Sakitnya dan Sendiri

Sudah beberapa hari ini kesehatan saya terganggu. Mulai dari pilek, sampai cedra otot. Hal yang paling saya jengkelkan dari pilek, saya menjadi rentan terhadap dingin. Padahal seperti yang kita ketahui bersama, tidak ada yang namanya dingin bagi badan saya. Entah dipungut dari mana saya ini, karena yang pasti di keluarga saya tidak ada yang tahan terhadap dingin. Bahkan ayah saya bisa uring-uringan dengan dingin.

Pernah suatu ketika ayah saya masuk kamar saya untuk mematika AC kamar, dikarnakan kaca ventilasi jendela dan lantai kamar saya berembun. Namun begitu masuk betapa kagetnya ia ketika menemukan anaknya mengenakan kutang dan kolor sedang asik chating di depan laptop. Entah setan mana yang merasuki ayah saya itu, saya langsung di getok pake gagang sapu, suruh matikan ACnya.

Tidak hanya ayah saya, prihal ini sudah tersebar ke seantero anak-anak kost yang pernah se-kost dengan saya, bahwa tidak hanya urat malu saja yang sudah putus, melainkan juga saraf sensorik saya juga telah putus. Tapi begitu pilek datang menghadang, itu artinya saya berbalik 180 derajat, bahkan lebih rentan hawa dingin melebihi orang normal. Kalo orang-orang di luar bilang panas, saya bisa merasa dingin (jelas, soalnya saya masih di kamar ber AC).

Berbeda dengan pilek yang ditularkan dengan kurang ajarnya oleh adik saya, cedra otot ini saya alami saat melatih otot lengan atas dengan push up dan chin up. Dengan bijaksananya saya melakukan superset untuk latihan ini. Lengan tangan bagian atas terasa sakit dan pegal, tapi saya pikir itu seperti biasa saat usai fitness. Keesokan hari, saat mandi, batapa takjubnya saya. Ternyata hasil latihan saya langsung membuahkan hasil dengan membesarnya lengan atas saya. Selidik punya selidik, itu bukan besar karena otot, melainkan karena bengkak. Sampai sekarang lengan saya tidak bisa ditekuk. Apes!

Pesan moralnya, kecilkan pantat dan perut anda dulu sebelum mencoba mengangkat badan anda.

On a different note, baru-baru ini saya mendapat teman baru di friendster. Anaknya cukup asik, namun yang patut disesalkan, dia mengenal saya melalui mystory, blog saya di FS. Kenapa disesali? Karena blog tersebut isinya mengenai kegilaan, dan aib saya. Apes bener deh.

Pertanyaan yang ia lontarkan, kalo baca blogmu, sepertinya temanya tentang kesepian. Kamu lagi kesepian ya?

Ok deh kakak, kamu pintar sekali sih.

Memang tidak diperlukan kecerdasan atau wawasan yang luas dalam bersastra untuk melihat puisi dan prosa saya bertajuk apa, dan saya juga tidak berusaha untuk membela diri. Tapi saya rasa hal tersebut ada hubungannya dengan beberapa hal.

Bagi saya, rasa sepi, sunyi, merupakan bagian dari wajah kesendirian, dan itu lah manusia. Karena pada dasarnya manusia itu mahluk yang solitude, terindividualkan. Memang benar manusia mahluk sosial, tapi sosialisasi dibutuhkan hanya untuk kebutuhan aktualisasian diri, cermin bagi bayang-bayang diri. Manusia yang kehilangan arti saat jauh dari lingkungan sosialnya, adalah manusia yang tidak utuh, karena kepribadiannya justru dimiliki oleh lingkungan sosialnya. Mungkin seperti Narcissus yang merasa tidak berarti saat dia tidak melihat bayang wajahnya.

Saat manusia menjadi utuh, ia akan tetap sama saat sendiri maupun di tengah lingkungan sosialnya, karena memang lingkungannya hanya memantulkan apa yang ada. Saat manusia yang utuh berada sendiri, ia tetap berdaya guna. Bedanya saat berada ditengah lingkungannya, pemberdayaannya berguna bagi khalayan ramai. Manusia harus mampu hidup sendiri, karena demikian lah ia diciptakan. Manusia diciptakan sendiri-sendiri, dengan takdir sendiri-sendiri, dan akhirnya mati dengan sendirinya. Persinggungannya atara manusia dengan manusia lainnya hanya karena kebutuhan-kebutuhan mendasar saja, yang seharusnya tidak menjadi pegangan mereka dalam mengambil keputusan maupun bertindak.

Jika manusia menyerahkan dirinya berserakan kepada lingkungan sosialnya, maka dirinya menjadi miliki sosial, dan bukan lagi miliknya pribadi. Termasuk juga keputusan dan tindakan yang diambil, menjadi milik bersama.

Man is not just a number of in a collection. He has a destiny, and destiny is our individual solitude



.

2 comments:

Wibowo Kosasih mengatakan...

Walah ... kamu ternyata makhluk kutub to ...
Kuat dingin.
Kalau gue makhluk tropis ... gak tahan dingin ...

Jaga kesehatan Joe... Hope all fine.

joh juda mengatakan...

Haha tq Ben :D

Btw nice template man! :)

Posting Komentar