My Parent


Tepat tangga 18 Desember kemarin orang tua gw merayakan wedding anniversary yang ke 28. Sejujurnya gw sendiri lupa, bahkan bokap gw sendiri pun lupa. Yang ingat cuma - seperti yang bisa kamu tebak, nyokap gw. Anekdot: kenapa ibu-ibu selalu ingat tangal anniversary dan tanggal gajian suaminya?.

Melihat mereka, sedikitnya gw tahu membangun keluarga itu susah - wong orang pacaran aja yang notabene masih penuh bunga-bunga cinta bisa berantem, apa lagi orang yang menikah, pasti lebih banyak lagi masalahnya.


Terlepas dari kekurangan dan kelebihan mereka, gw bersyukur memiliki orang tua seperti mereka, gw bersyukur untuk setip didikan yang sudah mereka wariskan secara ketat ke pada kelima anaknya. Hukuman dan reward membuat kami mengerti bahwa setiap hal yang kami perbuat ada konsukuensinya. Dulu sewaktu kami kecil, gw pikir orang tua gw tuh jahat bener dah. Masa cuma nyuri mangga tetangga aja dirotan?? Gw pernah dikejar-kejar pake ikat pinggang gara-gara gak tidur siang. Kalo saat-saat itu diingat kembali justru membuat senyum.

Selain itu kami jarang sekali boleh makan di luar, alias jajan. Bahkan sampai SMP pun gw cuma dikasih uang saku untuk transportasi dan minuman ringan. Dikasih uang pas-pasan biar pulangnya cepat dan makannya di rumah. Hasilnya setelah kami besar-besar justru jadi malas makan makanan di luar, atau jajan.

Dulu juga kami suka meratap kenapa tidak diijinkan main di luar seperti anak-anak tetangga yang bebas bermain di empang, atau sekedar jalan sore. Terlepas dari pro/kontra, sekarang bikin gw gak terlalu suka jalan-jalan di luar, senengnya cuma di rumah aja - istilahnya orang rumahan.

Walaupun mereka hanya tamatan sarjana, tapi pola didikan yang mereka wariskan begitu moderen. Jauh sebelum gw kuliah di fakultas Psikologi, di rumah gw sudah penuh dengan buku-buku psikologi cara membesarkan anak. Gw dengar dari nyokap gw, sebelum punya anak dia cari buku-buku soal psikologi anak dan cara membesarkan anak. Gw masih ingat nyokap gw punya koleksi majalah Ayahbunda bertumpuk di gudang, bahkan sebagian dari artikel tersebut dibuat kliping sama nyokap gw.

Fyi nyokap gw dulu cerpenis loh! Gw lupa nama samarannya, tapi dia sering bangat nulis di Femina tahun 70-80an. Mungkin hobi baca dan nulis gw turun dari dia.

Bokap gw sendiri punya buku tentang pertukangan. Dia yang bikin sendiri box bayi untuk anak pertamanya - yaitu gw, yang kemudian diwariskan ke adik gw yang cewe. Hanya bertahan sampai anak ke tiga mereka sebelum akhirnya rusak. Mungkin karena kami trlalu bandel kali.

Selama 28 tahun itu tidak selalu kami berkecukupan. Gw pernah loh alami di mana untuk makan aja gak ada duit - selesai makan hari ini besok bingung mau makan dengan apa. Buat sekolah harus jual koran dulu *hiks jadi sedih* Tapi itu lah ajaibnya penyertaan Tuhan, gak pernah dibiarkannya seharipun kami kelaparan (kecuali kalo lagi puasa :p), ada aja berkatNya. Kata orang sih itu yang namanya rejeki orang nikah.

Sering bangat setiap gw lihat kebelakang, gw sadar gw belum bisa banggakan mereka - setidaknya itu yang gw rasakan. Gw rasa gw yang paling sulung tapi yang paling sering nyusahin mereka :( Maka dari itu setiap pagi gw bangun, gw selalu berharap dan berdoa yang terbaik untuk mereka; memikirkan perbuatan baik dan manis apa yang bisa gw berikan untuk mereka, biar tidak ada penyesalan dalam diri mereka, dan dalam diri gw sendiri.

Doa gw untuk mereka: biar disepanjang sisa usia mereka Tuhan berikan kerukunan, damai, sejahtra, dan sukacita dengan berlimpah. Seperti mereka menyayangi Tuhan, demikian Engkau menyayangi jiwa mereka.

Amin.

Selamat ulang tahun papa dan mama...
Selamat hari ibu...

2 comments:

Anonim mengatakan...

hiks, gua terharu baca posting-an lu ini, yud...dan hebat yah, skrng msh ada ortu yg merayakan wedding anniversary diluar kawin perak ato emas...hehe..thank u for inspiring me utk merenung ttg ortu gua selama 28 tahun ini, lah?umur kita sama toh?ahahaakaka -sielly mochi-

joh juda mengatakan...

Haha memang lu pikir berapa usia gw?

Posting Komentar