20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 215halaman
Format : 14 cm x 21 cm

Buku ini merupakan gaung pra Anugerah Sastra Pena Kencana, selain buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008. Anugerah ini hadir untuk memberikan sebuah bentuk apresiasi ke pada dua bentuk sasta terpopuler, puisi dan cerpen. Memang hembusan angin reformasi pun berdampak dalam apresiasi cerpen dan puisi. Honor tertinggi untuk kedua sastra ini 250 ribu (puisi) dan satu hingga satu setengah juta rupiah (Cerpen), tapi masih juga ditemukan honor puisi 50 ribu dan cerpen 100 ribu rupiah.

Memang sudah banyak bentuk-bentuk apresiasi terhadap kedua sastra ini di Indonesia, seperti Kompas yang setiap tahunnya salalu memilih puisi dan cerpen terbaik (sampai 15juta rupiah), dan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Namun selain itu masih jarang adanya bentuk-bentuk pengharagaan secararutin yang diberikan terhadap pusi dan cerpen. Paling banter oleh Khaltulistiwa Literary Award (dengan masing-masing pemenang sekitar 100 juta rupiah), namun syarat utama pesetanya harus sudah menulis buku. karena alasan-alasan itu lah, Pena Kencana mengadakan perhelatan akbar ini.

Cerpen dari mana saja yang dimuat di sini?
Karena tidak bisa dipungkiri dewasa ini media terpopuler untuk sastra populer ini ialah koran (sastra koran), maka nominasi dipilih dari koran-koran nasional maupun daerah, seperti Jawa Post, Lampung Post, Bali Post, dsb. Selain itu, para pembaca juga dapat berpartisipasi dengan memilih cerpen terbaik (khususnya dalam buku ini) melalui sms interaktif. Cerpen dengan jumlah pilihan terbanyak akan menjadi Cerpen terbaik pilihan pembaca, sedangkan pemenang mutlaknya ditentukan dewan juri.

Dan inilah 20 Cerpen yang akan bersaing;

Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi -- Agus Noor
Agus mengambil tema universal mengenai kematian. Membuat iri pembacanya dengan rahasia yang hampir diinginkan semua orang yang hidup. Ow iya, kamu bisa menemukan sindrom kopi di sini (pernah saya utarakan dalam postingsaya sebelumnya).

Paragraf Terakhir -- Antoni
Antoni memulai cerita dengan sindrom kopi (di cafe dengan segelas kopi). Jujur saja mungkin kesastraan saya maih awam, sehingga kok rasanya cerpen ini justru seolah seperti sepenggal bab dalam sebuah novel. Menjadi krusial saat berdiri di dalam bab novel, namun tak terselesaikan saat berdiri sendiri menjadi Cerpen. Tapi mungkin ini bukan paragraf terakhir, karena seperti penulisnya yang tidak diketahui.

Sumur Keseribu Tiga -- AS Laksana
Nah ini dia penulis favorit sekaligus guru saya. Namun seperti kebanyakan cerpen AS, saya kurang dapat menalar cerpennya.

Hikayat Kura-Kura Berjanggut -- Azhari
Berkisah mengenai seorang pendongeng yang kerap menghibur para pelaut yang menyandarkan kapal-kapal mereka di dermaga kesultanan. Sayangnya pendongeng ini dianggap menghina sultan, dan dongeng Hikayat Kura-Kura Berjanggut menjadi penyebab dan sekaligus dongeng terakhir yang ia tuturkan sebelum mati.

Sinai -- F Dewi Ria Utari
Mengadaptasi tema dari Kitab Suci perjanjian lama, kisah Musa dan gunung Sinai. Tentunya dengan interpretas imajinatif penulisnya.

La Cage aux Folles -- Eka Kurniawan
Mengisahkan sebuah Pub yang berada di jalan panjang La CiƩnega Boulevard, California. Sedikit berbeda dengan pub-pub pada umumnya, karena pub ini menampilkan penyanyi yang memiliki wajah mirip artis terkenak, hasil operasi pelastik dan pergantian kelamin.

Bukan Yem -- Etik Juwita
Setelah tiga cerpen sebelumnya berlatar di luar negri, cerpen garapan Etik kembali lagi mengisahkan salah-satu polemik di Indonesia. Cerita ini berlatar para TKW yang baru kembali ke Indonesia, bahwa ternyata setelah pulang dari luar, mereka juga harus melalui pemerasan di negrinya sendiri.

Betaljemur -- Gunawan Maryanto
Gaya bertuturnya mirip kisah-kisah hikayat, atau dongeng sebelum tidur. Pesannya juga lugas, cendrung usang.

Kami Lepas Anak Kami -- Gus tf Sakai
Cerpen ini mungkin bergenre surealis. Mungkin mimpi, mungkin juga waham. Cerita dimulai seolah-olah orang tua yang sedang kehilangan anak, dan berbalik di akhir menjadi anak yang kehilangan orang tua.

Tiurmaida -- Hasal Al Banna
Mungkin rasa kebangsaan saya kurang, tapi saya suka tidak habis pikir jika sebuah cerita harus memiliki nama tokoh yang sulit. Menghafalkan nama saja sudah merupakan sebuah masalah tanpa akhir, ditambah lagi dengan sulitnya nama tersebut. Mengisahkan seorang wanita yang berusaha melawan nasib. Kalo saya lihat, justru akhir cerita merupakan kebahagiahan, karena akhirnya memperoleh tempat persinggahan.

Saleha di Tengah Badai salju -- Ida Ahdiah
Kita jalan-jalan keluar lagi. Temanya serupa dengan 'Bukan Yem', hanya saja masalah yang ditampilakn adalah pergolakan sebagai tenaga ilegal.

Kupu-Kupu Ibu -- Komang Ira Puspitaningsih
Terus terang saya suka sekali bagian awal dari cerpen ini. Sayangnya Ira menyelesaikannya dengan ringan (menurut saya loh ya!). Dalam bingkai yang terbatas ini, Ira juga memaksimalkan sudut bernarasi, walaupun cendrung sama.

Dua Perempuan -- Lan Fang
Cerpen ini unik. Berkisah mengenai pertanyaan-pertanyaan antara dua wanita yang bertetangga kamar. Uniknya seolah cerpen ini miliki dua penulis dan dua cerita berbeda namun bertalian. Dan akhirnya menyinggung mengenai masalah gender. Sayangnya dialog di akhir cerita kurang apik, malah terkesan dipaksa agar cocok.

Mawar di Kanal Macan -- M Iksaka Banu
Ceritanya khas cerita ranesi, atau kisah-kisah berlatar jaman perjuangan dulu. Temanya sendiri tentang cinta. Satu hal yang bisa dipelajari dari cerpen ini adalah setan pun bakalan kalah jahat kalau wanita sudah sakit hati. Hell.

Sebelum ke Takao -- Naomi Srikandi
Kisah pertemuan sepasang muda-mudi (kalo memang masih bisa diblang muda) yang memiliki nasib yang sama, sama-sama patah hati. Kalo saya tidak salah tangkap. Tema biasa, gaya menulis baik.

Seri Perjalanan -- Nukila Amal
Ini cerpen yang saya baca terakhir dari kumpulan cerpen-cerpen di buku ini. Di mulai dengan membosankan dan jenuh -- seorang musafis yang sedang melakukan perjalanan. Selain itu juga sepertinya cerpen ini cukup panjang. Namun setelah di baca, penulisnya cukup proaktif dalam bertutur. Alurnya juga lumayan.

Di Sini Dingin Sekali -- Puthut EA
Cerita ini menyoroti bencana yang terjadi di Aceh pasca tsunami. Sudut pandang yang diambil pun dari kacamata seorang bocah perempuan. Secara tidak lagsung bertutur mengenai polemik yang semakin sulit setelah bencana.

Sepotong Tangan -- Ratih Kumala
Walaupun judulnya serem, tapi ini kisah manis-romantis. Sayangnya kok lebay ya ??

Cinta di Atas Perahu Cadik -- Seno Gumira
Cerita yang bertutur mengenai sepasang muda-mudi yang saling mencinta dengan deburan nafsu yang sama kuatnya seperti ombak. Padahal masing-masing mereka sudah memiliki suami dan istri. Hm mungkin saya yang kolot, tapi saya kurang begitu suka kisah mengenai perselingkuhan dan semacamnya.

Cahaya Sunyi Ibu -- Triyanto Triwikromo
Mengisahkan tentang kisah ibunya yang berada di panti jompo. Usaha dari Rosa, untuk mencari tahu bagaimana ibunya yang sebenarnya di dalam panti jompo tsb.

Menurut saya, ini pekerjaan yang tidak mudah bagi juri untuk memilih mana yang terbaik dari ke dua-puluh cerpen ini, karena cerpen-cerpen ini dibuat oleh penulis senior Indonesia, dengan tema yang bagus, kesusastraan yang tinggi, dan teknik yang baik. Saya pribadi memiliki beberapa yang terfavorit; Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi (ceritanya melekat lama di benak saya, bahkan iri dibuatnya), Bukan Yem (mungki karena saya jauh dari isu TKW, sehingga kisah ini menarik buat saya), Kupu-Kupu Ibu (saya suka sekali dengan awalnya), dan Dua Perempuan (ini yang terbaik dalam bernarasi menurut saya).

Bagi yang ingin menulis cerpen atau sekedar ingin mengetahui perkembangan sastra Indonesia, pelu membaca buku ini. Paling tidak dari penghargaan semacam ini, kita bisa mengetahui barometer kesusastraan Indoensia dan cerpen-cerpen yang bermutu.

Ranking A buat buku ini.

2 comments:

Wibowo Kosasih mengatakan...

Jadi pengen Beli Jo ...

joh juda mengatakan...

Asik kok bukunya bro. Kalo mau nanti pertemuan brikutnya ta pinjemin. Apa lagi kan ini bisa digunakan untuk mengisi waktu senggang, karena ceritanya pendek (namanya aja Cerpen) :D

Posting Komentar