Ujian Persahabatan Dalam Pilpres

Semua perhatian sosial media saat ini sedang terserap ke pemilihan presiden 2014, bahkan yang menjadi sangat fenomenal, mengalahkan hebohnya World Cup 2014. 

Kita simpan soal kenapa pilpress kali ini begitu fenomenal di jagad maya, khususnya sosial media, kita juga tidak akan membicarakan capres-nya juga. Posting kali ini yang saya ingin angkat adalah beberapa fenomena yang belakangan sering didengungkan, yaitu black-campaign.

Kata ini sering dilontarkan, tapi sepertinya orang-orang gak tahu apa sebenarnya black-campaign ini, hingga akhirnya muncul seruan untuk kampanye damai, yaitu tidak mengungkit keburukan salah-satu capres, karena keduanya toh anak bangsa. Jujur, ini tol*l menurut saya. Maaf, kasar, mungkin bahasa halusnya, t o l * l . . . 


Kenapa saya bilang demikian? Karena hanya orang demikian yang pacaran dan mau tahu cuma yang baik dari pasangannya. Bisa kamu bayangkan jika kamu laki-laki, punya pacar yang setia, baik, jujur, cantik, sesuai dengan keriteria yang kamu inginkan, dan setelah menikah kamu baru tahu kamu gak bisa punya keturunan dengan pasangan kamu. Karena pasangan kamu dulunya seorang pria. Protes? Makanya kuping jangan dimanja.

Yang lucu adalah orang-orang yang paling vokal ngomong politik ini, biasanya yang baru-baru ini ikutan eforia aja.

Saya masih ingat kata dosen saya, selalu mulai dari definisi untuk memahami sesuatu. Jadi saya akan mulai dari definisi kampanye dulu, sebelum ngelindur ke mana-mana. Ini definisi dari wikipedia, dan sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Kampanye adalah sebuah tindakan bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna memengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian.
Kampanye politik adalah sebuah upaya yang terorganisir bertujuan untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih dan kampanye politik selalu merujuk pada kampanye pada pemilihan umum.

Perhatikan yang saya bold. See? Menyampaikan kejelekan seseorang itu bagian dari sebuah kampanye. Jadi negative-campaign itu sah saja, dan menyampaikan kelemahan/kekurangan calon kandidat itu bukan black-campaign. Hello??

Black-campaign itu adalah menyampaikan fitnah, dan atau menjebak calon kandidat. Kejelekan atau kejahatan lawan politik diada-adakan. Pemalsuan foto, dokumen, dsb.

Nah, itu yg bikin males, kita jadi gak tahu mana yang benar dan mana yang enggak kan. Jadi lebih baik gak usah ngomong yang jelek lah.

Menutup mata terhadap sebuah kejelekan tidak serta-merta membuat kejelekan tsb hilang. Kita hanya mengabaikan, dan mengabaikan itu sama saja menduduki masalah. Cepat atau lambat akan membuat pantat kita sakit. Alasan paling sering seseorang bercerai adalah karena menutup mata dari kejelekan/kelemahan pasangannya sebelum menikah, dengan harapan sifat tersebut akan hilang. Makanya nasehat orang bijak adalah sebelum menikah buka mata lebar-lebar dan setelah menikah tutup mata rapat-rapat. Jadi mumpung kita masih bisa memilih, ya gunakan akal sehat untuk memilih dengan benar dan kritis.

Masalahnya kita susah sekali membedakan antara kritis dan skeptis. Kritis dan skeptis punya titik mula yang sama, yaitu keraguan. Bedanya kritis mencoba mencari jawaban atas keraguan tsb hingga akhirnya menemukan satu jawaban yang sahih, sedangkan skeptis berhenti pada keraguan.

Nah di sini masalahnya, kita terlalu malas mencari, inginnya disuap, inginnya tinggal baca tanpa rasa ingin tahu dari mana berita tersebut bersumber. Makanya kita mudah sekali dijajah, dijadikan domba aduan, karena cuma mau yg enak tanpa usaha mencari tahu sebuah kebenaran. Kita mudah untuk dibohongi, padahal mencari informasi saat ini semudah kita membuka google, tapi rasa malasnya seperti kita nge-gym.

Kalau sudah demikian, sebaiknya kita berhenti membicarakan politik, karena bicara politik tanpa pikiran yang kritis akan berakhir dengan debat kusir dan kata-kata kasar. Itu yang sekarang kita lihat di jagad maya.

Akhirnya kita jengah dengan pilpress karena setiap hari yg muncul di time-line kita adalah pertengkaran demi pertengkaran, kemudian kita menjadi benci dengan salah satu capres, padahal kan bukan salah capres nya :D

Nah jadi bagaimana menyikapinya?

Ini masukan dari saya. Jika ada teman-temanmu di sosmedmu yg sampai fanatik dengan salah-satu capres, ya sudah lah, kan cuma sebulan ini saja kayak gitu, namanya juga eforia. Maklumi saja. Kalau tidak suka, unshare, unfollow; kan bukan berarti jadi musuh. Kalau sampai unfriend gara2 capres, ya bukan capres kali yg salah, tapi memang pertemanan kalian saja yg dangkal. Kedewasaan seseorang akan terlihat saat berdebat/beda pendapat, jadi anggap saja itu cara kita mengenal seseorang. Makanya dulu ada lomba debat, ada pelajarannya, karena debat itu tidak cuma adu kata, adu argumen, tapi cara kita membuka wawasan dan pergaulan. Bingung? Ya artinya kamu masih perlu belajar lagi. Beres toh. Bos-mu tidak kasih bonus karena beda pilihan capres? Yah ampun, beda agama saja bisa dipecat. Paham kan maksudnya? Kita tidak bisa menuntut orang untuk jadi cerdas.

Bagi saya eforia pilpres ini hanya cara cepat melihat kualitas sebenarnya teman-teman kita, orang-orang dekat kita. Bagus kan sebenarnya?

Ini seperti dulu perang fanboy antara android dengan iOS (yang dimenangkan oleh Android tentunya). Jangan salah, yg sampai unfriend dan cerai juga ada. Konyol? Yah itu memang fenomena sosial, salah-satu cara kita, mahluk sosial, untuk belajar dan berevolusi mental. Namanya juga eforia. Nanti dengan sendirinya semua akan kembali stabil sesuai dengan teori kelembaman.

Nanti yang ribut-ribut sama temannya sampai ngata-ngatain kasar akan malu sendiri setelah selesai pilpres, karena ternyata yang menang gak segitunya, atau yang kalah juga malah segitunya. Terus saling malu-malu, minta maaf, lalu ha ha hi hi lagi... Ngebeer lagi. Itu yang disebut persahabatan. Bagus kan, pilpress buat menguji persahabatan. 

Gimana kalau musuhan terus?
Yah harusnya kamu gak masukan dia ke list 'sahabat' dari dulu sih.

Jadi nikmati saja. Gak kuat? Ya tutup kuping sosmed mu.







0 comments:

Posting Komentar