Pameran Foto: 'Kota & Jejak Peradaban' Ekspedisi Sabang-Merauke


Berawal dari informasi yang saya dapatkan di twitter, bahwa pameran foto Ekspedisi Sabang-Merauke sedang berlangsung di Kota Kasablanka (Kokas) sejak tanggal 30 Desember lalu. Langsung saya niatkan mencari waktu untuk menyambangi kembali Kokas yang terkenal macetnya demi menyimak pameran ini. Apa lagi ada penjualan buku fotonya, mendahului distribusi di toko buku, lengkap sudah menebalkan niat saya.


Akhirnya hari ini (Sabtu) saya berhasil juga tiba di Kokas. Fyi pameran ini hanya berlangsung hingga 5 Januari (besok) loh.


Singkat saja, foto-foto di sini merupakan rekam jejak para pewarta foto Kompas selama 40 hari dari titik Nol Indonesia, alias Sabang, hingga Merauke. Menempuh total perjalanan lebih dari 8000 km. Tentu saja dengan waktu yang terbatas dan medan yang luas, cerita yang dihasilkan tidak holistik, dan masih banyak lagi yang bisa digalih. Namun bisa dianggap perjalanan dan buku ini sebagai stimulus untuk ekspedisi-ekspedisi lain guna menggali kisah di berbagai belahan Nusantara yang belum terjamah.

Pameran foto selalu menggugah hati saya. Ada rasa takjub sebuah gamber bertransformasi menjadi foto, dan kemudian dicetak dalam ukuran besar untuk disimak dan diresapi. Syukur-syukur bisa didiskusikan, dan apa lagi dengan teman yang cantik. Tapi serius, coba deh sekali-sekali mencetak foto-foto yang ada di smartphone mu, rasanya pasti akan berbeda. Apa lagi jika foto tersebut lumayan bagus, coba cetak dengan ukuran sedikit besar, kemudia pajang di dinding rumah saja (jika belum ada dinding pameran yang berminat). Pasti jadi takjub sendiri.


Kembali lagi ke pameran ini, yang menarik adalah foto ditampilkan dengan berbagai level penikmat. Beberapa foto ada yang langung terlihat 'wah' begitu dilihat; semua orang tahu dan melihat nilai artistik foto tsb. Ini saya sebut sebagai foto popis. Lalu ada foto-foto yang memiliki tegangan tinggi khas documentary yang memuat informasi aktual, hingga foto-foto kontemplasi dengan simbol-simbol dan visual literacy yang dalam. Selain itu ada juga foto essai, foto yang tidak berdiri sendiri.

Kalau mau cermat, mungkin saya bisa menghabiskan seharian penuh di Kokas menyimak dan menikmati setiap foto-foto ini, dan masih merasa kurang. Bukan berarti karena saya paham, sebaliknya, karena lebih banyak foto-foto yang tidak saya pahami maknanya. Satu dari sekian banyak contoh, ada pola yang mengganjal dari foto-foto ini yang dipotret tidak sejajar garis cakrawala. Saya sampai beberapa kali memastikan bahwa bukan karena fotonya terpasang miring. Pola ini berulang di beberapa foto, mengganggu orientasi. Tapi menarik. Magis. Entahlah.

Yang menarik juga dari mengamati foto seperti ini, adalah bukan sekedar moment yang dibekukan, namun proses berpikir kreatif yang melatarinya. Ada satu foto, foto di atas kapal feri penyebrangan di danau Toba menuju pulau Samosir. Saya pernah ada di feri yang sama, rute yang sama, arah cakrawala yang sama, bahkan background yang sama, tapi mata saya miss melihat scene yang sama. Perbedaannya tentu pada proses berpikir dan menyimak realita.

Di sini fotografi bukan sekedar rekam jejak kejadian, tapi proses berpikir dari fotografernya. Makanya tidak heran foto itu bukan sekedar berisi mengenai kejadian, tapi mengenai isi pikiran si fotografer.

Ah tanpa terasa waktu sekejap menjadi 4 jam, tulisan singkat menjadi selaskar kalimat. Saya pun paham tidak mungkin menikmati semua kekayaan ini dalam sehari. Akhirnya dengan semangat saya menuju counter penjualan buku foto Ekspedisi Sabang-Merauke. Harganya cuma 200,000 plus tshirt ekslusif dari Kompas. Dijamin gak rugi belinya. (bukan posting berbayar :D)


Akhirnya sisa hari ini saya habiskan dengan menikmati buku ini. Bersambung untuk review buku ini ya :)






0 comments:

Posting Komentar