'Aib' (Disgrace) by J.M Coetzee


Judul asli: Disgrace (1999)
Penulis: J. M. Coetzee
Penerjemah: Indah Lestari
Penerbit: Jalasutra, 2005
Tebal: 317 hlm (97hlm lebih banyak dari edisi asli)
Format: 15 cm x 21 cm










vintage cover


Saya baru selesaikan mambaca buku ini -- yang seharusnya sudah selesai Kamis kemarin. Kesan pertama, wuih... tanpa tedeng aling-aling, gamblang. Sebuah buku yang berisi tentang hasrat yang ditelanjangi tanpa ampun, bahkan hampir tanpa simpati. Dan bagaimana seksualitas menjadi motor, tanpa terkesan murahan.

Apa yang dilakukan David Lurie memang tidak sejalan dengan moralitas yang saya pegang. Sayangnya saya bersimpatih kepada tokoh utama buku ini, karena bagaimana pun dia jujur terhadap dirinya sendiri. Bukan orang yang mengemis dari kemurahan hati publik. Selain itu, bukannya orang harus diberi kesempatan saat mereka memetik pelajaran dari hidup, sekalipun itu sebuah aib?

Sama seperti haru, dan tawa, sebuah aib pun merupakan bagian dari hidup. Aib bukan anak tiri dari kehidupan.

Sebelum semakin bingung dengan yang sedang saya bicarakan, akan saya ceritakan apa isi buku yang berjudul AIB ini.

Berkisan tentang seorang profesor kulit putih di Universitas Teknik Cape, Afrika Selatan didakwah melakukan pelecehan seksual dan memperkosa mahasiswanya (Melanie Isaacs). Dia menerima dakwaan itu (dengan keras kepala), tapi menolak tuntutan minta maaf. Dia mengaggap hubungannya dengan mahasiswa itu sebagai bentuk cinta. Akibatnya dia dipecat secara tidak hormat.

Kehilangan jabtan dan pekerjaan, David Lurie bermaksud tinggal sebentar dengan putrinya untuk menyelesaikan karya opera. Kejadian yang lebih tragis menimpa dia dan putrinya, Lucy. Mereka dirampok orang kulit hitam (
afro-american), dan memperkosa putrinya sampai hamil. Sayangnya, polemik ini menjadi lebih rumit dengan adanya masalah sosial di Afrika Selatan (Apertheid) dan tentunya nama baik Prof. Lurie yang tercoreng.


Buku ini sudah lama terbit (edisi Indonesianya 2005), sehingga banyak (beberapa) juga yang review edisi Indonesia-nya. Bisa di cek disin. Saya sendiri lebih suka reviewnya bung Anwar yang bisa di lihat disini.

Karena sudah ada ulasan lengkapnya, jadi saya tidak akan mencoba menyinggung lagi isi ceritanya. Yang ingin saya angkat disini, adalah pandangan saya terhadap buku ini.

Gaya penulisan yang, hm... lepas dari rel, membuat buku ini susah untuk disukai -- tidak swinging. Mungkin ungkapan Andersen, nuansa kelam dan arus yang tidak nyaman, adalah yang paling tapat menggambarkan alur buku ini. Ironinya, J.M Coetzee, satu-satunya (sampai saat ini) penerima dua kali penghargaan Booker Prize, membuat saya penasaran terhadapt buku ini.

Ada suatu hal yang susah diungkapkan dari penulis-penulis yang mendapat pengakuan publik secara internasional. Mereka sangat pandai menangani plot. Alur cerita tidak ada yang ganjil, dan walaupun kalimat demi kalimat susah untuk di cerna, namun tidak ada yang janggal,
not a single note is false; every sentence is perfectly calibrated and essential (Publishers Weekly).

Selain itu watak setiap tokoh begitu kuat. Seolah tokoh-tokoh tersebut menari dimata saya. Ya, kamu boleh bilang saya hiperbola, tapi itu kesan yang muncul dibenak saya.

Setiap orang memiliki harsarat dalam dirinya, dan tidak berdosa memilik hasrat -- seliar apapun hasrat tsb. Tapi melemparkan kontrol sosial kita pada sebuah hasrat adalah hal yang tidak bertanggung jawab. Kita memang tidak bisa dikebiri karena hasrat yang kita punya, namun saat ego, bahkan id, menganggu hak orang lain, sudah sewajarnya superego berdiri sebagai tembok, melindungi kepentingan orang lain.

Berita baiknya, tokoh utama diakhir cerita dapat menerima aib tsb sebagai bagian dari hidupnya. Bagian yang paling saya suka, saat Lurie meminta maaf kepada keluarga
Isaacs. Memang dia tidak minta maaf karena perasaannya, karena cintanya (tentu saja, cinta tidak membuat orang berdosa). Namun karena cintanya sudah menyebabkan keluarga Isaacs menderita.


  • Setiap orang di takdirkan baik adanya. Jadilah orang baik, walaupun dunia menjadi tidak baik.
  • Setiap orang memilik aib, yang membedakan sampai sejauh mana hal itu bisa disebut aib.
  • Aib tidak membuat oran menjadi hina, hanya membuat orang belajar lebih banyak tentang hidup.

1 comments:

andreas iswinarto mengatakan...

kawan, berdasarkan penelusuran yang saya lakukan terdapat 68 buku terjemahan Indonesia karya 20 orang pemenang hadiah nobel sastra. lebih lanjut silah kunjung http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/02/karya-karya-terjemahan-pemenang-nobel.html

semoga info ini berguna.

Posting Komentar