai menambang lalu dirampok dan mayatnya dibuang ke hutan - tidak ada yang perduli di sana, hanya yang kuat yang menang. Makanya tidak jarang juga para penambang membawa pistol. Banyak juga preman yang menguasai jalan di sini. Kebanyakan mereka minta uang keamanan. Tapi karena ini lokasi tambang emas dan peyu, tentu gak cuma puluhan ribu yang mereka minta.


Kendaarn peribadi yang melalui desa itu kebanyakan melaju dengan kencang. Kadang mereka tidak perduli dengan kondisi jalan yang banyak lubang atau rusak, seolah ingin sampai di tempat tujuan dengan segera. Saat itu gw masih belum sadar arti dari semuanya itu.

Pukul 16.23 kami tiba di desa Kelanaman kabupaten Katingan, di mana posisi site BTS yang ingin kami kunjungi berada. Ada yang berbeda di sini, semua orang memandang ke arah kami dengan tatapan kurang bersahabat. Musolah adalah tempat pertama yang kami masuki untuk mencari informasi penjaga site. Dari semua orang yang ada di dalam musolah, termasuk ustadnya memandang dengan dingin, hanya satu orang yang masih tersenyum. Saat itu perasaan tidak enak mulai perayap diam-diam.

Pukul 16.33 kami tiba di site. Kondisi site pintu shulter rusak, pagar dekat ruang genset bekas dibobol. Langit jingga meroba, bercampur kelabu di ufuk timur.

Kami putuskan untuk stay di lokasi karena berbagai pertimbangan. Salah-satunya yang gw baru tahu dari penjaga site bahwa jalan akses yang menuju ke jalan umum tidak aman. Karena jalan itu menuju lokasi tambang sehingga saat gelap banyak perompak yang mengincar mobil-mobil pribadi. Itu menjawab kenapa sepanjang jalan banyak mobil yang melaju sangat kencang tanpa memperdulikan kondisi jalan. Ini membuat hati menjadi semakin risau tak menentu. Belum lagi tidak adanya rumah penduduk di sekitar BTS selain pondok penjaga site di depan BTS.

Walaupun begitu gw putuskan untuk tetap melakukan perbaikan mesin. Sore menjelang malam kami mulai membongkar mesin. Sebenarnya perbaikan itu tidak rumit, hanya saja tetap perlu waktu karena kondisi penerangan yang tidak memadai.

Menjelang pukul 20.33 kami tidak dapat meneruskan pekerjaan karena kondisi lingkungan. Selain gelap, banyak sekali serangga berterbangan. Gw gak bisa bayangkan itu hewan apa, tapi satu sayapnya aja sebesar telapak tangan orang dewasa! Gw baru sadar saat keluar dari ruang genset menuju pekarangan BTS, serangga tersebut ratusan dan terbang berkeliaran menutupi jarak pandang, begitu ketenangannya terusik dengan kehadiran gw. Beberapa dari serangga tersebut sempat menyerempet lengan dan leher, meninggalkan luka goresan. Mau nangis rasanya...


Malam itu gw tidur di mobil dengan kondisi mesin menyala. Selain itu juga gw bergantian berjaga malam. Gw sempat melihat ada orang datang mengawasi BTS tersebut, entah penjaga sitenya atau orang lain. Saat itu gw masih belum tahu apa sebenarnya yang terjadi dan yang akan terjadi...

Pukul 6.04 gw bangun. Matahari belum muncul dari peraduan. Semakin cepat kami membereskan pekerjaan hari itu semakin cepat kami pulang. Artinya semakin aman bagi kami. Nanun saat gw balik dari sungai untuk cuci muka dan ambil air bersih, gw sudah lihat dua orang pemuda datang menggunakan motor. Mereka hanya duduk-duduk di depan, sambil mengawasi kami. Mereka baru pergi setelah penjaga site datang. Dari penjaga site kami baru tahu kalo semalam mereka sudah kumpul puluhan orang untuk bersiap pagi ini. Tengkuk gw mulai dingin, padahal matahari pagi menyengat panas. Akhirnya gw kermbali kerja secepat gw bisa, berusaha untuk tidak merisaukan keadaan lingkungan tempat di mana gw berada.

Pukul 9.36 tiga pemuda datang dan berjaga-jaga di depan gerbang BTS. Kali ini badan mereka besar-besar. Gak kebayang kalo kami cuma berdua harus berhadapan dengan mereka. Kehadirannya cukup mengganggu gw. Beberapa kali baut lepas dari tangan. Rasanya keki dan jengkel sekali, kami kerja memerah keringat terus ada yang nungguin untuk dimintai uang. Kalau saja mereka belalang pelahap atau ular derik pasti akan gw injak-injak sampai mati. Sayangnya saat itu mungkin sebaliknya, gw yang seperti belalang dan gw yang akan diinjak-injak sampai mati.

Pukul 10.00 kami selesai bekerja bertepatan dengan datangnya penjaga site. Betapa leganya hati ini melihat kai-kai tua itu, padahal mungkin jika terjadi kekisruan, dia pun tidak bisa bertindak apa-apa. Awalnya kami berniat untuk mampir ke rumah penjaga sitenya, namun sepertinya kondisi tidak memungkinkan. Akhirnya setelah berpamitan, kami menerobos keluar dari BTS menuju ke jalan utama.

Ada 30km jalan yang membentang dimana hidup kami dipertaruhkan. Apa saja bisa terjadi sepanjang jalan tersebut, mengingat apa yang sudah terjadi malamnya dan baru saja kami kabur tanpa membayar apa-apa ke preman di site BTS. Waktu berjalan lama sekali, 30km seolah seperti ratusan km.

Sebelum sampai di jembatan perbatasan kampung, sepasang mengendara motor mengisyaratkan kami untuk berhenti. Namun kami melaju tanpa memperdulikannya.

Mobil melaju dengan 80km/jam kecepatan yang tidak mungkin seharusnya untuk jalan kecil dan serusak itu. Lima belas menit kemudian tiba-tiba dua orang yang boncengan mendadak melaju dari arah hutan untuk menghadang jalan. Kali ini tubuh mereka lebih besar dan beringas. Seolah tidak ingin membiarkan kami lepas...

Beruntung di depan kami ada mobil sehingga mereka tidak bisa menghalangin kami tanpa menghalangi mobil di depan. Gw sudah berpikir kami pasti dikejar sehingga menginjak pedal gas lebih dalam dari yang seharusnya.

Masih ada satu lagi yang mencoba menghadang, tapi mungkin mereka berpikir kembali untuk coba menghadang mobil berkecapatan tinggi.

Entah keberuntungan seorang pemula atau kebaikan Tuhan semata yang membuat kami lolos dari mereka. Padahal mereka punya pilihan untuk mengejar kami. Bagaimana pun gw bersyukur masih dapat menulis blog ini sekarang di tengah-tengah cafe Capung sambil menghirup teh 'Capung'...

Road Manager

Setelah lama berselang dari posting perangkat ndustri musik yang terakhir, maka ini lanjutannya.

ROAD MANAGER

Mungkin kalo dalam struktur management bisnis, road manager ini sama dengan manager produksi. Bisa dibilang Road manager ini merupakan staft terpenting untuk seorang artis atau band dalam menggelar pertunjukan dan tour. Bagi band dan manager band, ia adalah mata, telinga, otot, dan penyelamat ketika band berada di luar kota.

Pada saat band masih baru, road manager juga berfungsi ganda sebagai manager, penata suara, penata cahaya, agen perjalanan, dan kru perjalanan. Hanya saja saat band dan artis semakin besar setiap posisi tersebut dijabat oleh orang yang berbeda.

Apa aja sih tugas-tugas dari seorang Road Manager?

Tugas-tugas Road Mnaager biasanya meliputi semua hal, sampai urusan kebersihan. Tapi biasanya mereka sendiri menetapkan batasan-batasan sendiri sesuai dengan keahlian, wewenang, kemampuan dan gaji. Tanggung jawab seorang Road Manager adalah mengantar artis dan kru dengan selamat sampai ke tempat pertunjukan dan membawa mereka kembali. Untuk pekerjaan itu ia harus menyaipakan uang tips untuk pelayan hotel, pembawa koper, atau pelayan restoran. Ia juga bertugas mengatur rombongan check-in di hotel, bandara, dan di tempat pertunjukan. Ia mengatur hotel dan penggunaan ruang ganti. Ia membangunkan artis dan yang tidak kalah penting adalah membuat dan menyusun jadwal bagi artis atau bandnya setiap hari selama tour.

Ia juga mewakili artis dan manager ketika berhubungan dengan promotor, manager produksi prmotor, kru urusan teknik, tempat penjualan karcis, staft belakang panggung, dan pihak keamanan.

Mengatur acara jumpa pers dan menangani media juga merupakan bagian tugas Road Manager. Ia juga memastikan pemesanan kamar hotel sudah diatur dengan baik. Termasuk jemputan dari bandara ke hotel, hotel ke venue, dan sebaliknya. Dia juga mengatur waktu untuk check sound dan gladi bersih.

Ketika artis sedang beristirahat di hotel setelah melakukan penerbangan panjang, road manager berada di tempat pertunjukan untuk bekerja. Ketika pertunjukan berakhir, road manager mengawasi repacking peralatan dan menulis jadwal untuk keesokan hari. Jika artis menghadapi atau menyebabkan masalah, Road Manager harus siap sedia untuk menyelesaikannya. Jika pihak prmotor membuat masalah, Road Manager harus siap bernegoisasi atau menghubngi manager di kantor atau rumahnya. Dan jika sejumlah uang harus diterima sebelum konser dimulai, Road Manager yang mengumpulkan, menyimpan, dan mengatur pengiriman ke bank dengan aman.


Masalahnya sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar road manager - sama halnya dengan manager pada umumnya, tidak banyak mengetahui beberapa hal yang menjadi tugas mereka. Artislah yang berkepentingan mencari tahu apa keahlian Road Manager dan melatihnya melakukan bidang yang kurang ia kuasai, atau menjelaskan tanggung jawab yang dapat membahayakan bisnis artis.

Sifat-sifat yang menunjang untuk seorang Artis Manager adalah teliti dan tahu cara mengatur anggaran. Ia merencanakan keseluruhan pertunjukan; artinya beberapa minggu sebelumnya ia sudah menghubungi pihak prmotor dan para pengawas tekniks di tempat pertunjukan untuk memastikan bahwa kebutuhan-kebutuhan teknis artis dipenuhi.

Kamu bisa memperlakukan Road Managermu sebagai mitra kerja atau tangan kanan kamu, tergantung dari gaya kepemimpinan manajemen kamu. Intinya, perlakukan Road Managermu dengan baik.

Perangkat Industri Musik: Manager Musik

Setiap tahun terdapat peningkatan signifikan musisi yang terjun ke industri musik. Gw sendiri gak pegang data pastinya, tapi itu bisa dilihat dengan jumlah band baru tahun 2009 yang meningkat dibandingkan tahun 2008, dan itu masih terus meningkat di tahun ini. Berita bagusnya itu barometer iklim yang positif untuk industri musik. Namun yang patut disayangkan genrenya masih itu-itu saja. Kita harapkan di tahun ini bisa muncul band-band dengan musik yang segar dan genre yang gak mindstream.

Namun bukan berarti musisi saat ini lebih terdidik dan melek industri musik. Kebanyakan band menyodorkan demo rekaman dengan harapan musik mereka bisa mewujudkan mimpi tinggi untuk menjadi artis nasional. Mereka datang tanpa mengerti perangkat industri musik. Seperti halnya industri lainnya, industri musik adalah tempat yang keras untuk hidup. Masalahnya banyak band/artist hanya berpikir mereka mau berkarya tanpa mau dipusingkan dengan hal lainnya.

Buat kamu yang mau terjun ke industri musik, pastikan beberapa hal terlebih dahulu. Beberapa instrumen industri musik yang perlu kamu ketahui: band/artist sendiri, manager band/artist, manager road, produser, promotor, dan broker (tolong tambahkan kalo ada yang terlwat).

Masing-masing punya fungsinya sendiri-sendiri dan semakin cepat kamu mengetahuinya semakin baik tindakanmu. Kita bahas satu-satu mulai dari manager band/artis.


MANAGER BAND/ARTIS

Beberapa waktu lalu sempat ada diskusi menarik di forum musik soal hubungan kerja antara manager dengan band/artisnya. Apakah posisi manager berada di atas band/artistnya atau sebaliknya, band/artist berada di atas managernya?
Jawaban yang paling tepat adalah mereka sejajar. Masing-masing dari manager dan artis berada dan tunduk pada sistem yang disepakati, yaitu kontrak kerja. Selama masing-masing menunaikan kewajibannya maka masing-masing akan memperoleh haknya. Namun seperti yang dikatakan Mitch Weiss (manager artist kawakan asal NY), industri musik itu bisnis tanpa aturan jelas. Yang bisa menjadi pegangan hanya etika dan nurani.

Tugas manager band/artist apa?
Pertengahan tahun lalu gw sempat ngbrol dengan artist hiphop nasional yang sedang mengerjakan album ke duanya. Dia memecat managernya karena dia merasa selama ini yang banyak mencari job dan gig adalah dirinya dan bukan managernya. Ini kesalah-kaprahan band/artis saat ini. Gw mau bilang konsep manager cari job untuk band/artisnya itu keliru besar. Kalo band/artis mau mendapatkan job bayar saja broker, itu jauh lebih murah dari pada harus bayar manager band. Akan dibahas nanti mengenai broker kerja.

Seperti layaknya menejemen dalam bidang lain, menejemen band/artis merupakan cara pengendali krisis. Tugas dasar seorang manager band/artis adalah memastikan sistem berjalan dengan resiko sekecil-kecilnya melalui pengendalian krisis yang tepat. Krisis apa saja?

Setidaknya ada 24 topik yang harus dikuasai agar terhindar resiko besar;

1. musik dan penulisan lagu
2. instrumen musik
3. citra (kostum, tata rias wajah, dan model rambut)
4. Personel musik
5. merek dagang
6. hak cipta
7. akuntan dasar
8. menejemen uang dan strategi investasi
9. pajak
10.undang-undang kontrak
11.penerbitan
12.program kesehatan
13.program pensiun
14.asuransi
15.royalti
16.jebakan-jebakan dalam kontrak rekaman
17.menerjemahkan istilah teknis dan formal dalam dokumen legal
18.perjanjian pemesanan
19.studio rekaman
20.merchandising
21.publisitas, pemasaran, pers dan promosi
22.internet
23.pemilihan staf (skuntan, pengacara, road manager, teknisi, dsb)
24.penampilan di panggung dan bakat musik

Hubungan kerja terbaik antara manager dan band/artis jika masing-masing memiliki kontribusi terhadap poin-poin di atas dan bekerja sama untuk saling melengkapi poin-poin tsb.

Bagaimana sebaiknya kontribusi yang diberikan masing-masing pihak?

Manager diharapkan sangat menguasai bidang-bidang ini
Artis diharapkan sangat menguasai bidang ini
Antara manager dan artis sangat menguasai bidang ini
Perlu staf konsultan

Cocokan warna dengan jodesk yang diharapkan.

Itu sebabnya terjun dalam industri musik perlu terdidik. Band/artis bahkan mungkin manager yang tidak punya pendidikan yang memadai untuk menguasai isu tersebut akan menjadi bulan-bulanan di industri musik. Memang tidak ada standar pendidikan tertentu untuk jadi manager band atau terjun dalam industri musik, tapi kita harus punya keinginan untuk menjadi terdidik.

Patut disayangkan banyak musisi kita belajar dengan jalan primitif - trial and error. Sering kali 'harganya' tidak sesuai. Gw tahu sebuah band yang datang dari jawa, sudah habis 600juta tanpa jadi apa-apa. Kasusnya klise, uang dibawa kabur managernya (dan lucunya manager tersebut sekarang jadi manager salah-satu band papan atas Indoensia). Itu bukan cuma satu band, tapi banyak kasus serupa terjadi.

Itu contoh band/artis yang 'bodoh', bagaimana kalo sebaliknya, manager yang bodoh? Berarti band/artisnya yang lebih bodoh, karena bayar orang bodoh :) Lagi pula band/artis akan berjalan di tempat tanpa orang yang tepat untuk membawa band/artis di masa-masa yang sulit.

Cerita-cerita Awal Tahun

Gw baru sadar posting gw di awal tahun ini isinya malah marah-marah. Sebagai bentuk penyesalan gw coba posting yang ringan-ringan aja.

Keknya sudah lama gw gak cerita-cerita lagi disini.

Seperti yang sedikit kamu tahu gw lagi ada di Banjarmasin, tapi dalam rangka apa? Gw di Banjarmasin dari tanggal 16 Desember untuk niat pulang kampung, soalnya sudah dua tahun gak mudik. Memang sudah ada indikasi untuk gw bakal diminta kerja di Banjarmasin, tapi karena belum pasti posisi dan di kota mana jadinya gw belum sampaikan ke orang-orang di Jakarta.

Ternyata setelah tahun baru, kabar itu pun datang. Gw bakal pegang wilayah Kalteng dengan domisili di Palangkaraya. Memang masih nunggu menang tender, tapi hampir bisa dipastikan 80% bakal di sana. Yang terbaik dari Kalimantan, lu gak akan mengalami macet yang membunuh jiwa; yang terburuk (buat gw) di sini panas bangat! dan penuh nyamuk *damn*

Ok, memang bakal ngapain Joe di sana?

Gw bakal ngurusin BTS-BTSnya Indosat di seluruh wilayah tersebut, kurang lebih begitu. Seperti yang gw sempat cerita di posting sebelumnya, bahwa gw bakal ninggalin musik untuk sementara waktu - setidaknya ini cara gw membohongi diri.

Kok mendadak? *seperti kata salah-satu temanku*
Siapa bilang mendadak? Gw punya resolusi akhir tahun, bahwa kalo gw belum punya kerja yang tetap di musik gw bakal balik kerja sama bokap untuk sementara waktu (cari duit dulu maksudnya). Entah kenapa justru mendekati akhir tahun gig regular gw gak diperpanjang. Selain itu meeting untuk brance manager salah-satu sekolah musik nasional dibatalkan sepihak. Tapi begitu gw putuskan untuk kembali ke Banjarmasin, itu panggilan dan meeting pada berdatang semua! Huh, hidup punya caranya sendiri untuk mentertawakan kita.

Walaupun begitu bukan berarti sama sekali gw gak akan ke Jakarta lagi. Setidaknya pertengahan bulan ini dan awal bulan Maret gw jadwalkan untuk ke Jakarta. Mengingat gw masih punya tanggung jawab sebagai managernya Cumlaude band. Lagi pula kan gw kerja juga pake masa percobaan.

Di lain cerita, gak hanya di Jakarta tapi di Banjarmasin juga gw terserang insomnia, malah lebih parah. Gw biasa baru bisa tidur jam 5 pagi waktu sini (fyi Banjarmasin masuk waktu Indonesia bagian tengah) dan bangun jam 10. Kemarin malah lebih parah, gw baru tidur jam 9 dan sudah harus bangun jam 11 siang. Edan!

Tapi ternyata insomnia ini membawa gw mengenal darah hitam manis pembawa acaranya Mata Angin di GlobalTV, Virgiantiy Kusumah. Nah yang bikin gw baru tidur jam 9 pagi kemarin, karena pagi-pagi Dimas Novriandi reply di twitter kalo dia kenal baik dengan Vivi (sepertinya ini sapaan akrab Dimas untuk Virgiantiy, entah ya *sirik*).

Di luar kejutan itu, gw jadi ingat kembali sebuah buku tentang bumi yang datar. Sembari gw mengingat kembali judlu buku tsb gw akan ceritakan sedikit soal buku ini. Ini bukan buku geografi apa lagi soal ilmu alam, malainkan tentang perkembangan dunia dewasa ini, dimana internet mengambil peran untuk membentangkan dunia ini agar menajdi rata. Tidak ada batas ruang lagi, atau istilah gw adalah melipat ruang.

Contohnya kamu bisa kirim buket bunga ke temanmu yang berada di LA walaupun kamu berjarak ribuan mil dari dia dengan Amazon. Atau malah seperti seorang juru mudik angkatan laut Amerika yang melangsungkan pernikahannya dengan mempelai wanitanya yang terpisah ratusan mil dari tempat tugasnya di samudra pasifik. Semua itu karena internet, dan internet sebagian dari globalisasi yang meratakan dunia abad ini. Judul bukuny The World is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century by Thomas Friedman.

Singkatnya kamu bisa ketemu siapa saja di dunia ini dengan menggunakan internet.

Ah kok jadi panjang ya postingnya? padahal niatnya mau cerita pendek saja. Gw tutup sampai sini saja.



N.b Ada yang tahu lagu temanya di 007: For Your Eyes Only? Gw rasa ini lagu 007 yang paling melankolis.

Ada Apa Sih Dengan Musisi Kita??

Genap 27 hari gw di Banjarmasin. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan kota ini jika gw bandingkan dengan Jakarta - eh ada loh kelebihan Banjarmasin dibandingkan Jakarta! Kamu gak akan mengalami macet yang bikin cacat mental.

Terlepas dari itu semua, yang paling sedih adalah gw akan jarang main musik. Memang di Banjarmasin ada cafe-cafe atau tempat makan yang ada live music-nya, walaupun gak sebanyak di Jakarta. Namun namanya tempat baru, gw harus mulai dari awal lagi; dimulai dari kenalan dulu, sering kumpul dan ngobrol dulu, lalu ngejam, baru deh dari sana dapat gig dan band.

Teorinya sih begitu, tapi prakteknya gak semulus itu. Gw tau persis karena dulu gw pernah alami hal tsb saat di Bali. Bahkan saat di Bali gw full time di musik.

Satu yang paling gw benci dari musisi daerah, mereka suka menjelekan sesama musisinya. Gw rasa itu tantangan tersulit dari membangun komunitas musik di daerah. Kalaupun ada biasanya justru komunitas musik itu jadikan tembok gap sekaligus wadah menjelekan musisi lain.

Kalo ada musisi dari luar kota yang datang berkunjung, pasti semua orang datang dengan niat untuk menguji; 'eh bisa main ini gak?' 'Belajar sama siapa?' 'Lagi belajar teknik apa?'.

Sebenarnya itu semua pertanyaan yang wajar saja kalau dilontarkan dengan niat berteman, sayangnya niatnya untuk menguji. Apesnya mereka gak bisa diperlakukan dengan rendah hati. Gw pernah diperlakukan demikian dengan salah-seorang bassist di Bali, pemain greja lagi. Padahal gw tahu pasti harmoni scale-nya salah-salah.

Sebenarnya itu bisa gw maklumi dengan lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan jumlah musisi di daerah. Bagaimana pun bisnis hiburan di daerah belum semenggeliat di Jakarta. Di daerah, paling banter night club yang bisa berkembang besar. Jumlah lapangan kerja yang kecil ini ditambah dengan skill dan wawasan yang kurang akhirnya diperebutkan dengan cara-cara seperti itu tadi, saling menjelekan.

Bagaimana di Jakarta?
Kalo di Jakarta jumlah 'kue' (gw menganalogikannya sebagai lapangan pekerjaan) itu banyak, masalahnya sanggup gak makannya? Karena banyaknya kue yang bisa dimakan itu didasarkan pada skill selain pergaulan. Kalau memang memiliki skill yang memadai pasti sanggup meraih kuenya. Kalau enggak ya cuma bisa gigit jari.

Musisi senior pun punya keterbatasan, sehingga merasa perlu untuk meregenerasi ke yang mudah. Makanya gak heran banyak komunitas musik bertebaran di Jakarta dan semuanya saling support.

Secara umum pasti ada saja musisi yang suka menjelekkan musisi lain - gak hanya musisi sebenarnya, dalam bidang lain juga pasti ada, tapi itu lebih di dasarkan pada sifat individu-nya dan biasanya orang yang suka menjelekkan orang lain adalah sifat coping dirinya sendiri, bahwa sebenarnya itu saja kemampuan orang tsb.

Tolong hentikan!
Sikap ini justru menurut gw harus dihentikan, apa lagi seorang musisi. Musisi adalah orang yang berkarya dengan hati, bagaimana mungkin bisa menghasilkan karya yang baik dari sifat hati yang penuh iri? Jangan-jangan selama ini musik tsb tidak keluar dari hati lagi. Coba deh ingat kembali gimana dulu senangnya kita belajar musik tanpa mikir yang muluk-muluk. Bukannya indah ya kalo kesenangan itu bisa kita bagi ke orang lain? Percaya deh, yang namanya ngajar itu pasti bersifat dua arah, ke murid maupun ke guru.

Selain itu sifat iri dan merendahkan itu muncul dari rasa sombong dan tidak terbuka dengan pandangan dan ilmu baru. Ini jadi masalah pelik berikutnya dari musisi daerah. Harus diakui bahwa pendidikan dan media komunikasi di daerah terbatas dan tidak semaju di pusat/Jakarta, kondisi ini diperparah lagi dengan keras kepalanya musisi di daerah untuk berbagi.

Sebagian besar musisi di daerah takut ilmunya 'dicuri' sehingga mereka jarang berbagi dalam wadah komunitas. Kalau mau belajar ya ngeles, yang artinya bayar. Nanti kalau sudah les takut kehilangan murid, bukannya giat berlatih malah menjelekkan musisi lainnya biar muridnya gak pindah. Mungkin sudah gak ada lagi yang mau dilatih karena sudah habis ilmunya.

Jadi?
Ayo dong musisi daerah, sudah saatnya gak bersikap iri dengan merendahkan dan menjelekaan musisi lain. Saatnya buka mata, buka telinga, dan buka hati untuk kemajuan bersama. Biar musik Indonesia semakin maju, bukan Jakarta atau pulau Jawa, tapi Indonesia.





Sent from my BlackBerry® Jave

My Last Posting in 2009

I have not been sleeping since last night. Yes, insomnia attack! It's not bad for last night in 2009, I thought.

Am passing the night with my new book (I bought in Gramedia Duta Mall, Banjarmasin last monday), Managing Artist in Pop Music, great book anyway. Promise I'll review this book after finished, maybey on fivestroke's blog.

Cukup, biar ngeblog dengan bahasa Inggris menjadi resolusi tahun depan - atau enggak sama sekali.

Banyak hal yang mengejutkan terjadi di tahun ini, bahkan menjelang akhirnya pun masih sempat-sempatnya mengejutkan kita dengan meninggalnya mantan presiden Indonesia, Abduhrrahman Wahid. Membaca obituari om Gus Dur di twitter, khususnya dari om Ndorokakung, bikin mata jadi berkaca-kaca. Entah mengapa mendengar, sori maksud gw membaca kembali qoutes om Gus Dur dari rekan-rekan di twitter bikin gw jadi berduka mendalam, padahal sungguh mati gw belum pernah ketemu secara langsung apa lagi kenal secara pribadi. Mungkin memang sosok Gus Dur mudah untuk kita merasa dekat dengannya.

Indonesia kehilangan seorang pahlawan demokrasinya sekaligus Guru Bangsa. Mungkin karena duka itu sebabnya sepanjang malam sampai siang tadi mendung bahkan hujan menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia. Tapi itu juga yang terbaik untuk Gus Dur, selesai sudah tugasnya mengabdi kepada ibu pertiwi ini dengan segala keterbatasan fisiknya dia berbuat lebih untuk bangsanya.

Selamat jalan om Gus Dur... Indonesia tidak akan pernah sama lagi tanpa dirimu.

Sehari sebelum om Gus Dur wafat jemaat bokap gw ada yang kehilangan ayahnya, juga karena sakit. Padahal baru dua hari sebelumnya berkirim salam natal lewat telpon.

Sungguh hidup manusia itu seperti embun, datang dan perginya begitu cepat. Contohnya saja diakhir tahun ini. Mungkin sebagian dari kita berpikir satu tahun itu lama sekali;

Kalau mau diingat-ingat banyak sekali kejadian yang gw sudah alami selama setahun ini. Dari hal-hal menyenangkan seperti bergabungnya gw di Systronic dan BeON di awal tahun, kembalinya gw di dunia musik dan menemukan sahabat-sahabat baru di akhir tahun, juga adik gw Andrew yang ke Jepang dan memenangkan Asian Beat 2009 seasia. Ada juga hal-hal yang membuat sedih seperti keluarnya gw dari Systronic sekaligus BeON dan bahkan kejadian mengerikan dan tak terlupakan mengenai mobil kantor yang gw hilangkan.

Gw juga masih ingat film-film terbaik tahun ini, Transformer: Revenge of the Fallen, di mana gw dan adik-adik gw gak perlu ngantri berjam-jam berkat bantuan mba Ayu dari management XXI. Juga film Star Trek yang gw nonton atas undangan hangat dari sahabt gw, Benny Wibowo dan Onnik Suharto. Sebenarnya masih banyak film bagus tahun ini, tapi gw gak banyak menghabiskan tahun ini di kuris 21.

Peristiwa politik nasional pun gak kalah serunya tahun ini, mengingat tahun ini diselenggarakannya pemilu, juga kasus Cicak vs Buaya, sampai prahara Gurita Cikeas.

Tapi gw yakin juga semua dari kita sependapat bahwa saat kita berdiri di titik akhir suatu masa maka jengkal waktu itu menjadi teramat singkat. Januari 2009 itu bak sehari kemarin.

Mungkin ada baiknya kita belajar untuk menghitung hari-hari yang kita miliki agar sadar bahwa kita tidak hidup untuk selamanya, dan karena itu kita harus berlaku bijaksana.

Bijaksana itu waktu yg kamu gunakan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, baik dengan pemikiran, perkataan, bahkan dengan perbuatan kita.

Jika kita melihat kejadian yang lalu dalam hidup ini, justru hal-hal yang gw sebutkan di atas itu yang menjadi saat-saat paling berkesan dalam hidup ini. Atau sebaliknya bisa jadi kita malah minim memiliki pengalaman berkesan itu dan hanya sibuk dengan diri sendiri.

Ok, biar itu menjadi resolusi bersama kita di tahun yang baru, sehingga di akhir tahun depan kita pun punya pengalaman berkesan itu.


Akhirnya gw mengucapkan selamat tahun baru 2010!



Sent from my BlackBerry® Jave