Tragedi November

Ternyata benar apa yang gw perkirakan di awal bulan ini, adalah bulan November yg penuh cinta-cinta. Ouch. Nah kalo sebelumnya agak-agak sentimentil, yg ini agak-agak tragis.

Tanggal 8 Novemer kemarin sahabat gw berkunjung ke Banjarmasin. Sebenarnya dalam rangka tugas kerja, cuma jadinya malah kayak liburan. Gw dah lumayan lama gak ketemu dia, mungkin ada setahun, apa dua tahun. Gw juga lupa. Tapi yang pasti gw kenal dia semenjak 2003, dan menjadi sangat akrab setelahnya karena memiliki minat yang sama pada drum.

November Love

Gw gak tahu dari mana asalnya kenapa bulan November menjadi bulan yang romantis dan penuh dengan benih-benih cinta. Entah karena menjelang natal dan banyak benih cinta yang siap dituai saat Desember nanti atau karena November memiliki satu arti yang lain.

Dengan alasan romantis itu banyak orang yang melangsungkan pesta pernikahannya di bulan ini. Bisa gw tebak tahun depan di tanggal 11 bulan ini pasti banyak sekali diselenggarakan pesta pernikahan.

Milis Aneh!


Pernah ikut milis? Atau mungkin ikut forum?

Bisa dibilang gw banci sosial network, khususnya forum dan milis. Jauh sebelum gw punya BB dan meneriman email semudah membaca sms, gw gandrung dengan yg namanya forum. Tercatat ada 8 forum sebagai partisipan, 4 forum aktif dan satu forum sebagai moderator.

Jaman semakin canggih - sebenarnya milis itu lebih primitif dibandingkan forum, hanya karena menerima email saat ini sudah sangat mudah sehingga komunitas beramai-ramai menggunakan emailgroups sebagai networking.

the Art of Racing in the Rain

Ada beberapa buku yang terlalu fiksi sebagai kisah nyata, tapi ada juga sebaliknya, kisah fiksi yang terlalu logis dan menyentuh seolah itu benar-benar nyata. Gw punya dua buku yang menggambarkan ke duanya, the Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett dan the Art of Racing in the Rain by Garth Stein.

Ke dua buku ini bisa dibilang bersifat sentimentil, sesuatu yang bersifat pribadi. Mungkin karena itu ke dua buku ini bagus untuk dibaca kala santai.

The Man Who Loved Books Too Much

Ada beberapa buku yang terlalu fiksi sebagai kisah nyata, tapi juga sebaliknya, ada kisah yg terlalu nyata dan logis sebagai buku fiksi. Gw punya dua buku yang menggambarkan ke duanya, the Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett dan the Art of Racing in the Rain by Garth Stein.

Ke dua buku ini bisa dibilang bersifat sentimentil, sesuatu yang bersifat pribadi. Mungkin karena itu ke dua buku ini bagus untuk dibaca kala santai.

the Man Who Loved Books Too Much;
merupakan kisah (nyata tentunya) tentang seorang pencuri, detektif dan obsesi pada kesustraan (secara fisik). Ini bukan kisah pencuri biasa, melainkan kisah pencuri buku langka. Uniknya yang mendasari John Charles Gilkey mencuri buku-buku langka tsb bukan didasarkan pada keuntungan melainkan karena kecintaannya terhadap buku, itu jg yang membuat dia sulit ditangkap karena hampir tidak ada jejak. Yang sanggup dia lakukan demi kecintaannya pada buku adalah sampai masuk penjara; kecintaan yang lebih tepat disebut obsesi.

Barangkali yang sama obsesifnya dengan Gilkey adalah Ken Sanders, seorang yang menyebut dirinya "bibliodick" dan sangat ingin menangkap si pencuri. Sanders - seumur hidup menjadi kolektor dan penjual buku langka berubah menjadi detektif amatiran - tak akan berhenti memburu si pencuri yang mengacaukan perdagangannya.

Kisah ini ditulis dengan observasi partisipan oleh jurnalis Allison Hoover Bartlett yang terjun langsung ke dalam dunia buku yang fanatik sekaligus mempesona. Beberapa babnya banyak memuat petikan wawancaranya dengan Gilkey, Sanders, dan beberapa kolektor buku. Bahkan terjun langsung ke berbagai book expo.

Semua kolektor punya kisahnya sendiri, bagaimana mengawali kecintaannya terhadap buku, termasuk juga Gilkey dan Sanders. Buku ini mengisahkan semuanya; ketegangan, wawasan, humor dan obsesi.

Gw bahkan hampir percaya buku ini fiksi kalau bukan karena seringnya mengecek cover depannya untuk memastikan bahwa ini nonfiksi. Kisahnya terlalu fantastis, dengan mendengar banyak buku yang harganya terlalu gila-gilaan untuk dinalar akal sehat. Bahkan ada diantaranya yang berharga jutaan US dolar. Tidak kalah fantastisnya orang-orang yg merelakan hidupnya untuk terjun dan menggeluti dunia ini.

Dan diam-diam, seperti kebanyakan bagaimana setan buku menggerus pesona kebanyakan kolektor amatiran, gw mulai mencari-cari buku tua di gudang dengan harapan menemukan sebuah buku langka bak mutiara yang tersisih. Untung gw gak punya uang ribuan dolar untuk dihabiskan oleh setan buku.

Reportase seperti ini mungkin masih asing bagi kebanyakan orang Indonesia (gw juga jarang menemukan artikel atau rubrik bersambung seperti ini di koran-koran kita), namanya jurnalis sastrawi. Pertama kali dikembangkan tahun 60an oleh... gw lupa namanya. Bahkan artikel pertamanya pun gw lupa, tapi yg pasti gw punya bukunya dan otak gw berceceran sebelum bab ke 2 habis gw baca. Intinya reportase ini ditulis dengan gaya menulis novel, namun bedanya semua data, waktu, pristiwa bahkan nama pelaku adalah nyata sebenar-benarnya, bukan rekayasa.

Bedanya buku ini memuat sesuatu yg sentimentil, yaitu opini pribadi penulisnya. Sebenarnya dapat dimaklumi karena ini bukan sebuah reportase kaku di sebuah koran atau majalah, melainkan sebuah buku komersil; dan sering kali kita perlu sifat sentimenti dalam urusan bisnis komersil. Sayangnya kekurangan buku ini justru datang dari opini-opini Bartlett tsb.

Reportasenya holistik. Repetoarnya bagus. sayang pendapat pribadinya tidak sebagus liputannya. Gw kurang begitu suka kesimpulannya terhadap Gilkey di akhir cerita. Seolah-olah membantah semua tulisan dari awal adalah kisah bohong, alih-alih termasuk hasil manipulasi Gilkey. Itu membuat bahwa kisahnya keliru dan seharusnya menulis ulang soal the Man Who Loved Books Too Much.

Itu sebabnya, selain Agatha Christie, gw gak begitu suka penulis wanita. Mereka membuat buku mereka atau tulisan mereka bertentangan. Kontrarasio. Gak logis. Maafkan penilaian gw, tapi gw belum menemukan penulis wanita yang benar-benar menghentikan dunia gw.





Sent from my Google neXus One™

Selamat Idul Fitri 1 Syahwal 1431 H

Akhirnya pendeta Tery Jones membatalakan niat kesurupannya dalam membakar ribuan alquran. Walaupun ada yang menyarankan lebih baik bakar ribuan koran, tindakan dari pastor Tery Jones sebenarnya merupakan bentuk reaksi dari ketidakmengenalnya dia akan dunia islam dan apa sebenarnya itu islam. Di benak kebanyakan orang barat khususnya, menyiratkan islam adalah agama cinta kerusuhan dan cinta teroris. Padahal sebenarnya ada juga teroris ekstrimis kristen, tapi mereka gak bilang kristen agama biadab.

Gak beda sebenarnya dengan di Indonesia yang menganggap kristen sebagai negara penjajah, terutama mengingat Belanda pernah menjajah negara kita terlampau lama sehingga mematrikan negara Kristen adalah biadab. Doktrinasi yang populer di pesantren dan langgar ini awalnya untuk membangkitkan rasa benci terhadap penjajah, karena ini hal yang paling mudah; membuat kita segolongan dengan kawan dan membuat berbeda dengan musuh (penjajah). Kalo gw bilang ini perang isu agama. Cepat. Mudah. Efektif untuk memprovokasi.

Tapi kalo mau diperhatikan dengan seksama sebenarnya perjuangan ini gagal karena masing-masing suku berjuang sendiri. Bagaimana pun Indonesia terdiri dari berbagai suku dan... agama. Baik agama asli maupun agama yang sama dengan para penjajah. Jadi isu agama gak efektif dan relevan.

Tapi pada saat para pilar negara kita menyelogankan satu bangsa, satu tanah air - prinsipnya sebenarnya sama dengan perjuangan agama yang menunjukan persamaan dengan sekutu dan perbedaan dengan penjajah, namun konsep nasionalisme & kenegaraan punya daya jangkau lebih luas, itu sebabnya perjuangan kita memperoleh kemajuan signifikan.

Entah bagaimana setelah merdeka kok doktrinasi ini masih saja berjalan. Dan bukan rahasia umum bahwa orang Islam menyebut agama di luar Islam sebagai kafir. Untung agama lain gak ikut-ikutan mencari istilah untuk mendiskritkan agama di luar agama mereka.

Tapi mirip dengan pastor Tery Jones dari NYC, dorongan untuk membenci kristen bahkan penutupan beberapa gereja juga didasarkan pada tidak mengenalnya kita terhadap agama Nasrani. Orang bilang gak kenal maka gak sayang. Kenal jadi sayang.

Gw gak tahu apakah pastor Tery Jones mengurungkan niatna untuk membakar Alquran karena sadar tindakannya salah atau karena batalnya pembangunan mesjid di Ground Zero atau karena Idul Fitri 1 Syhwal 1431 H; jadinya saling maaf-memaafkan, tapi yang pasti selama bulan Ramadhan ini gak ada gereja yang IMBnya ditangguhkan diberikan. Padahal selama bulan Ramadha ada grasi untuk para pidana. Mugkin karena Kafir lebih bejat dari pelaku pidana.

Eniwei, ditengah pergolakan ini sebenarnya antara Islam dan Kristen punya banyak persamaan. Terlalu banyak malah. Mungkin itu kali sebabnya, kalo terlalu banyak kesamaan jadinya sering cekcok. Bedanya cuma di Nabinya aja.

Gw gak tahu bagaimana kalo di suku lain, tapi di kampung gw, saat Natal itu dikenal dengan sebutan lain, yaitu 'Hari Pengakuan' atau bisa juga 'Hari Pengampunan'.

Kamu bisa bikin salah atau dosa apa saja sama orang lain atau orang tua kamu bahkan bisa jadi kamu diusir atau minggat atau apapun itu yang membuat hubungan silahturahim kamu putus dengan oang tua, saudara atau kawan. Tapi saat tiba Natal (biasanya malam Natal) maka tibalah air mata menderai di setiap rumah yang memiliki ganjalan maaf. Masing-masing orang di kampung gw sangat tahu dan sadar apapun dosa kita dan apapun dosa orang lain pasti memperoleh pengampunan saat Natal karena sang penebus telah turun dengan wujud Manusia untuk menebus setiap dosa dan pelanggaran.

Gak beda jauh kan sebenarnya dengan Idul Fitri.

Kalo umat Islam pun berpuasa selama kurang lebih sebulan penuh agar kembali pada raga yang fitrah dan puncak dari berpuasa itu adalah saling memaafkan dan dimaafkan, sebesar apapun salah kita, baik pada orang tua, saudara dan kawan.

Memaafkan dan dimaafkan - di sisi manapun kamu berada, itu indah. Jadi kalau kita sudah dimaafkan atau memaafkan, adakah alasan untuk mendendam atau mencari perbedaan untuk diributkan? Mungkin jawabannya ya, agar Idul Fitri tahun depan kita punya sesuatu untuk dimaafkan atau memaafkan.

Itu pun kalau kita masih ada tahun depan.

Sebelum gw lebih banyak ngelindur dengan tulisan gw di posting ini dan membuat semakin bertambahnya dosa gw, sebaiknya gw hentikan sambil menghaturkan permohonan maaf jika ada salah tulisan, baik disengaja maupun tidak pada blog ini. Selamat Idul Fitri 1 Syahwal 1431 H, mohon dimaafkan lahir batin.




Sent from my Google neXus One™

Trip to Pujon

Tepat Senin minggu lalu gw berangkat ke Pujon. Belum pernah dengar? Gpp, lu gak ndeso kok. Bahkan GPS gw aja gak tahu itu kabupaten kordinatnya mana. Google earth jg gagal, yang ditunjukan cuma foto hutan rimba aja.

Pujon itu berada, gak jauh sih sebenarnya, kurang-lebih 100 km dari Palangkaraya. Cuma akses jalannya agak susah. 60 km sisa perjalanan ditempuh melalui jalan yang berbatuan dan menyebrangi beberapa anak sungai kecil. Actually sih ada 33 jembatan dan sungai yg gw lewati. Walaupun disebut jembatan tapi sebenarnya lebih mirip titian mobil. Bayangkan aja, susunan kayu yang menyerupai jembatan itu hanya bisa dilewati satu mobil di waktu bersamaan. Orang jalan aja susah.

Selain itu jalan menuju Pujon hanya bisa dilewati dalam dua kondisi, tidak hujan dan tidak gelap.

Tidak hujan; karena banyak lewati anak sungai, jadi kalo ada hujan dikit aja berarti banjir. Ok, sebenarnya gak dalam sih secara sungainya sudah mengalami pendangkalan akibat penambangan emas, cuma arusnya lumayan kuat. Jangankan mobil, rumah tembok aja banyak yang terbawa arus.

Tidak gelap; sudah gw singgung kalo ini daerah penambangan emas. Jadi orang yang lewat jalan tersebut ya kalo menuju Pujon pasti bawa uang untuk beli emas, kalo dari Pujon ya pasti bawa emas. Yang mana pun, mobil yang lewat pasti bawa harta, jadi kalo gelap pasti dirampok. Dari tiga kali gw ke sana, 2 X nya ada mobil yang dirampok. Yang pertama kijang supirnya dibunuh, yg ke dua kemarin, avanza dirampok plus dibakar. Udah mirip kayak di Simbabwe?

Gw berangkat dari Palangkaraya jam 10 pagi dan tiba di Pujon jam 2 siang. Kondisinya asik, gak terlalu panas seperti biasanya. Oh iya, walaupun listrik belum masuk di kabupaten ini, tapi hampir semua rumah di sini besar, bertembok dan memiliki TV, kulkas, bahkan hi-fi. Listriknya dari mana? Masing-masing rumah pake genset coy, dan sudah pasti berkali-kali lipat dibandingkan TDL kita.

Kabupaten ini gak besar, isinya cuma rumah penduduk yang berderet rapi, satu lapanghan bola, satu gereja, dan satu mesjid di dekat sungai. Ada juga bioskopnya loh! Tapi yang dimaksud bioskop di sini adalah ruang pertemuan yang tiap malam minggu disulap jadi ruang nonton layar tancap.

Kalo kamu tahu sungai kapuas (salah-satu sungai terbesar di Indonesia), nah salah satu hulu sungainya ya di Pujon ini. Letak geografi kabupaten ini berada di pebukitan namun gersang. Memang banyak ditemui pepohonan tapi bukan tanaman produktif. Mayoritas masyarakat di sini bekerja sebagai penambang emas. Katanya sih emas dari daerah ini terkenal karena kualitas dan karatnya yang bagus.

Tapi yang namanya nambang emas, apa lagi tambang rakyat, bisa dibilang untung-untungan. Gak setiap nambang dapatkan emas, atau mungkin dapat tapi gak seberapa. Padahal tiap kali nambang keluar duit untuk bahan bakar mesin dompeng (mesin untuk mengisap lumpur) dan untuk makan sehari-hari aja gak kecil loh. Kalo kamu mikir harganya kayak di Jakarta emang gak seberapa, masalahnya hidup di sana mahal.

suasana salah-satu sudut kabupaten Pujon

Parkiran mobil Rp5000! Kalah-kalah Sency kan. Indomie telor Rp25.000! Gw buka warung di sana bisa jadi jutawan deh. Belum lagi seperti kebanyakan kabupaten di Kalimantan, gak ada SPBU. Harga seliter solar saat kemarin Rp17.000! Jadi hanya orang yang memiliki keteguhan hati dan mental baja aja yang dapat menjadikan nambang sebagai pekerjaan sehari-hari.

Gw sendiri selama kerja di sana nginapnya di rumah penjaga site BTSnya, soalnya penginapan di sana gak ada (jelas, siapa yang mau berlibur ke tempat begitu??). Yang lucu pas gw tanya kamar mandinya di mana. Terus yang punya rumah nunjuk ke belakang. Pas gw sampai belakang yang ada tepian sungai di tengah hutan rawa yang gelap gulita. Jadi lah gw mandi berasa kayak tarsan, back to nature. Dengan bermodal sempak mandi di alam terbuka. Habis mandi gw masuk angin.

bagian belakang rumah, tempat gw mandi

Keesokan paginya pas gw ke belakang, gw baru sadar, ternyata gw mandi di tempat cuci piring dan mereka punya WC....

Yang menyeramkan gak hanya dari lingkungan dan harga barang-barang yang seenak jempol kaki mereka, tapi juga dari kerusakan mesin yang gw hadapi. BTS di Pujon full genset karena listrik belum masuk. Gensetnya sebenarnya ada dua, tapi selama beberapa bulan terakhir ini yang berjalan hanya satu mesin.

Sampai sekarang pun gw masih belum tahu apa penyebabnya. Bayangkan aja genset tsb sudah dalam posisi off tapi tiap kali dipasang accu mesinnya nyala!

Bagus dong Joe kalo nyala?

Nah masalahnya kalo sekedar nyala aja gpp, ini biar kunci starter posisi off dan batre/accu nya dilepas mesin tetap aja nyala!! Dapat tenaga dari mana coba?!

Menambah seremnya tuh mesin, kalo gensetnya mati sinyal BTSnya on (ya mungkin karena cadangan daya di batre BTS), TAPIIII... kalo gensetnya nyala sinyal BTSnya faulty! *garuk-garuk tiang BTS*

menara BTS yang aneh bin ajaib

Setelah menempuh waktu yang panjang menelusuri tiap kabel yang kayak akar beringin itu (apesnya tuh ATS masih menggunakan contactor analog jadi trace-nya non computing - eh kamu jg gak ngerti ya, pokoknya intinya mah lebih susah) akhirnya didapat modul control pannel-nya yg konslet. Wah seneng bangat! Kaya ketemu pacar yang hilang di mall aja. Eh gak deng, ketemu pacar di mall pasti disuruh bawa belanjaan.

Masalahnya ini gak bisa diperbaiki melainkan harus replace hardware, jadi memang harus keluar hutan. Untuk sementara genset di bypass aja biar nyala.

Akhirnya gw balik Palangkaraya setelah lapor ke user-nya. Cumaaa... belum ada mobil gw sampai palangkaraya, dapat email dari Jakarta kalau BTS Pujon faulty LAGIII!! *siapin bensin buat bakar BTS*

Hari sudah gelap kalo mau balik lagi, dan gw sudah pusing kalo mau balik lagi ke sana, jadi gw putuskan aja buat balik ke Banjarmasin.

Minggu paginya dapat kabar dari Indosat, mesinnya sudah hidup. Gw telpon ke penjaga site BTS, katanya mesinnya memang mati tapi nyala sendiri *desperate*

Isi laporan kerja gw di BTS Pujon: Mohon tumbal untuk BTS ditambah.