The answer for thousand "WHY" in our Life

Cerita ini gw dapat dari temen gw yg mengirimnya ke email gw. Ada beberapa bagian yg sudah gw edit agar bisa dibaca dengan baik. Gw pikir ini bisa menjadi bahan perenungan kita bersama. Selamat membaca guys.


Kadang kita bertanya dalam hati, "apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?" atau "kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?"

Here is a wonderful explanation...

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya meninggalkan dia. Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your cake mom."

"Nah, coba cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.

"Yaiks," ujar anaknya.
"Hm bagaimana dgn telur mentah ?"
"You're kidding me, Mom."

"Kalo begitu mau coba tepung terigu atau baking soda ?"
"Mom?!!"

Akhirnya sang ibu menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."
Tuhan bekerja dengan cara yang sama.
Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.
Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancanganNya, entah bagaimana, tapi dengan sebuah ramuan mujizat, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.
Kita hanya perlu percaya hal-hal yg tidak mengenakan itu harus terjadi untuk menghasilkan sesuatu yg indah pada waktunya.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

ATM (Ambil Tunai Man!)

Beberapa minggu yang lalu saya sempat antri di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) bank Mandiri. Hal biasa sebenarnya, cuma ada sedikit hal yang mengusik keisengan saya.


Tepat di depan saya, seorang ibu yang begitu lama di depan mesin ATM, entah karena lupa mau ngapain atau doyan berdiri di depan mesin ATM. Kalo diamati dari penampilannya, saya mengambil kesimpulan kalo nih ibu-ibu batak habis jemput anaknya sekolah.


Yang sempat bikin saya menyeringitkan kening, karena hape yang digunakan Nokia N95. Wow, hape dan penampilan tidak sejalan lurus.


Anyway, karena lama, saya jadi penasaran apa yang nih inang batak lakukan. Selidik punya selidik, ternyata nih ibu sedang transefer-mentransfer. Udah gitu keknya list transfer yang dia catat di hapenya banyak bangat, dari tadi gak habis-habis.


Setelah melewati penantian yang panjang, tuh ibu selesai juga (akhirnya..!). Dan ternyata memang dari tadi hanya transfer aja, tanpa narik duit. Ya oloh!! Saya sudah mau nyeletuk aja dari belakang, ”bu, pake hape itu sudah bisa langsung transfer. Hape saya aja yang lebih murah bisa buat transfer!”


Saya juga termasuk orang yang hobi dengan hape baru, tentunya sampai batas tertentu. Salah-satu batasan selain kantong adalah pendayagunaan. Kalo saya tidak bisa memaksimalkan semua fitur yang berlimpah dalam hape tsb, itu membuat saya merasa tertantang untuk memaksimalkannya. Cuma memang di Indo ini, banyak orang lebih suka menggunakan hape mahal dan bagus, hanya sekedar untuk telepon dan smsan, tanpa tahu potensi yg besar di dalam hape. Mentok-mentoknya alasannya untuk berkirim fax (ini lasana umum kenapa orang beli komunikator E-90), padahal orang sudah sampe ke bulan; jangankan untuk fax, berkirim email atau chat sudah semudah berkirim sms. Seharusnya mereka melihat para teroris yg begitu kreatifnya, hanya dengan bermodalkan hape yg ala kadarnya, namun bisa berdampak luar biasa dalam pendayaannya (walopun kearah yg negatif).


Begitu juga dalam hidup. Banyak dari kita sebenarnya memiliki fitur-fitur (baca potensi. red) yang besar, namun pendayagunaannya tidak maximal. Banyak alasannya, entah karena tidak sadar kita punya potensi yang besar, atau memang tidak bisa menggunakannya. Padahal mereka sangat yakin bahwa diri mereka canggih, atau kalaupun tidak mengakuinya, mereka toh tidak terbebas dari tanggung jawab memaksimalkan diri mereka.


Padahal sama seperti hape, setiap orang diciptakan dengan ’fitur-fitur’ yang berbeda, karena memiliki tujuan yg berbeda pula. Tujuan ini yg membuat setiap individu bernilai, berarti, dan maximal di tengah-tengah masyarakat sebagai mahluk sosial maupun individu.


Sayangnya banyak dari kita tidak sadar akan potensi kita, apa lagi saat ditanya tujuan hidup. Potensi bertalian dengan tujuan kita sebagai individu. Saat kita melihat, menggali, dan memanfaatkan potensi tsb (besar atau kecil, banyak atau sedikit), kita akan menyadari tujuan dari keberadaan diri kita.


Saat semua potensi dalam diri kita dimaksimalkan, kita akan melihat diri kita lebih berarti dan berharga, karena salah-satu tujuan penciptaan kita telah berhasil. Kita akan terheran-heran melihat apa yg bisa dilakukan oleh diri kita, sama seperti saya terheran-heran melihat apa yg bisa dilakukan hape saya.


Hari ini kamu adalah orang yang sama dengan kamu lima tahun mendatang. Yang bisa membuat beda adalah: orang-orang disekelilingmu dan bacaan yang kamu baca.

Balada Minyak Tanah Langka

Minggu-minggu ini suasana Jakarta di beberapa tempat menyerupai suasana Jakarta era 60an. Namun bukan beras yang di antri, melainkan minyak tanah. Di beberapa pangkalan minyak tanah bisa kita jumpai antrian yang panjang, bahkan tidak jarang juga pangkalan minyak tanah yang tutup karena kehabisan stock.

Hal ini juga memicu kenaikan harga minyak tanah, bahkan mencapai angka Rp7000. Wow, lebih mahal dari premium man! Namun walopun harga yg melonjak begitu tinggi bukan berarti barangnya ada. Selain itu juga warga si jatah tidak boleh membeli lebih dari 10liter.

Kelangkaan minyak tanah di picu oleh kampanye pemirintah dalam penggunaan elpiji. Menurut pemerintah, penggunaan elpiji mengurangi subsidi pemerintah sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat (di lihat dari sisi mana ya?).

Untuk mendukung kampanye tersebut, pemerintah menyediakan kompor gas gratis bagi warga miskin. Selain itu juga menyediakan tabung-tabung gas kecil seharga 15ribu yang dapat diisi kembali. Sampai disini terlihat usaha pemerintah yang memang mengusahakan kesejahtraan warganya. Cuma sayang, karena parah pejabat itu sendiri tidak pernah masuk dapur warganya sehingga tidak sadar usaha yang brilian tsb tidak tepat guna.

Kenyataannya kompor gas tidak di dapat secara cuma-cuma, melainkan warga harus merogoh saku sebesar 20ribu rupiah. Ini memang ulah oknum, namun jika tidak di antipasi sedari dini, tidak menutup kemungkinan harga gasnya pun mengalami markup, atau bahkan tidak hanya warga miskin yang membelinya.

Belum lagi tabung gas ini dirasa kurang praktis, karena harus mengeluarkan 15ribu di muka. Sedangkan dg minyak tanah bisa di beli berdasarkan kecukupan uang saat itu, bisa beli 5liter or 1/2liter saja, tergantung mau masak apa&apakah uangnya cukup (yang trakhir ini yg menjadi alasan utama).

Faktor kepemilikan kompor yang mengharuskn 1rumah 1kompor disebut tidak masuk akal bagi yang membuka usaha rumah makan kecil.

Biasanya warteg yang paling kecil saja menggunakan 3kompor minyak tanah untuk menunjang oprasional harian. Kalo mereka hanya diperbolehkan memiliki satu kompor gas bersubsidi, bisa-bisa sore baru kelar masakannya.

Memang niat pemerintah sungguh mulia (tanpa berprasangka buruk), ingin warganya memasak dengan kompor gas, selain karena efisien&bersih, jg meningkatkan gengsi, namun masih butuh waktu yang panjang jika ingin benar-benar menarin minyak tanah.

Seharusnya biarkan minyak tanah tetap di pasaran, kalo memang kampanye kompor gas ala pemerintah adalah program yang bagus, dg sendirinya warga yang akan membuang minyak tanah.




______________________________
Topik ini di ketik menggunakan iP990

iP990i dan venomena Mac (iFreak)



Saya baru beli hape baru nih (promosi nih hehehe). Sebenarnya awalnya agak bingung menentukan pilihan, apakah memilih smartphone or PDA phone seperti sebelumnya. Cuma dengan berbagai pertimbangan akhirnya dipilihlah smartphone P990i produksi Sony Ericsson. Untuk sementara belum dipost gambarnya, nanti menyusul.

Sedikit review, gw cukup puas menggunakan nih hape, secara di pake untuk kebutuhan dasar bertelepon, berkirim email, mencari hotspot wifi, sampe membuat dokument termasuk menulis blog (hope dengan ini bisa lebih rajin nulis blog dan artikel di e-news hehe). Cuma ada beberapa minusnya, ya maklumlah, tidak ada barang yang terlepas dari plus dan minus. Yang paling mengganggu akurasi stylusnya yg kurang akurat, khususnya dalam memark sebuah file. Selain itu ada beberapa menu yg tidak tertampil saat flip sedang tertutup. Mungkin ini disebabkan juga interface yg tidak memungkinkan saat flip tertutup.

Secara keseluruhan ini produk yg bagus dan saya cukup puas. Ada beberapa teman saya yang mengatakan, 'tanggung, kenapa gak sekalian beli PDA phone aja?'. Dari pengalaman saya menggunakan pda memang dari segi office jauh mengalahkan hape ini, namun untuk apa sebuah gadget yg powerfull office jika kita punya laptop? Lagi pula jika saya beli pda phone yang notabene dimonopoli oleh microsoft dengan platfom windows os, jelas tidak kompetibel dengan Mac OS.

Nah yang disebutkan belakangan ini, membuat saya belakangan jadi gandrung dengan produk-produk dari perusahaan raksasa dengan lambang apel. Dari MacBook sampai iPod, bahkan tidak cukup sampai disitu saja, saya memberi nama smartphone P990i saya dengan embel-embel 'i' seperti ciri khas produk Appel.

Selain itu hampir semua folder yang bisa saya rename, saya tambahkan dengan 'i', semisal folder utk video menjadi iVideo, calender jadi iSchedule, web jadi iBrowser (padahal jelas-jelas di MacBook aja gak ada -- web engine-nya sendiri namanya Sfari), dan folder yang isinya foto-foto pacar namanya iLove (dan saya? Tentu saja iFreak). Selain itu wallpaper hape saya juga tidak luput dari perhatian saya untuk menunjukan antusiasme dan kefanatikan terhadap nih brend, yaitu dengan menempatkan logo dari apel puti ini.

Fenomena tsb juga tidak lepas juga mempengaruhi saya dalam hal lain.termasuk barang-barang yang saya ingin beli. Contoh, belakangan ini saya suka dengan warna putih, secara warna yang dipilih Mac untuk membalut produk-produknya adalah warna putih (selain warna hitam). Selama ini saya tidak pernah punya celana bahan warna putih, namun sekarang sudah bisa ditemukan di dalam lemari pakaian saya. Apa lagi baju kemeja putih dan kaos putih. Selain pakaian saya, dalam mencari sarung hape dan flash disk, pun ditentukan berdasar kriteria ini. Sekarang ini saya sedang mencari speaker aktif, dan sudah bisa di tebak, yang saya cari adalah Sonic Gear yang berwana putih. Belum lagi dengan gorden, seprei, sarung bantal dan barang-barang lainnya lagi di kamar saya.

Termasuk juga untuk pacar, saya juga cari yang berwana putih, walopun tidak seputih MacBook ^^

Gempa di Tanah Jawa

Kira-kira setengah jam yang lalu terjadi gempa di tempat saya berada (Jakarta Barat.red). Saya yang berada di depan komputer awalnya merasa seperti kepala berkunang-kunang dan sempat mual. Saya pikir sebelumnya karena terlalu lelah. Namun beberapa detik kemudian terdengar suarang yang menyerukan GEMPA! GEMPA!

Spontan warga berhamburan keluar. Dan beberapa saat kemudian terjadi keramaian di jalan-jalan. Saya sempat menelpon beberapa teman untuk menanyakan keadaan mereka. Saya juga mendapat telepon dari Bogor dan Tangerang bahwa disana juga terjadi gempa. Gempanya sendiri mungkin tidak besar, namun cukup untuk membangunkan orang yang sedang tertidur.
Ternyata gempa ini tidak hanya terjadi di Jawa Barat, namun sampe ke Lampung, Jogja dan sekitarnya. Dari detik.com (saya sungguh tabjub dengan kecepatan berita yang sangat online di internet, ini pertamakalinya saya alami langsung) dan MetroTV diketahui jika pusat gempa terjadi di Indramayu dengan kekuatan 7SR.

Namun sampai saat ini belum diberitakan adanya korban jiwa atau kerusakan bangunan. Namun karena dasar katro, sampai sekarang masih merasa mual dan agak parno, secara saya baru pertama kali (atau baru merasa pertama kali) mengalami gempa.
Beware guys, siapa tahu ada gempa susulan, atau mungkin seperti kata teman saya yang dengan bijaknya menyarankan saya untuk tidak dekat-dekat pantai malam ini (siapa juga sih yang mau kepantai malam-malam begini?!), siapa tahu tsunami menimpa Jakarta.

Communicator E-90

Sebuah fenomena muncul pada tanggal 14Juni kemarin. Di bilangan Rasuna Said Jakarta, ribuan orang rela mengantri untuk mendapatkan Communicator E-90. Tidak tanggung-tanggung, penjualan terbatas yang baru dibuka pada pk09.00 ini sudah dinantikan sejak pk03.00 dini hari.
Hanya di Indonesia orang rela mengantri kurang lebih 6jam untuk membeli Communicator. Hanya di Indonesia Comunnicator bisa laku keras. Bahkan pemilik pertama Communicator adalah Hartono Gunawan, berkebangsaan Indonesia. Di dapat melalui lelang dengan bit terakhir US$5000 (sekitar 45juta rupiah).

Harga resmi E-90 saat ini 10,5juta, turun 6juta dibanding keluar perdananya. Secara nalar, sungguh tidak masuk akal membeli hape seharga notebook, yang kemampuannya juga jauh di bawa notebook. Bahkan dengan harga lebih murah dari E-90, kita sudah dapatkan notebook seukuran buku tulis, lengkap dengan pemutar dvd, koneksi yang lengkap, prosesor yang kencang, layar yang lebar, memori yang lebih lapang, office application sungguhan dan tentunya ini notebook yang sebenarnya. Lantas mengapa E-90 ini laku keras, khususnya di Indonesia?
Setelah di tengok jeroannya pun, selain menggunakan prosesor (ARM11- OMAP2420 330MHz) dan RAM paling besar di kelas hape (128MB) tidak ada yang istimewa.

Bandingkan dengan salah-satu spec PDA yang prosesornya Intel Xscale 624MHz (2X lebih cepat dari E-90) dan RAM 64MB/ROM 1GB (4Xlebih lapang) dengan selisih harga 3juta lebih murah dari E-90.

Oprating system (OS) E-90 pun menggunakan Symbial v9.2 3rd edition pack 3.1, atau bahasa sederhananya tidak ada perbedaan dengan hape Nokia seri N lainnya, khususnya N95. Tapi tentu saja E-90 jauh lebih mahal dari N95. Jika seseorang cukup waras, pastilah dia lebih memilih PDA phone sebagai sekunder office gadget setelah notebook jika memang itu alasannya untuk memiliki hape pintar tsb (baca E-90). Lantas apa yang membuat orang menghilangkan kewarasannya untuk membeli E-90?

Ada statistik (dari tabloid Pulsa, lupa edisi keberapa) yang menyebutkan bahwa pengguna communicator di Indonesia adalah pengusaha (masuk akal), pejabat (gak malu pak beli dengan uang rakyat?), sisanya karena dikasih orang (saya juga gak nolak kalo dikasih) dan sebagai identitas diri (mungkin KTP kurang mewakili identitas diri bagi mereka). Jika memang statistik ini benar, berarti pengusaha di negara kita tidak mencerminkan asas tepat guna, atau mungkin sudah menghilangkan kewarasannya. Jika memang statistik ini dapat dipertanggungjawabkan, berarti pejabat di negara kita sudah menghilangkan nuraninya, atau sekali lagi kewarasannya telah terganggu.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan rekan mengenai hape ini. Saya sempat tertegun sewaktu dia menyebut hape ini dengan E-go (angka sembilan di baca G). Saya jadi menerka-nerka, bisa jadi Nokia dengan sengaja me-lebel hape ini dengan E-go agar menunjukan pesan tersebut. Hape yang di produksi untuk memuaskan E-go penggemar gilanya. Ironisnya pasar terbesarnya adalah Indonesia (negara kedua diluncurkannya E-90, itu pun setelah Firlandia, negara asal Nokia). Mungkin di mata dunia, Indonesia ini adalah negara berkembang (jika tidak ingin di bilang koleps) dengan E-go paling gila.

Bagi saya, E-90 adalah hape cerdas bagi orang-orang yang bodoh. Dan kebodohan itu di bayar dengan mahal.

Cinta, komitmen dan pernikahan

Belakangan ini saya sering pengamati perkembangan Ciklit, novel-novel Indo yg baru, or cinema-cinema remaja Indonesia, khususnya produksi Rits Frame. Ceritanya sudah pasti menyangkut cinta, komoditi paling laku di pasar. Kebanyakan pesan yang ingin disampaikan penulis adalah cinta yg tulus, tidak melihat perbedaan, cinta sejati, bla, bla. Tapi saya tanya kepada anda. Jujur, benar gak sih kenyataannya seperti itu?

Karena pada faktanya banyak dari pasangan menikah bukan karena cinta. Justru memang benar menikah bukan karena cinta. Konsep menikah karena cinta adalah produk dari Holywood. Makanya karena alasan utama menikah adalah cinta, saat pernikahan tsb berjalan dan tidak ditemukan adanya cinta, maka sso dapat saja bercerai. Makanya mereka tidak salah. Tindakan yang benar adalah yg memiliki alasan, walaupun terkadang tidak masuk akal dan tidak bisa diterima semua orang. Namun jika tindakan tersebut tidak memiliki alasan, berarti sia-sia. Jika tindakan tsb sudah sia-sia, untuk apa lagi di teruskan, karena yang lebih parah dari pada mati sia-sia adalah hidup yg sia-sia, karena itu berarti setiap hari adalah kesia-siaan.

Menikah karena cinta adalah FAKE. Kebenarannya, kita mutlak harus mencintai orang yang kita nikahi. Jika alasan kita menikah kareana cinta, dikemudian hari kita tidak cinta atau cinta kita berkurang, maka dengan mudah kita bisa berkata cerai. Kita bisa saja menikah dengan siapa saja yang kita temui di jalan, tapi sesudahnya kita harus mencintai dia apa adanya, itu mutlak.

Contoh lain lagi, kasus dimana menikah karena merasa cocok. Tentunya dengan berbagai pengertian yang berbeda-beda mengenai kecocokan tsb. Ada yang menafsirkan kecocokan itu persamaan minat dan sifat, ada juga yang justru karena tidak sama sehingga saling melengkapi seperti gerigi roda. Apa pun itu, biasanya seteleah menikah, justru pasangan tersebut akan bercerai karena alasan mereka tidak cocok. Bagaimana mungkin sih sebelum menikah cocok, en setelah menikah jadi tidak cocok??

Pasangan lain lagi berkata mereka menikah karena seolah-olah mereka sudah saling kenal sejak lama, padahal baru bertemu dua minggu. Seolah-olah mereka tahu apa yang pasangan mereka mau, pikirkan, dan lain sebagainya. Tapi setelah menikah eh mereka justru tidak saling kenal, seolah tidur seranjang dengan orang yang tidak mereka kenal sama sekali. Lucu hah? Apa pernikahan itu seperti kantong doraemon, yang mengubah semua hal baik menjadi buruk setelah melewatinya?

Kata beberapa ahli, itu semua adalah perasaan yang ditimbulkan oleh bunga-bunga cinta. Perasaan yang sama ini juga yang sinonim dengan cinta itu buta, atau cinta itu tidak bermata. Pokoknya cinta itu isinya semua yang menyenangkan dari hubungan lawan jenis, sama seperti dongeng-dongeng sinderela atau negri di awan. Tapi hanya komitmen yang dapat membuat cinta itu menjadi nyata; menciptakan negri awan di tengah dunia. Tapi komitmen berisikan semua yang tidak mengenakan dari hubungan. Satu-satunya yang dapat menyeleamatkan lembaga pernikahan dari resiko kandas adalah komitmen. Komitmen itu sebuah janji ikatan, janji kesetiaan, tapi bukan saja kepada pasangan kita, namun ke pada Pencipta kita, bahwa kita akan menjaga pasangan kita. Jadi saat kita melanggarnya, sesungguhnya kita bukan saja bersalah kepada pasangan kita, namun kepada Pencipta kita. Seolah kita membohongi Dia. Komitmen itu perlu diusahakan dengan segenap akal dan kemampuan.

Tapi tentu saja saya tidak menyerankan untuk menikah dengan siapa saja yang anda temukan di jalan, karena selain mereka juga belum tentu mau menikah dengan anda, anda juga akan di anggap gila. Tentu saja kita mencari pasangan yang kita rasa sepandan, cocok, nyambung dengan kita, cakep or cantik. Pokoknya yang terbaik yang bisa kita dapatkan sehingga buka mata lebar-lebar saat mencari pasangan, karena setelah menikah anda harus menutup mata serapat-rapatnya. Waspadalah, waspadalah!