The Starbucks Experience: 5 Principles for Turning Ordinary Into Extraordinary'



Judul: The Starbucks Experience: 5 Principles for Turning Ordinary Into Extraordinary'
Penulis: Joseph A Michelli
Alih bahasa: Hero Patrianto
Editor: Ratih Medya
Tebal: 208 halaman


Sudah lama pengen nulis review nih buku, cuma baru kesampaian sekarang. Dapat nih buku juga tidak sengaja liat di Gramed Citra Land. Ini fersi Indonya. Cepat bangat keluarnya. Sebenarnya sudah baca nih buku, versi inggrisnya, cuma sebelum sempat selesai di baca, buku tersebut saya kasihkan salah seorang kolega.

Akhirnya saya ambil satu. Setelah muncul versi Indonesia, semakin banyak teman dan kenalan yang baca. Saya baru cek lagi setelah muncul versi Indonesianya di google dan menemukan 329.000 link yang menyangkut buku ini, termasuk blog.

Sekilas mengenai buku ini. Penerbit Erlangga. sampul dan covernya bagus (hard cover), mirip kek versi aslinya. Cuma yang membuat saya agak menyerengitkan dahi karena di bagian depan salah-satu kalimatnya mengatakan 'dilarang keras mengutip.....'. Menurut saya ini kalimat yang cukup bodoh untuk di lontarkan oleh penerbit yang sudah cukup terkenal. Apa Penerbitnya sendiri tiadk membaca isi buku sebelumnya? Karena di buku tsb berisi kutipan dari pengalaman para mitra dan pelanggan Starbucks. Entah karena kekhawatiran apa (dan tentunya tidak beralasan) atau karena tidak sadar apa yang sedang ditulis.

Salut juga untuk Hero Patrianto. Alih bahasanya bagus. Justu pihak editorialnya yang agak kurang. Ada beberapa kalimat yang tidak berkesinambungan, beberapa salah ketik, rata-rata 1kata/2bab. Mungkin bagi beberapa orang wajar, cuma bagi saya jadi kelihatan buru-buru, apa lagi dalam buku tsb salah satu subbabnya 'Semuanya Penting', termasuk hal yang sepele dan kecil. Tapi di luar itu, ini buku yang bagus, isinyajuga bagus. Saya menyarankan untuk rekan-rekan membelinya, atau paling tidak mambacanya. Buku ini sangat bagus.

Sekilas untuk buku ini. Buku ini bukan berisikan mengenai sebuah brand, apa lagi promosi mengenai Starbucks. Buku ini berisikan mengenai perusahaan yang melegenda, memberi dampak signifikan untuk komunitasnya secara sosial, dan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan itu. Berisikan pengalaman-pengalaman para mitra (di Starbucks sebutan untuk para karyawan dan pramusajinya adalah mitra kerja) dan pelanggan yang mengharukan. Prinsip-prinsip dalam bisnis yang kita anggap hanya ada dalam negri dongeng, ternyata dapat di terapkan sepenuhnya oleh sebuah kedai kopi yang berada beberapa blok dari kos saya.


Dulu saya tidak begitu suka 'nongkrong' di Starbucks. Sebenarnya tidak ada alasan pribadi, tapi saya jengah dengan kebiasaan orang Jakarta yang suka latah, sok ikut-ikutan tanpa tahu secara pasti apa yang merekan lakukan. Namun seperti kata buku ini, orang senang bergabung dengan perusahaan yang tingkat kepedualiannya terhadap masalah-masalah sosial tinggi, begitu juga saya. Selain itu suka dengan 'budaya' yang telah diciptakan Starbucks, dan saya ingin menjadi bagian didalamnya. Makanya ini jadi salah-satu tempang hang out fav saya (gak nyambung sih) ya pokoknya begitulah.

Pagi Jakarta yg Mendung dan Hujan

07.09
Selamat Pagi Jakarta. Hari ini ada menyenangkan sekali, paling tidak bagi saya pribadi. Hari ini Jakarta hujan!! Jakarta di pagi hari begitu mellow lengkap dengan mendung yang gelap plus hujan yang tipis. Asik bangat. Matahari juga sepertinya enggan untuk beranjak. Tapi pagi saya keluar dari kos jam5 karena harus mengantar rekan ke Bandara Sukarno Hatta. Sepanjang jalan menuju CGK hujan mulai turun rintik-rinitik. Sekarang sih sudah lumayan deras. Walaupun tiba di bandara jam6 lewat, namun matahari belum nampak, seperti masih jam lima pagi. Mungkin karena first flight jadi walaupun masih gelap namun jalan sudah mulai ramai, apa lagi setelah masuk bandara, malah terjadi antrian cukup panjang diluar gerbang terminal I.

Setelah dari bandara saya langsung bergegas ke tempat kerja. Namun seolah tidak rela kehilangan momen ini (apa coba??), saya memperlambat laju Balleno (busuk) berwarna Biru (hehehe) sambil menikmati suasana hujan dengan diiringi tembang pilihan dari Leonard Cohen. Mungkin untuk sebagian orang hal ini biasa saja, dan untuk kebanyakan orang yang tinggal di Jakarta ini menjengkelkan, karna harus berhujan-hujanan sebelum tiba di tempat kerja, namun bagi saya, terasa menyenangkan. Bulan-bulan yang paling saya gemari di negara tropis ini adalah bulan saat musim hujan tiba. Biasanya pada bulan-bulan ini saya bangun pagi, khususnya saat hujan turun, sambil memandang keluar dari jendela dengan ditemani secangkir kopi, seperti yang saya lakukan sekarang. Bisa berjam-jam saya betah melakukan hal ini, seperti sekarang juga. Sambil nulis nih blog sambil ngeliat ke luar jendela kantor. Nulisnya sih sudah dari tadi, cuma banyak tertegunnya sambil melihat keluar.

Saat-saat seperti ini enak bangat di pakai buat berpikir, melihat kembali ke belakang apa saja yang telah terjadi, mengevaluasi apa saja yang sudah di lakukan. Terkadang langkah kita terlalu cepat, khususnya buat orang-orang yang tinggal di kota-kota besar, semisal Jakarta ini. Langkah kita seolah mengikuti irama khidupan kota metropolitan yang serba cepat ini, sehingga terkadang kita tidak sempat berhenti untuk melihat kebelakang, melihat jejak yang sudah kita tinggalkan. Baik jejak yang baik atau kebanyakan yang buruk.

07.53
Hujan semakin deras, dan langit semakin gelap....

Sepertinya bakalan banjir nih. Bagaimana guys, sudah sampai kantor belum? Atau jangan-jangan masih pada tidur lagi? Hm enaknya nih saya balik lagi ke kos, ganti baju, terus masuk dalam selimut sambil baca sambil di temani secangkir kopi (lagi) hangat. Ngomong-ngomong soal buku, saya lagi baca buku 'The Starbucks Experience: 5 Principles for Turning Ordinary Into Extraordinary'. Buku yang bagus dan saya sarankan untuk rekan-rekan membacanya. Untuk posting berikutnya akan saya coba review buku ini.

09.04
Hujan mulai reda, namun angin masih kencang dan mendung.

Sepertinya saya terlalu banyak tertegun. Ya apa pun jejak yang sudah kita tinggalkan, kita sudah tidak bisa menghapusnya. Hanya bisa menjadikannya sebagai pelajaran untuk hari esok. Makanya perhatikan langkahmu, cos diluar sana becek dan banyak genangan hehehe. Karena hujan sudah berhenti, berarti saatnya tuk mulai bekerja. Have nize day guys.

Untuk sahabat terbaik

Hal apa yg paling menyegarkan yg dapat kita bayangkan di hari terik di musim panas? Minuman dingin? Es krim? Kita pilih es krim saja ya, karena kali ini saya mau bercerita tentang es krim

Cerita berawal dari tahun 1904, saat pameran sedunia di St Louis. Semua penemuan yang luar biasa pada tahu itu di pamerkan disana. Cuma jangan bayangkan keadaannya seperti saat ini. Saat itu gak ada yg namanya AC or kipas angin, apa lagi pameran tsb diadakan di musim panas. Para pengunjung pameran yang telah berjalan berjam-jam di bawah sinar matahari, tentu saja kelelahan. Mereka menginginkan sesuatu yg dapat mendinginkan tubuh mereka, melegakan dahaga mereka, yg segar dan kalo bisa murah meriah bahkan gratis (kalo yg terakhir ini pasti orang Indonesia deh). Disana terdapat stan Arnold Rornachou. Mungkin doi satu-satunya stan penjual ice cream disana sehingga para pengunjung berbondong-bondong ngantri di stan doi utk merasakan es krimnya.

Masalahnya adalah es krim Arnold begitu terkenalnya sehingga dia kehabisan mangkuk kertas. Remaja yg penuh semangat ini ini mencoba mempertahankan pelanggannya dengan mencuci dan menggunakan kembali mangkuk kacanya, meminjam gelas dari stan lain. Namun sayangnya tidak peduli bagaimana kerasnya ia bekerja, beberapa orang sudah kelelahan menunggu dan hendak mencari kesegaran di tempat lain. Saat itulah rekan yg belum dikenalnya muncul menjadi penyelamat. Eng, ing, eng (plus suara kereta berkuda dari kejauhan)

Namanya Ernest Hamwi, seorang pembuat kue-kue yg di besarkan di Damascus, Siria. Di stan sebelah Arnold, ia menjual wafer tipis manis Persia yg disebutnya zalabia (mirip d'chrips gitu). Itulah yg dia jual, namun sayangnya saat itu tidak ada pengunjung yg berminat. Mungkin strategi bisnisnya salah, wong panas-panas gitu kan harusnya jualan yg segar-segar.

Namun si Ernest ini baik bangat, ketika doi melihan tetangganya kesusahan, muncul sebuah gagasan yg bagus, yaitu mencuri pelanggannya Arnold. Gak lah, dia gak sepicik saya. Ia meraih sebuah zalabia hangat, menggulungnya membentuk kerucut dan menaburinya dengan gula. Kemudian dia berlari ke stan rekannya dan menawarkannya. Masih sambil mencuci mangkuk2 dan menunggu pelanggan, namun kali ini ditamba kebingungan karena tingkah rekannya yg lebih tua ini sibuk sendiri di stannya dia. Si Arnold sudah mau bilang, "woi salah stan bung.", namun ketika Ernest memberikan es krim yg telah di sendokan ke dalam kerucut manis itu ke pada seorang pelanggan, akhirnya ia segera dapat mengerti. Sebuah senyuman lebar menghias di wajahnya, "akhirnya juru selamat gw datang" pikir Arnold, dan dalam sekejap dua orang tersebut bekerja bersama. Setelah itu mereka di juluki World's Fair Cornucopias, dan mereka menjadi populer dalam pameran itu.


Sekarang kita cukup menyebutnya es krim cone, dan mereka tetap populer. Cerita ini selalu mengingatkan saya pada sahabat saya, Yosua Mesiano. Maka lain kali jika kamu mencari sesuatu di hari yg terik, ingatlah Arnold dan Ernest, dan rayakan persahabatan mereka dengan membawa seorang teman utk menikmati sebuah es krim cone. Cerita ini juga saya persembahkan untuk menghargai sebuah persahabatan yg semanis connelo chocochip (loh kok??)


Untuk info lebih lengkap seputar terciptanya ice cream cone, en mau liat foto mereka berdua, bisa cek disini ya.

Bini Baru (Pearl DC 14X6,5)






Saya baru beli snare baru nih. Sebarnya belinya tiga minggu yang lalu, cuma baru sempat di posting sekarang hehe. Mereknya Pearl, Dennis Chambers model ukuran 6,5" X 14", warnah putih mutiara. Lugsnya crhom, plus rim-nya die cas. Shellnya sendiri 4ply 100% maple dengan reinsformen. Keunikan snare ini karena memiliki dua Multi-Trace Throw-Off, sehingga bisa menghasilkan sembilan farian suara!

Pertama kali beli, karena saya ngekos jadinya cuma di tune sembarang aja, dan belum bisa langsung di coba karena belum ada case-nya. Case-nya sendiri baru di beli sewaktu jalan sama-sama anak KDF (cek di posting sebelumnya 'minggu yg melelahkan'). Jadinya baru di bisa dengar suara 'bini baru' ini seminggu sesudah di beli. Pertama kali dengar, wow suaranya asik bangat. Benar kata yang sudah pernah pakai nih snare, soundnya cocok bangat untuk funk en jazz. Popnya juga dapat.

Tapi karena ini snare baru plus head baru, jadinya snare ini masih belum jelas tone-nya. Namun setelah di gunakan beberapa kali plus di tune ulang, suaranya sungguh luar biasa. Over tone-nya terkontrol. Belum lagi karena menggunakan die cas sehingga range suara tidak mudah berubah. Sebelumnya saya sudah khawatir harus sering menyetm snare ini karena masih baru dan juga untuk beberapa sesi saya main extra loud. Namun kekhawatiran saya lenyap sudah. Snare ini benar-benar terkontrol range maupun tuningnya.

Fiture yang saya suka '2 of Pearl's Multi-Trace Throw-Off Systems'-nya. Ini membuat saya tidak perlu menggati snare untuk memainkan dua genre musik yang berbeda. Untuk fungk, tinggal merendahkan posisi strainernya, sedangkan untuk pop or jazz tingga men-tight-kan strainernya. Ini semua hanya semudah menekan satu 'tombol' throw off-nya. Sunggu pengalaman yang asik bermusik menggunakan snare ini. Sayang justru warnanya membuat snare ini tidak selalu cocok untuk semua situasi dan drum set. Seharusnya warnanya dibikin natural maple, sehingga bisa cocok untuk semua situasi dan kondisi.

Untuk snara dengan harga 4juta, ini the best value for ever! Untuk review dari teman-teman yang sudah menggunakan snare ini bisa di cek disini. Sudah dulu ya, gw mau main bareng 'bini baru' gw lagi hehe^^

Selain itu bisa cek di sini untuk pengalaman recording menggunakan SDC1465.

Happy birthday Jakarta!!

Selamat ulang tahun kota Jakarta!!! Hehehe walaupun terlambat satu hari, tapi lebih baik terlambat kan dari pada tidak sama sekali. Kota Jakarta berulang tahun yang ke 480, tepatnya kemarin tanggal 22 Juni.

Di usia yang tidak terbilang muda (iya lah, mana ada umur 480 dibilang muda?!!) justru ’Jakarta’ identik dengan hal-hal yang negatif. Sebut saja kemacetan lalu-lintas (asal tahu saja ya jumlah kendaraan umum hanya 2%, sedangkan kendaraan pribadinya 98%!!), banjir lima tahunan (yang sekarang sudah menjadi banjir tahunan), polusi, dan masih banyak lagi hal negatif lainnya. Hm sepertinya memang kota Jakarta harus banyak berbenah, padahal Jakarta ini berada di urutan ke-9 sebagai kota metropolitan terpadat di dunia. Tapi dari sisi kualitas masih jauh tertinggal. Sebut saja fasilitas umum yang nyaman dan aman, seperti taman kota. Dengan jumlah pernduduk dan luas kota Jakarta, taman yang berfungsi dengan baik dan nyaman tidak sebanding dengan jumlah penduduknya Dari 40an taman, hanya empat taman yg berfungsi dengan baik taman Monas, taman Menteng, taman Suropatin dan taman Lawang (yang disebut belakangan ini berfungsi dan nyaman bagi sebagian orang saja hehehe). Loh kok ini jadi ngomongin taman ya??! Saya bukan dari departemen pertamanan kota kok.

Hal yang agak yang ironis juga, saat perayaan ulang tahu kota Jakarta kemarin yang di adakan di taman Monas. Justru acara ini tertutup untuk umum. Hanya tamu-tamu kehormatan dari luar negri dan kedubes-kedubes yang diperkenankan untuk masuk. Alhasil warga kota Jakarta hanya bisa gigit jadi dari luar pagar taman menikmati kembang api dari kejahuan. Ironis kan, yang berulang tahun justru di luar pagar.

Saya sendiri punya banyak kesan di ibu kota negara ini, tentunya selain hal yang berbau negatif. Hal yang paling saya sukai saat banyak pikiran adalah keliling Jakarta pada dini hari, menikmati sepinya jalan-jalan yang di pagi hari berubah menjadi lautan mobil dan berudara polusi. Biasanya rute favorit saya berakhir di Kota Lama sebelum kembali ke kos. Saya suka arsitektus dan nuansa mistik bangunan Kota Lama, walaupun sayang banyak bangunan sudah mulai rapuh, hancur tak terawat. Sayang sekali. Selain itu juga yang saya senangi dari kota Jakarta ini, semuanya ada disini. Dari sekedar sandang, pangan, papan yang beraneka ragam pilihannya, sampai hal-hal yang sekedar untuk memuaskan batin, dan menyalurkan hobi. Ya namanya juga Ibu Kota negara, pastilah sedikitnya lebih maju dari kota-kota besar lainnya di Indonesia, dan juga lebih lengkap.

Ya terlepas dari problematikanya, baik-buruknya kota Jakarta, ini semua hanya sekedar keluh-kesah, unek-unek dan ucapan selamat ulang tahun dari salah-satu warga kota Jakarta. Apapun itu, harapan kita bersama untuk kota Jakarta agar menjadi kota yang nyaman dan aman untuk di tempati bung Yos. Sekali lagi, selamat berulang tahun kota Jakarta!

Benar gak sih kita bekerja??

Hi guys, bagaimana kabarnya? Eniwei beberapa orang setelah baca blog saya sebelumnya jadi berhenti 'ngejek' item (baca di blog FS saya), huahahahaha berhasil juga sindirannya. Gak lah. Kita kan bisa tahu orang tersebut dengan sepenuh hati bercanda atau dengan sepenuh hati menghina, bener gak guys? Hehehe.

Topik hari ini saya mau cerita aja. Tentang si Budi, karakter rekaan saya (gak kreatif bangat yak?). Jadi baru-baru ini ditemukan sebuah fakta yang amat sangat menggemparkan. Sebuah penelitian (yang telah dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab) membuktikan bahwa sesungguhnya dalam setahun kita tidak pernah melakukan apa-apa di kantor. Jadi mungkin bagi anda yang menginginkan kenaikan upah atau gaji atau bonus di akhir tahun, saya sarankan berpikir dua kali untuk memintanya ke atasan anda.

Fakta ini terungkap berawal dari permohonan si Budi meminta kenaikan gaji di kantor tempat dimana dia bekerja (ya iyalah, masa tempat dimana dia menggaggur?!). Setelah mengajukan surat permohonan peninjauan ulang mengenai gaji, beberapa hari kemudian Budi pergi ke pasar. Gak lah. Si Budi mendapat panggilan kemeja bapak kepala personalia. "Wah pasti nih bakalan bahas mengenai gaji. Pasti. Pasti!", ujar Budi dalam hati. Sepanjang melintasi selasar kantor, Budi mencoba memikirkan isi pembicaraan nanti. Mungkin awalnya bapak kepala personalia akan meminta alasan kenapa dia harus menaikan gaji saya, atau mungkin dia akan... (yg benar beargumen or berargumen sih? Hm sepertinya ber-argumen ya? Cos imbuhan ber menunjukan kata kerja *sambil sok mikir* alaa, gak penting bangat deh).

Back 2 laptop, mungkin kepala personalia akan ber-argumen bahwa kondisi perusahaan sedang susah, dan bla, bla, bla. Pokoknya berintikan tidak ada kenaikan gaji. Tapi tenang, Budi sudah memikirkan semua itu. "Saya akan coba membuat dia melihat bagaimana saya bekerja dengan sangat giat untuk memajukan perusahaan ini", pikir Budi. Bahkan memberikan perspektif lain bahwa harga-harga kebutuhan hidup semakin naik, biaya kos bulan depan naik, mau ganti mobil, ganti HP, ganti laptop, ganti cewe (loh?!). Ya pokoknya kebutuhan pria tanpa istri dan anak ini juga meningkat, dan doi rasa kerja doi sangat sepadan dengan permintaannya. Bahkan Budi telah mempersiapkan diri untuk kejadian terburuk, yaitu berhenti dan menjadi pengamen jalanan. Ya, tapi itu bila kondisinya sangat bangat terpaksa sekali.

Akhirnya tibalah Budi di depan ruangan kepala personalia. Setelah skretarisnya yg cantik itu menyampaikan kedatangan dia lewat telepon, si Budi di persilahkan masuk, di persilahkan duduk, di persilahkan mengambil menu (mau pesan apa pak? Hehehehe). Suasana diruangan senyap. Surat Budi di pegang dan dibacanya sekali lagi. Mata bapak kepala personalia menatap dari balik kaca matanya bergantian dari surat lalu ke arah Budi, kembali ke surat lalu ke Budi. Ke surat terus Budi. Surat terus Budi. Surat, Budi. Surat, Budi. Sampai cape, mirip bangat kondisinya seperti kalo di panggil keruang kepala sekolah karena raportnya kehabisan tinta warna hitam, alias merah semua.

Setelah menunggu dengan harap-harap cemas selama 3jam (yg sebenarnya cuma 5menit), akhirnya bapak kepala personalia mulai memecah kesenyapan dengan berdehem.

"Ehem... Coba kamu ambil kertas dan alat tulis", ujar bapak kepala personalia dengan nada datar. Udah kayak mau disuruh 'tree test' aja (tree test merupakan salah-satu test grafis dalam psikodianostik.red). Tapi karena tidak mau dihukum berdiri dengan satu kaki di depan kelas, akhirnya Budi mengeluarkan kertas dan pensil (iya tahu, sudah gak jaman pake pensil).

"Dalam setahun ada berapa hari?" Dalam hati Budi menggerutu, anak-anak juga tahu pak setahun itu 365 hari. Tapi karena takut dikutuk, akhirnya Budi nulis juga. Beberapa menit kemudian seolah menjadi sekretaris bapak kepala personalia; menulis, menghitung, menjawab semua yg dia suruh. Pokoknya pinter bangat deh si Budi. Setelah 15 menit berlalu, ini hasil tulisan Budi di kertas tsb dan membuat saya pun takjub:

Satu tahun ada 365 hari. Jam kerja dari pk8.00-pk17.00, jika dikurangi jam makan siang, berarti genap 8jam kerja dalam sehari, itu sepertiga dari waktu dalam sehari, dalam setahun menjadi 122 hari kerja.
Kantor tutup pada hari Minggu, jadi berkurang 52 hari kerja, menjadi 70 hari kerja. Dalam setahun setiap pegawai mendapatkan cuti 2 minggu, jadi berkurang lagi 10hari, sisa 60 hari kerja. Paling sedikit ada 6 hari tanggal merah dalam kalender selama satu tahun, jadi sisa 54 hari kerja.
Katakan selama setahun kamu bolos 2 hari karena sakit atau alasan lainnya, jadi sisa 52 hari kerja. Di kantor ini Sabtu juga libur, dan ada 52 hari Sabtu dalam satu tahun.

........

Kesimpulannya: kita di gaji untuk hal yang tidak pernah kita lakukan. Jadi jangan mengeluh yah kalo kerjaan banyak yak, hehehe.

Konser GMB 'Life is Calling'

Tadi pagi bangun dengan mata yang sepet. Eh ternyata buka sekedar sepet, tapi mata sebelah kiri bengkak. Bukan matanya yang bengkak, tapi kelopak matanya yang bengkak. Entah apa yang telah terjadi kemarin malam, mungkin ada hewan asing dalam kamar yang gak tau diri numplek di mata atau justru makluk asing nonjok mata gw.

Anyway kemarin malam saya berkesempatan nonton konsernya GMB. Kalo tidak salah ini pertama kali nonton konsernya mereka. Undangan dari mereka sudah saya terima dari bulan lalu, dari mas Amos sendiri. Cuma karena tidak ada teman ke sana, saya sudah mengurungkan niat untuk nonoton. Tapi untung tidak dapat di tolak, kemarin siang Ferry, PM2 MG, menghubungi saya via sms, ngajak nonton konser GMB di Istora Senayan pk19. Selain dengan Ferry, saya juga ngajak salah-satu teman kos, Richo.

Singkat cerita, kami berangkat dari Grogol jam18, tiba di Istora Senayan pk19 kurang. Masuk dari pintu belakang menuju VIP room. Tiba di ruangan, kami sudah disambut Amos Cahyadi, Adi Prasodjo, dan personil GMB lainnya. Setelah selesai beramah tamah singkat plus melepas mereka dalam doa, mereka pun bergegas untuk naik panggung. Saya sempat kaget juga, karena di VIP room bertemu Bams, vokalis Samson. Di pertengahan acara baru saya tahu kalo doi juga bakalan nyanyi bareng Sidney Mohede.

Konser mulai pk19 lewat. Saya sendiri baru masuk hall setelah lagu kelima. Ternyata yang datang kurang begitu banyak, sepertinya di bawa target panitia. Mungkin ini disebabkan Jakarta yang di guyur hujan dari sore. Saat masuk, saya dibuat terperanjat dengan set-up panggung yg luar biasa. Drum dan percusion di kiri dan kanan panggung, Pongky Prasetyo di tengah-tengah, stage paling atas, dengan empat keyboard disisi kiri dan kanan, lengkap dengan siquenser dan MacBook black. Lighting-nya juga ok. Justru soundsystem yang katanya anggarannya lebih royal tidak terlihat ’wah’. Walopun memang suaranya di ’geber’, namun justru di beberapa titik over trebel, khususnya pada bass dan drum. Padahal ini soundsistem yang sama dengan yang menangani Dewa loh.

Total lagu yang di bawakan GMB 35lagu. Terdiri dari lagu-lagu dari album mereka sebelumnya, kao tidak salah satu lagu hymne, dan dari album baru mereka, dengan judul yang sama dengan tema konser mereka kali ini, ’Life is Calling’. Sempat juga masing-masing personil performens, tepatnya di lagu ’Ajarku Berdiam’. Sedney juga menunjukan performa yang luar biasa, 35 lagu nonstop, plus improfisasi, namun suara tetap konstan, tidak serak. Amos juga luar biasa. Tiga puluh lima lagu, hafal dengan baik keluar masuk dan shycope-shycope-nya. Padahal chart-nya hanya berisikan judul lagunya saja. Memang tercatat satu kali Amos melakukan kesalahan, namun tidak terlalu signifikan. Lagi pula penonton tetap enjoy aja.

Tepat dua jam konser pun berakhir. Kami kembali ke VIP room. Mengucapkan selamat atas suksesnya konser. Sempat makan bersama (justru personil GMB yang kehabisan makanan hehe), terus kami berpisah, kembali ke ’habitat’ kami masing-masing.